Archive

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke -75

Hari ini Senin, bertepatan dengan peringatan ke-75 hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah suasana pandemi covid-19 yang sama sekali tidak terduga sebelumnya kita secara otomatis menyesuaikan dengan keadaan, jika ingin tetap sehat tentunya.

Saya sudah hampir sebulan lebih di Jakarta. Bukannya tidak ingin pulang ke Makassar, kerjaan dan masih ada ketakutan saat naik pesawat di tengah pandemi membuat saya tidak berpikir untuk pulang dalam waktu dekat ini.

Saya jadinya banyak melakukan aktivitas sendiri, menjadi rutin berolah raga ringan dan yoga juga makan makanan yang kata orang kota sehat. Walaupun sebenarnya makanan sehat itu ada di kampung, yang langsung dipetik dan diolah. Untuk pekerjaan karena tidak terpengaruh lagi dengan rutinitas waktu kerja, saya seperti orang yang moody. Kalau mau kerja ya kerja kalau gak ya gak. Untungnya saya tetap bisa konsisten dengan target yang saya tentukan sendiri.

Masya Allah, inilah kemerdekaan yang saya rasakan. Coba saja kita membayangkan peristiwa sebelum merdeka. Pastinya orang-orang hidup dalam ketakutan, makan pun belum pasti. Apalagi mau memilih apa yang dikerjakan, tidak akan banyak pilihan selain untuk hidup saja cukup.

Sayangnya di era kemerdekaan ini, untuk menghargai hidup saja masih kadang harus diingatkan oleh orang lain. Pikiran kita terlalu banyak dipenuhi oleh apa yang dilakukan oleh orang di sekitar kita. Sosial media yang menjamur membuat kita selalu membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Ini sepertinya bakalan jadi penyakit. Ya bagusnya jika menjadi motivasi untuk berbuat lebih baik lagi. Tetapi kadang keadaan nikmat orang lain itu diperoleh dengan instan. Orang-orang yang terlahir di keluarga berada, yang terlahir cantik atau ganteng, beberapa hal memang tidak mudah kita bisa mengubahnya. Tetapi itu bukan fokus yang sebenarnya. Karena dengan memperhatikan itu kita jadi lupa bahwa kita ini hidup. Hidup yang bebas berkeinginan dan berpendapat yang diperoleh dari jasa-jasa para pejuang yang telah gugur mempertaruhkan nyawanya untuk kebebasan ini.

Silahkan bebas berkreasi tetapi jangan sampai membuat kita menjadi iri terhadap orang lain. Selalu hargai hidup ini dan nikmati setiap detik yang diberikan.

Merdeka!

#catatanrenungantahun2020

Rasisme di Sekeliling Saya

Sejak kecil saya sudah sering mengalami bullyan soal ras. Saya terlahir half-blooded Chinese-=Makassar. Dari ayah saya mendapatkan marga dan dari ibu saya mendapatkan rasa kecintaan terhadap suku Makassar. Rasisme bukan sekadar soal asal-usul.  Agama pun menjadi salah satu unsur identitas yang sangat mempengaruhi perilaku orang terhadap sesama.

Saya sebenarnya tidak yakin, bahwa kami semua sekeluarga pada dasarnya mendapatkan hidayah untuk bisa ikut menjadi umat Katolik di lingkungan kami. Tetapi sepertinya itu adalah salah satu cara untuk bisa diterima dalam lingkungan tertentu. Menjadi half-blooded sebenarnya tidak mudah. Kami seperti tidak bisa diterima di area manapun. Keluarga ayah yang merupakan keturunan murni dari China menganggap kami seperti orang luar, apa lagi kami tidak mempunyai kekayaan yang bagi keluarga China merupakan suatu bekal untuk bisa bergabung dalam komunitas yang disebut keluarga. Sebagai orang Indonesia dalam hal ini Makassar, kami pun dianggap tidak dapat masuk karena sudah terkontaminasi dengan darah China. Situasi pelik.

Mungkin atas rasa kesendirian itu akhirnya ibu saya menyekolahkan kami di Sekolah Katolik. Sekolah yang sepertinya bisa menerima kami apa adanya tanpa ada penghalang ras. Agar bisa diterima. Tapi benarkah demikian?

Rasisme ini memang sangat dalam melekat di hati masing-masing orang, menurut saya. Walaupun seseorang menyatakan dirinya sebagai seorang humanis, sadar atau tidak dia kadang menampakkan identitas yang seakan membelah humanisme yang diyakininya itu.

Saya ingat ketika masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak. Kejadian yang tidak akan saya lupakan selama otak ini masih dapat menyimpan dan mengingat kenangan yang terjadi. Ketika itu saya masuk kelas siang. Seperti biasa sebelum kelas dimulai kami pasti bermain-main dengan teman sekelas. Ada seorang teman yang kalau bicara suku kemungkinan orang Flores. Gurunya pun orang Flores. Seorang ibu dengan badan extra large yang menjadi guru pengganti. Ketika bermain saya mengayunkan tas dan tidak sengaja mengenai muka teman tersebut. Tepat di saat ibu guru itu memasuki kelas. Dia marah besar. Saya tidak paham, bermain memang beresiko tetapi ketika saya dan teman-teman sekelas harus diusir dan dipindahkan ke kelas lain karena dia tidak mau mengajar membuat saya bingung. Saya sepertinya sampai pipis di celana ketika masih merasakan rotannya memukul kepala saya. Tapi itu tidak sesakit saat saya mendengar kata-katanya, “Dasar orang China,” Oh my God, bahkan di tempat yang kami rasa akan menerima kami pun kami mendapatkan perlakuan seperti itu.

Kemudian saya menjadi mualaf, saya seperti diterima dengan saudara-saudara yang beragama Islam. Sebagai seorang yang terselamatkan dan menjadi bagian dari umat muslim. Sebenarnya bukan itu tujuan saya, walaupun itu menjadi kelebihan ketika saya bekerja atau bergaul. Tetapi saya ingin orang-orang menerima saya sebagai manusia, bukan dengan melihat bendera apapun yang ada pada saya saat ini. Apakah jika saya convert mereka akan bersikap yang sama? Wallahualam…

Lalu saya bertanya, apa gunanya identitas ini jika akhirnya akan saling menyakiti orang satu dengan yang lain. Menurut Sadhguru, yogi yang akhir-akhir ini selalu saya dengar perbincangannya dengan para pemuda di India, mengatakan. Intelektual manusia akan secara otomatis memproteksi identitas yang ada pada dirinya masing-masing. Lalu bagaimana cara menghindari itu? Kadang memang tidak sadar kita mengungkap siapa diri kita dengan sikap yang kita tunjukkan. Apakah harus kita kehilangan intelektual agar kita bisa saling menerima dan saling menyayangi?

Trevor Noah, dalam bukunya menceritakan tentang apartheid yang ada di negaranya ketika dia berumur 5 tahun. Kalau membaca buku ini saya masih bisa bersyukur dengan kadar rasisme yang saya terima di Indonesia sejak saya dilahirkan.

Rasisme ini memang sulit untuk ditiadakan. Mungkin juga karena animal insting yang masih ada pada diri kita, mencoba melindungi komunitas sendiri, menyerang kelompok lain, menjadi yang terbaik di antara semua.

Tidak ada kesimpulan di tulisan ini, sekadar menyampaikan bahwa saya masih bergulat dengan bagaimana usaha saya untuk menghilangkan segala label yang ada pada diri ini, selain saya sebagai ciptaan Tuhan.

Doktrin Agama dalam Kehidupan Saya

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan yang terjadi di Sibolga, Sumatera Utara beberapa hari yang lalu. Seorang ibu dan anak-anaknya berada dalam kepungan polisi yang berusaha membujuknya untuk menyerahkan diri. Dia bukan sumber dari permasalahan yang terjadi. Menjadi bagian dari keadaan tersebut mungkin takdirnya. Mungkin juga adalah jalan yang dipilihnya. Saya sedih membayangkan bagaimana anak-anaknya yang tidak mengerti pun ikut sebagai korban akibat keputusan ibunya. Mungkin saat itu tidak ada lagi pikiran jernih. Atau mungkin bagi istri terduga teroris ini malahan itulah pikiran yang sejernih-jernihnya, karena kabar yang terkini yang beredar adalah dia sudah menjadi ahli dalam membuat bahan peledak, dan meyakini bahwa bom bunuh diri adalah jalan yang tercepat untuk mencapai surga.

Apakah surga itu sebenarnya? Apakah benar itu yang akan kita tuju? Suatu tempat ataukah keadaan? Sampai sekarang saya tidak bisa percaya bahwa saya akan ke surga jika menciptakan neraka bagi orang lain.

Saya paling ngeri terhadap doktrin atau paham-paham yang bagi saya tidak dapat saya olah dengan akal saya. Sebagai seorang perempuan, saya merasa lebih banyak menggunakan logika daripada perasaan. Pengalaman hidup yang saya lalui memang tidak mudah dalam menghadapi konsekuensi doktrin agama ini. Dan itulah juga yang membuat saya tetap mencari nilai spiritual yang merupakan pengalaman pribadi dan hak saya sendiri. Walaupun dengan itu banyak yang harus saya korbankan. Tapi itulah pilihan.

Yang menakutkan adalah bagaimana doktrin ini bisa dengan mudah masuk ke dalam diri kita. Saya mengidentifikasinya sebagai berikut

1.  Kelompok yang homogen

Pada kelompok yang homogen, membuat kita dapat merasa lebih baik daripada orang lain. Saya ingat ketika saat saya masih ikut dalam kegiatan-kegiatan agama yang tidak dapat saya tolak karena alasan keluarga dan lingkungan. Informasi-informasi mengenai agama lain sangat diproteksi. Jika tidak langsung disebut bahwa itu adalah kesalahan, sehingga kita tidak punya keberanian untuk mengeksplorasi informasi tersebut

2. Imam atau pemimpin

Pimpinan kelompok punya peran besar dalam mempengaruhi anggotanya. Keyakinan yang dimiliki haruslah lebih besar dari anggotanya sendiri. Memang pemilihan sosok pemimpin ini adalah karena kelebihannya. Tetapi bagi saya semua orang punya motivasi dalam melakukan sesuatu. Dan motivasi ini penting bagi saya sehingga saya tidak mudah mengiyakan apa yang dikatakan orang. Saya tidak akan mudah mengagungkan seseorang, tetapi adalah pemikiran dan tindakannya yang akan saya contoh jika saya merasa itu yang harus saya ikuti.

3. Ketakutan

Satu yang paling jelas pada kelompok yang menggunakan doktrin untuk kepentingan apapun menjual ketakutan. Jika takut orang pasti akan melakukan apa saja. Surga dan neraka, dosa dan pahala semua membuat kita menjadi  harus melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena asbab itu. Bagi saya adalah penting menganalisa setiap tindakan dan indikator yang saya gunakan adalah manfaat dan mudharat. Bagi saya itulah dosa dan pahala atau bahkan surga dan neraka. Saya tidak akan melakukan sesuatu dengan alasan imbalan tersebut. Untuk itu urusan Sang Pencipta dan saya tidak ingin melakukan sesuatu atas dasar ketakutan. Tetapi resiko terhadap tindakan sangat penting untuk disadari sehingga itu yang menghindarkan saya dari berbuat sesuatu yang merusak.

4. Refleksi

Memperbanyak refleksi adalah cara menghalau paham yang baru bagi kita. Adalah hak diri sendiri untuk menentukan jalan, ini bagi orang yang berani keluar dari 3 hal yang sudah saya sebutkan di atas. Diperlukan pembelajaran yang lebih banyak sehingga berbagai refernsi membuat kita lebih yakin dalam memilih sesuatu. Akal sudah dikaruniakan untuk kita sehingga saya tidak kuatir jika itu yang menjadi alat yang sudah disediakan pada manusia yang merupakan kelebihan dari mahluk hidup yang lain.  Selain itu perlu keberanian dan siap dengan resiko untuk mengambil tindakan jika tidak sesuai dengan kesimpulan yang kita dapatkan dan kita yakini.

Saya belajar untuk tidak menilai sesuatu itu baik atau buruk, saya akan memilih sesuatu yang menurut diri nyaman untuk saya jalankan dan memberikan kenyamanan dan kebahagiaan dalam diri saya. Apa yang saya pilih adalah bukan berarti yang terbaik dan yang lain adalah buruk. Selama saya bisa membuat diri saya dalam keadaan nyaman itulah saat saya berbagi dan bisa bermanfaat untuk mahlkuk ciptaan Tuhan yang lain.

Semoga saya tidak termasuk dalam kelompok yang ketakutan dalam menjalani hidup. Apa yang menjadi aturan dari alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan sudah tak dapat ditolak. Tinggal bagaimana saya saja menjalaninya dengan penuh kesyukuran. Kalau memang mau kiamat seperti yang digembar gemborkan di satu daerah di Jawa Timur itu terjadi, hijrah kemana pun juga akan sama. You can not run away from what will happen to you. Just embrace it.

Be yourself

Lady Gaga adalah bukan idola semua orang tapi apa yang telah diraihnya bisa memotivasi pribadi-pribadi yang lain dalam mengejar impian.

Saya juga bukan penggemar fanatik Lady Gaga, tetapi beberapa karyanya sudah saya nikmati dan membuat hati saya menjadi riang, dia berhasil menghibur saya. Tetapi dia memang bukan artis biasa, terkadang apa yang dilakukannya sangat kontroversial. Khususnya dari cara dia berpakaian dan bersikap. Baginya aktualisasi diri itu tidak merupakan platform dari orang kebanyakan. Dan itulah yang membuat dia unik dan mudah untuk dikenali.

Saya masih ingat ketika dia menjadi bahan olok-olokan saat berpenampilan di Sunday’s Super Bowl di Houston tahun 2017 silam. Tidak seperti artis kebanyakan, malam itu Lady Gaga tampil dengan timbunan lemak yang berada di perutnya yang menjadi perhatian netizen. 

Seperti biasa, netizen dengan kebebasan seluas-luas yang dimilikinya, dengan mudah dapat mengeluarkan pendapat yang kadang sampai tak menghiraukan bagaimana orang lain menerima pendapat tersebut. Perut yang jadi celaan, karena tidak dianggap umum seperti yang diharapkan dari penampilan selebriti wanita dengan perut rata dan berotot. Karena pembicaraan itu Lady Gaga membuat pernyataan di Instagram-nya. “Aku ingin mengatakan bahwa aku bangga dengan tubuhku, dan kalian harus bangga dengan tubuh kalian juga”.

Yang sangat sering kita alami adalah membuat diri kita tenggelam dalam ‘keinginan’ masyarakat. Baik dan buruk seakan sudah terpola. Ini yang terkadang membatasi diri kita berekspresi. 

Belum lagi bisa depresi, hanya karena orang-orang dengan pendapatnya sendiri menghakimi pribadi kita. Sangat disayangkan jika terjadi. Pribadi adalah milik diri sendiri. Apapun yang dipikirkan dan ditasakan adalah hak prerogatif. Kecuali jika sudah berinteraksi dengan orang lain, tatanan sosial memang dibutuhkan. 

Percaya atau tidak penentuan cita-cita pun diatur para orang tua kita dan lingkungan. Sedari kecil kita punya beberapa cita-cita yang umum, jadi dokter, insinyur, tentara atau polisi. Seakan-akan jika tidak memilih salah satu dari itu kita tidak dianggap sukses. Mungkin juga Lady Gaga menentukan impian menjadi artis karena platform ini. Tetapi dia punya cara tersendiri untuk meraihnya

Dan di tahun ini, Lady Gaga memenangkan Golden Globe yang menjadi dambaan setiap artis. Karyanya dalam menciptakan lagu yang menjadi sountrack dari film A Star is Born membuat penghargaan ini menjadi kali kedua setelah di tahun 2016 dengan kategori yang berbeda.

Saya selalu kagum jika seseorang mampu menjalani hidupnya dengan ‘berbeda’ dan dia menikmatinya. Semakin dia bereksplorasi semakin uniklah dia. Saya mungkin terlambat menyadari ini, tetapi saya tetap bersyukur karena ini yang bisa saya terapkan ke anak-anak saya. Satu yang tidak lelah saya ingatkan adalah jadilah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Itu saja. Selebihnya silahkan mengeksplorasi apa yang menjadi keinginan dan bisa membuat diri sendiri merasakan kebahagiaan.

ReplyForward

Pipit, semut yang di seberang lautan

“Saya jengkel sekali sama Pipit ini, merapat terus ke Ahok”, isi chat seorang teman di WAG setelah salah seorang teman lainnya memasukkan foto Ahok bersama keluarganya. Di foto itu juga terlihat Pipit, yang kabarnya adalah calon istri Ahok, berdiri dengan senyum manis di sisinya.
“Bajunya tidak pantas, belahan dadanya sampai kelihatan bukannya menjaga aurat itu penting?”, timpal yang lain


Saya tersenyum dan mencoba maklum. Begitulah perasaan wanita secara umum jika mendapatkan kabar mengenai adanya pengganti atau  bahkan orang ketiga dari pasangan yang dulunya dipercaya adalah pasangan harmonis. Ahok dan ibu Veronika adalah pasangan serasi di masanya, masa semua orang terpukau dengan setiap kabar kegiatan yang dilakukan oleh mereka berdua sebagai pasangan Gubernur DKI Jakarta.

Ahok atau yang sekarang dipanggil BTP sesuai keinginannya, adalah sosok yang memang dipuja banyak orang dan sekaligus juga dibenci banyak orang. Sikapnya yang kontroversial sangat mengganggu bagi orang-orang yang mungkin tidak terbiasa dengan kata-kata kasar. Namun integritasnya terhadap tugas dan tanggung jawabnya tidak diragukan. Bagaimana dia bisa berkata tegas dan apa adanya membuat banyak yang bersimpati dan jatuh hati. Apalagi dalam perjuangannya dia harus tersandung lisan dan berakhir dengan diambilnya kebebasan pribadinya selama dua tahun. Tetapi yang dialaminya, bagi sebagian orang malah dianggap sebagai hero

Namun hidup sesungguhnya tak seperti cerita dalam dongeng.  Perceraian dengan istrinya yang bisa saja menambah simpati orang akhirnya buyar karena dia memilih mantan ajudan istrinya sebagai calon istrinya, selepas keluar dari penjara. Ini seperti film drama yang ending-nya tidak sesuai dengan keinginan penonton.

Sayangnya, bagaimana pun keadaan pasangan tersebut yang selaku disalahkan adalah perempuan. BTP tetap adalah seorang sosok yang dipuji, tetapi dirasa sayang karena jatuh dalam “godaan” mantan ajudan istrinya. Perempuan memang selalu menjadi korban, baik dalam  kasus pelecehan, prostitusi atau lainnya.Yang pasti salah adalah perempuan ini pemahaman umum masyarakat bukan berbicara soal keadilan.


Saya tidak mau menghakimi siapapun, karena saya juga bukan seorang hakim dan saya adalah hanya bagian kecil dari drama kehidupan. Saya tidak bisa dengan mudah mencemooh orang lain seperti teman-teman saya yang lain. Mungkin disebabkan kekuatiran saya terhadap diri saya sendiri, karena saya pun tidak luput dari kekurangan.


Mata ini memang diciptakan mengarah ke luar, melihat hal-hal yang sifatnya materi.  Dan ini memungkinkan kita membenarkan arti pepatah. Sekarang Pipit menjadi seekor semut di seberang lautan, segala hal yang berkenaan dengan dia sudah tidak terlihat baik. Fokus kita terhadap kesalahan orang lain sangatlah nyata, sementara kita sendiri kadang lupa akan kekurangan kita.

Saya lebih memilih diam, mengamati dan mendoakan. Kenapa demikian? Karena saya kekurangan data untuk bisa mengerti dan memahami kenapa masing-masing pribadi yang terlibat mengambil tindakan atau keputusan seperti itu. Andai kata ada sutradara yang mampu mengemas secara lengkap bagaimana kisah hidup sebuah keluarga, mungkin kita akan memilih manggut-manggut dari pada mencemooh. Tetapi tidak ada data selengkap yang dimiliki oleh Zat yang berkuasa. Jadi cukuplah kita diam, merenung dan mendoakan semoga siapa pun yang terlibat dalam drama ini bisa berbahagia, menyadari pilihannya dengan segala konsekwensinya dan bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

Pipit sekarang yang menjadi bulan-bulanan para wanita, mohon bersabar karena adalah benar tak ada pilihan tanpa konsekwensi. Selamat melanjutkan drama kehidupan


Gali Lubang Tutup Lubang

Walau makan sederhana (Makan nasi sambal lalap)
Walau baju sederhana
(Asal menutup aurat)
Walau makan sederhana
Walau baju sederhana
Walau serba sederhana
Asal sehat jiwa raga
Dan juga hutang tak punya
Itulah orang yang kaya (hi-hu)

Bela-belain cari di google search lirik bang Haji Rhoma nih, saya tahu ada lagu yang berjudul Gali Lobang Tutup Lobang, tapi baru kali ini menyimak liriknya.

~~~

Salah seorang teman ditimpa kemalangan, sepertinya kesulitan keuangan karena kondisi yang kemungkinannya besar pasak dari pada tiang. Yang menjadi masalah adalah kemalangan ini mulai merambah ke mana-mana.  Hampir semua orang yang dikenal dihubungi untuk dimintai pinjaman.  Awalnya saya bersimpati, tetapi rupanya perhatian yang diberikan itu tidak terbalas sesuai harapan. Janji tinggal janji dan akhirnya malah merusak kepercayaan yang ada sebelumnya. Beruntung kalau cuma saya yang merasakan tapi jika dirasakan oleh kesemua teman yang membantunya ini bukan menyelesaikan masalah, tetapi lebih mempersulit dirinya.

Sepertinya hampir semua kita pernah mengalami masalah keuangan. Jadi sepatutnya kita banyak belajar agar tidak terjerat pada keadaan yang tidak menyenangkan. Saya pun demikian, jeratan dari kartu kredit yang dulu saya miliki. Sepertinya gaya hidup dan tidak disiplin pada diri adalah penyebab utama. Salah dalam menentukan kategori “butuh” dan menempatkan keinginan sebagai suatu hal yang harus dipenuhi.

Manusia memang tidak terlepas dari kata ingin. Mungkin atas dasar itu dalam beragama kita dilatih untuk mengendalikan nafsu atau keinginan. Seseorang pernah berkata, cara paling mujarab untuk menekan keinginan adalah dimulai dari perut. Itu latihannya.

Jika berbicara tentang diri sendiri mungkin memang sedikit lebih bisa dikendalikan, yang bisa lebih memberatkan adalah jika keinginan anggota keluarga kita. Seperti seorang ibu yang ingin memenuhi segala keinginan anaknya agar mereka bisa senang dan puas. Saya pun demikian memiliki perasaan seperti itu. Tetapi saya pun belajar mengendalikannya. Tidak semua yang diminta oleh anak-anak itu baik bagi mereka. Saya malahan berpikir mereka harus tahu kondisi dimana ada permintaan atau keinginan yang tidak atau belum terpenuhi. Belajar untuk bersabar.

Yang paling utama selain hidup sesuai dengan pendapatan adalah “Jangan membayar hutang dengan berhutang”. Ini pantangan bagi orang yang benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan hutang. Lubang yang digali akibat menutup lubang yang lain akan lebih besar dan semakin besar. Disiplin dan mampu merencanakan dengan baik. Daftar prioritas tentang kebutuhan sangat penting, sehingga pengeluaran bisa dikendalikan agar tidak lebih besar dari pendapatan. Dan yang utama pula adalah menjaga kepercayaan kepada siapa pun. Jangan merasa mudah untuk meminjam, karena meminjam bukan solusi.

Semoga setiap orang yang kesulitan diberikan kemudahan dalam menyelesaikannya tidak dengan menutup lubang dengan menggali lubang yang lebih besar.

Pahlawan bagiku

Selama ini saya mengenal pahlawan yang dulu gambarnya terpampang di diding kelas saat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar. Tugas kita adalah menghapal nama dan dari daerah mana pahlawan tersebut berasal dan berjuang hingga gugur demi untuk bangsa dan negara. Seperti pelajaran biasa, menghapal dan menunggu untuk bisa menjawab soal dalam ujian.

Baru baru ini saya ke Ambon, Maluku. Seperti umumnya para pejalan kami singgah di spot-spot yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk memperkenalkan daerahnya. Salah satu spot yang sangat berkesan bagi saya adalah Monumen pejuang Christina Martha Tiahahu.

Terletak di daerah bukit Karang Panjang, di area monumen terdapat patung yang menurut saya sangat gagah untuk seorang wanita muda. Patung yang menghadap ke laut dengan posisi berdiri tegak dengan memegang tombak, sangat heroik. Saya penasaran, siapa sebenarnya wanita yang terkesan tidak kenal takut ini? itu karena dulu saya hanya mendapatkan informasi mengenai nama dan daerah asal saja tanpa tahu cerita kepahlawanannya.

Christina Martha Tiahahu dilahirkan di desa Abubu pulau Nusalaut dekat Maluku tahun 1800. Ayahnya seorang kapten, Paulus Tiahahu. Dikarenakan ibunya berpulang saat dia masih kecil, Christina dibesarkan oleh ayahnya dan mengikuti ayahnya kemana pun ayahnya pergi bahkan ke medan pertempuran.

IMG_20151014_155946

 

Diawal tahun 1871 Christina dan ayahnya bergerilya dalam perang melawan Pemerintah Kolonial Belanda, Mereka bergabung sebagai tentara Pattimura, pejuang besar dari Maluku. Perjuangan yang membuat Belanda banyak mengalami kekalahan, bahkan Christina melawan tentara Belanda dengan menggunakan batu yang dilempar. Namun di bulan Oktober perlawanan mereka terhenti karena ditangkap oleh Belanda.

Karena usianya yang masih muda, Christina tidak dihukum namun dipenara di Benteng Beverwijk sementara ayahnya dieksekusi mati. Setelah melarikan diri, Christina melanjutkan perang melawan penjajah. Tetapi akhirnya dia tertangkap kembali. Dalam perjalanan pembuangan dirinya ke Jawa, Christina jatuh sakit dan dia menolak makan dan meminum obat-obatan. Akhirnya dia gugur di usianya yang terbilang sangat muda sebagai pahlawan, 18 tahun.

 

Bagi saya kisah heroik ini benar-benar menggugah. Semangat juangnya sangat terasa, saya malah mengambil gambar dan menjadikannya sebagai wallpaper, sekadar mengingatkan saya bahwa seorang wanita pantang merasa takut, harus berjuang untuk kebenaran yang diyakininya, di mana pun dia berada.

Saya juga kagum kepada pemerintah daerah di kota Ambon yang sangat pas menempatkan monumen Christina Martha Tiahahu.  Daerah lain mungkin masih perlu menyelami arti kepahlawanan para pejuang daerahnya dan memikirkan visualisasi yang tepat untuk mewakilkan ketangguhan para pejuang terdahulu.

Semoga semangat para pahlawan bisa kita resapi dan diaplikasikan dalam setiap kegiatan kita. Yang paling pasti adalah mendapatkan contoh integritas dan keteguhan yang mereka miliki, tidak goyah oleh godaan apapun, selain apa yang menjadi tujuan utama. Merdeka.

Selamat Hari Pahlawan, para pahlawan

Pilih 21 atau 27

Tersebutlah kisah di suatu zaman, di suatu saat dua orang murid yang bertengkar hebat hanya karena mempermasalahkan 3 x 7 itu hasilnya berapa?

Si murid A mengatakan sudah pasti 3 x 7 itu 21 karena itu yang dia pahami dan dia merasa benar sebenar benarnya. Si murid B mengatakan sudah pasti  3 x 7 itu 27 karena itu yang dia pahami dan dia merasa benar sebenar benarnya.

Mereka bertengkar hebat, tidak ada yang mau mengalah karena keduanya merasa benar sebenar benarnya.

Muncullah ide dari si A, “Bagaimana kalau kita tanyakan ke guru, karena guru pasti yang lebih tau yang mana yang benar”.  “Ayo!”, kata si B dengan yakinnya. Akhirnya mereka berdua menghadap ke sang guru yang terkenal sangat bijak.

“Maaf Guru, kami sudah berdebat dari tadi, B bilang 3 x 7 adalah 27, padahal kan yang guru ajarkan tidak demikian. Saya sudah memberitahunya hasilnya adalah 21 tetapi dia masih berpikir saya salah”.

“Iya guru, masak si A bilang 3 x 7 itu 21. Saya sudah bilang itu yang paling benar bahkan saya sudah bilang potong kepala saya kalau saya salah, eh dia masih tetap ngotot.”

Sang guru terdiam, kemudian dengan pelan dia berbicara. “B, kamu benar tidak usah dipermasalahkan lagi. A kamu dihukum karena kamu salah”.

B dengan riang berjingkrak-jingkrak dan pergi meninggalkan sang Guru dan A yang kebingungan. Kenapa dia disalahkan? dia yakin benar terhadap apa yang disampaikannya jika mengajukan bukti-bukti pun bisa. A memandang gurunya dengan bingung sambil menunggu dengan patuh hukuman yang akan disampaikan oleh sang Guru.

“A, guru menghukum kamu bukan karena persoalan 3 x 7, tetapi guru menghukum kamu karena kamu tidak pandai memilah dan memilih dengan siapa kamu berdebat, bahkan kamu hampir saja membunuh orang yang mempertaruhkan kepalanya hanya karena kebodohannya.”

—————–

Semoga menjadi renungan untuk kita semua

 

 

 

 

 

Kerja untuk Mahluk

Pernah gak kita merasa hasil kerja kita tidak dihargai? Pernah gak kita merasa dijelek-jelekan terus dengan kerjaan yang dulu-dulu?

Saya pikir di dunia kerja semua itu bisa terjadi. Jangankan pekerjaan yang tidak dilakukan dengan benar, yang sungguh-sungguh kita usahakan pun bisa dianggap tidak ada apa-apanya.

Beberapa hari lalu saya tersinggung, karena perkataan salah seorang pimpinan saya. “Itulah kenapa saya tunjuk dia (seorang konsultan di luar dari management) untuk bisa menyelesaikan persoalan ini. Coba saja sudah berapa orang yang kerja …, … dan …. termasuk Lily, tidak ada yang selesai.”

Nyessss.. hati ini rasanya gimana gitu, langsung deh rasanya galau tingkat tinggi. Saya tidak mau membela diri cuma saya merasa agak kurang bijak saja menyampaikan itu di depan kami-kami semua. Dan sebenarnya semua punya andil mengerjakan pekerjaan tersebut cuma kebetulan akhirnya saja yang pada posisi “selesai” dan itu sudah diakui sebagai hasil kerja yang sempurna. Saya mikir juga biaya yang dikeluarkan untuk orang luar tersebut tidak sedikit, belum lagi fokus kerjanya cuma itu. Banyak sekali alasan-alasan yang muncul di kepala gara-gara pernyataan tersebut, biasalah manusia selalu gak pernah mau disalahkan.

Nah itu baru di kepala, di hati lain lagi. Saya malah sudah kepikiran yang aneh-aneh. Saya merasa apa apa yang sudah saya lakukan tidak ada artinya. Nyesek kan… Sampai saya berpikir ya sudah, ternyata managemen hanya menganggap saya seperti itu. Tak berguna

Muncullah niat untuk mengajukan pengunduran diri, berpikir untuk mencari pekerjaan lain dan sebagainya hanya karena perasaan kecewa.

Nah kecewa!

Beruntung sepanjang perjalanan saya berpikir, setelah dapat wejangan yang benar-benar menyentuh hati yang paling dasar. “Allah tidak akan berhenti menguji kita dari orang-orang di sekitar kita.”

Benar juga, kenapa saya yang harus bersikap lebay seperti ini? Bukannya saya harus mengerti apa maksud yang disampaikan oleh yang bersangkutan. Apalagi saya tahu ada kepentingan di baliknya. Lalu kenapa saya harus galau? Kenapa harus kecewa.

Terlepas dari hal tersebut, saya jadi menyadari, kembali menyadari bahwa seharusnya pekerjaan yang saya lakukan harusnya bernilai ibadah di mata Allah. Lalu jika saya masih memikirkan kesan dari mahluk lain terhadap apa yang saya kerjakan artinya niat tersebut sudah bergeser. Astaghfirullah saya harus memperbaiki hati dan pikiran saya. Tidak pantas hati saya menjadi galau hanya karena kesan seorang mahluk, kerisauan saya seharusnya hanya jika saya kurang beribadah, tidak melakukan semuanya karena Allah.

Alhamdulillah saya merasa jadi lebih enteng, saya tidak peduli lagi dengan kesan atau pendapat yang ada. Saya cukup menjaga niat saja, bekerja sebaik-baiknya untuk kepentingan perusahaan dan saya tetap harus belajar. Jadi jika ingin bekerja untuk mahluk siap siap merasakan hal yang saya sampaikan di atas 🙂

 

Ganbatte!

Everest Puncak Kehidupan?

Nonton film yang penuh pelajaran itu sangat berarti, apalagi jika didapat dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri

Mendaki gunung? itu tidak ada dalam kamus saya. Selain takut ketinggian, saya malah menikmati gunung dari jarak pandang tertentu. Terakhir saya “mendaki” gunung Bromo dengan mobil hardtop, itu sudah membuat kenangan akan ketakutan yang tidak menyenangkan apalagi jika Gunung Everest.
Gunung Fuji pun saya daki dengan menggunakan mobil, tidak ada struggle yang harus melibatkan fisik, malah saya menikmatinya dengan mendengarkan lagu dari Matsuyama Chiharu yang sangat pas dengan suasana musim gugur waktu itu.
Everest memang adalah titik tertinggi dari daratan yang ada di dunia. Tinggi gunung ini adalah sekitar 8.850 meter, walaupun ini masih menjadi perdebatan antar negara dimana kaki kaki everest berada. Perbedaan pendapat ini menurut para ahli juga dimungkinkan karena puncak everest yang terus bertambah seiring dengan perubahan kontur bumi.
“:Unlike many mountain-disaster stories, this is the kind that makes you never want to look at a mountain again”. Nah, apalagi bagi saya. Film yang didasarkan dari kisah nyata yang berakhir tragis ini terjadi tahun 1996 tanggal 10 Mei. Seharusnya menjadi hari kemenangan bagi beberapa orang yang telah membayar $65.000 untuk mengikuti ekspedisi ini bergabung dengan Adventure Consultant. Tetapi alam meminta bayaran lebih mahal lagi, nyawa dari beberapa orang pendaki dan menjadikan jasadnya abadi sebagai lambang keagungan Everest.
Dalam perjalanan tragis ini, banyak lempengan kisah-kisah kecil yang menggugah. Pengorbanan, persahabatan, keberanian dan tekad. Rob Hall sebagai penanggung jawab dari expedisi berbayar ini tergambarkan sangat bertanggung jawab. Dia bahkan rela untuk mendaki kembali setelah mencapai puncak hanya untuk memenuhi keinginan salah satu pendaki yang membawa aspirasi dari anak-anak sekolah. Namun sayang keputusan ini pula yang membuat pendakian ini menjadi kisah tragis.
Dalam setiap pendakian, pengambilan keputusan adalah sama dengan memilih antara hidup dan mati. Jika tidak dibarengi oleh akal sehat dan pertimbangan yang matang akan menjadi ritual penyerahan nyawa. Menimbang-nimbang antara ambisi akan keinginan di depan mata dengan  keadaan yang sebenarnya memang sangat berat. Apalagi di gunung, puncak pun kelihatan dekat tetapi usaha untuk mencapai ke sana berlipat ganda dari keadaan biasa.
Hidup pun demikian, kadang ada ambisi yang membuat kita buta akan keadaan yang sebenarnya. Kerja sama dengan logika dan orang-orang yang punya pengalaman terhadap sesuatu sangat berharga. Tapi apakah kita masing masing memiliki puncak kehidupan?
Saya memilih tidak. Saya tidak ingin merasakan kemenangan atau meraih puncak. Jika itu terjadi sama saja melihat para pendaki itu kehilangan tenaga dan semangat untuk kembali. Mungkin karena kembali ke kehidupan tidak semenarik melihat puncak everest lagi. Highest point sudah tertaklukkan, lalu apa lagi?
Hidup bagi saya adalah menikmati setiap saat, seperti yang disampaikan oleh Rob Hall dalam dialog di film ini. “Perhatikan langkah-langkahnya jangan perhatikan puncak gunungnya”

Tag cloud: