Archive

TSM, Tempat Semua Menyatu

Keluarga saya beragam. Dari sudut agama dan status sosial dengan saudara-saudara sangat berbeda. Walaupun sejak kecil kami memulai kehidupan dengan sumber yang sama, didikan yang sama, namun proses perkembangan pribadi dan lingkungan yang berbeda menjadikan kami menentukan arah sendiri-sendiri.

Sejak menjadi mualaf, berpindah keyakinan memeluk agama Islam, terus terang perbedaan itu terasa juga. Walaupun dari saudara-saudara lain tetap berusaha untuk bisa menyatu. tetapi tidak akan sama seperti dulu. Itu yang saya rasakan. Rasa canggung, ragu dan takut membuat ketersinggungan yang tidak sengaja tetap saja ada.

Kakak  perempuan saya yang sudah lama merantau di Jakarta memang memiliki kehidupan ekonomi yang lebih dari saya. Di saat liburan sekolah dia dan keluarga pulang ke Makassar. Bareng dengan ibu saya yang juga tinggal bersama dia dan keluarganya di Jakarta.

Saat itu di Makassar baru didirikan dengan megahnya, Trans Studio Makassar. Indoor Theme Park, sebuah tempat rekreasi yang unik dan terbesar ke-3 di dunia saat itu.

Trans Studio Makassar, 24 Oktober 2009
Trans Studio Makassar, 24 Oktober 2009

Sudah merupakan kebiasaan dari orang-orang di Makassar. Sesuatu yang baru pasti heboh. Demikian juga dengan hadirnya Trans Studio Makassar ini. Apalagi Trans Studio Makassar adalah satu-satunya theme park yang ada di Makassar ini menjadi kebanggaan kota dan masyarakat Makassar. Kakak saya pun tertarik untuk mengajak kami-kami semua mengunjungi dan bermain di theme-park yang luasnya sekitar 2,7 ha dengan tinggi 20 meter.

Saat itu kali pertama kami bermain bersama-sama. Ibu saya, kakak saya, saya dan anak-anak kami semua mengunjungi Trans Studio Makassar. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah megah. Saya sampai tidak berhenti mendongakkan kepala, memandang sekeliling melihat design interior dan bangunan-bangunan bertema yang sangat menarik.

Seketika saya sudah tidak merasakan bahwa kami datang dengan perbedaan. Kekaguman kami yang menyatu beriringan dengan keceriaan anak-anak yang begitu antusias untuk mengikuti semua permainan yang disediakan di sana.

Dari Trans City Theater hingga Dunia Lain, semua kami jelajahi. Yang paling menyenangkan bagi saya adalah Sepeda Terbang (Flying Bicycle). Disitu jelas sekali maksudnya, jika ingin diatas kita harus berusaha dan bekerja sama untuk meraihnya, begitu yang saya sampaikan ke anak-anak saya. Karena tidak ada batasan umur untuk permainan ini kami bisa bermain bersama-sama.

Flying Bicycle
Flying Bicycle

Dunia Lain adalah favorit anak-anak. Mereka menikmati rasa takut yang tercipta dunia buatan itu. Saya bahagia melihat mereka menikmatinya.

Tidak adalagi status sosial yang berbeda, tidak ada lagi agama yang hingga saat ini dijadikan pemisah antar saudara bahkan sebangsa. Trans Studio Makassar menyatukan kami. Bercanda, tertawa seakan tidak ingin berhenti. Saya masih ingat ibu saya dengan penuh kasih sayang mengingatkan anak-anak saya untuk sholat. Dan saya bersyukur tempat ibadah yang disediakan pun tidak seadanya. Kami akhirnya menghabiskan waktu dari pagi hingga malam dalam penyatuan yang membuat kami terhubung satu dengan yang lain.

Momen dimana saya melihat, seharusnya suasana kegembiraan dan bermain bersama seperti anak-anak yang tidak perlu disibukan dengan pikiran tentang batasan perbedaan. Seharusnya dunia Trans Studi Makassar menjadi dunia bagi kita semua. Dunia impian untuk bisa hidup damai dalam perbedaan.

TSM, We are connected
TSM, We are connected

Album foto menjadi bukti kedekatan kami, menjadi awal hubungan yang lebih cair di masa-masa berikutnya. Mungkin sekarang kami tetap berjauhan, tetapi kenangan ini menjadi dasar yang berkesan.  Semoga Trans Studio Makassar tetap menjadi penghubung, Tempat Semua Menyatu.

 

Menjejaki Silsilah Keluarga Melalui Nama

Ibu saya sampai sekarang menyimpan buku silsilah marga Ceng (). Marga dari ayah saya suku Hakka (Chinese). Buku itu adalah daftar keluarga yang dimiliki oleh marga dari keluarga dengan tujuan untuk tetap bisa berhubungan dengan para keluarga besar. Saya masih ingat waktu buku itu dibuat saya masih di Sekolah Dasar. Konfirmasi waktu itu hanya memakai telpon rumah saja.

Sejak ayah saya meninggal, ibu saya mulai kuatir. Kita mulai terpisah jauh dari keluarga ayah dan buku silsilah pun pasti sudah tidak terupdate dengan baik. Hubungan dengan keluarga ayah memang tidak terlalu dekat, mungkin juga karena marga hanya sedikit jumlahnya. Kekuatiran ibu saya jelas. Dua putra pembawa marga dari ayah masing masing punya putra 1, dengan demikian itu akan berlanjut terus. Karena marga Chinese dibawa oleh kaum pria.

Saya yang juga penasaran akhirnya mulai mengingat-ingat nama yang diberikan oleh ayah saya. Akhirnya dengan bekal teknologi dan om gugle tentunya saya akhirnya bisa mempunyai catatan tentang nama saya.

美兰 (Ceng Mei Lan) Marga Ceng adalah dari suku Hakka atau lebih dikenal dengan istilah Khe’. Suku ini terbilang sedikit di China. Karakter Mei yang saya kenal justru dari tulisan kanji (bahasa Jepang) yang dibaca utsukushii yang artinya lovely atau cantik. Sementara Lan menurut ayah saya artinya putri yang bungsu. Namun berdasarkan sumber lain, Lan juga bisa berarti orchid atau elegant.

Penggantian nama yang harus di Indonesiakan karena berubah warga negara menjadikan saya sebagai Lily. Saya sendiri menganggap diri saya sebagai water-lily bunga teratai yang filosofinya juga dalam.

mei-lan-sign

Dalam pencarian saya terdapat juga hal yang lucu. Nama Mei Lan ternyata juga nama seekor panda yang lahir di kebun binatang Atlanta yang berarti Atlanta Beauty. Nama Mei Lan memang lebih cocok untuk perempuan, tetapi setelah ilmuwan dari China datang mengecek, ternyata panda tersebut berkelamin jantan. Mei Lan juga menjadi Panda Ambassador untuk International NGO : World Wild Foundation dan Earth Hour

Mei lan & Mei lan
Mei lan & Mei lan

Saya juga menemukan referensi judul buku yang dikarang oleh Zeng, Lingcun,曾令存. berjudul, “Hakka (Chinese people) Chinese literature 20th century History and criticism” Menilik namanya berarti dia seangkatan dengan saya dan saudara-saudara saya. Huruf 令 (Lin) di tengah menandakan tingkatan dari silsilah. Nama tengah yang sama yang dimiliki oleh kakak kakak lelaki saya. Sepertinya buku ini akan menjadi referensi yang bagus untuk menambah wawasan saya mengenai suku Hakka.

Saya yakin, nama adalah doa yang dipanjatkan terus menerus oleh orang tua kita. Setiap kali dipanggil atau dipikirkan, kita pasti mendapat rahmat dari nama tersebut. Itu yang saya yakini. Oleh karena itu saya bersyukur nama yang diberi dan semoga harapan orang tua saya melalui nama ini akan tercapai sampai pada waktunya.

Tiada Tempat Nyaman selain Dekat Ibu

Semua bayi yang ada di kandungan pasti merasakan demikian. 9 bulan makan, tidur dalam perut ibu. Begitupun setelah kita-kita dilahirkan menjadi sosok yang mandiri. Proses melepaskan kelekatan kepada ibu memang susah, tetapi mau tak mau, seiring waktu berganti semua juga akan berubah.

Saya beruntung, walaupun saya dianggap merantau karena tidak berada di tanah kelahiran, saya masih bisa dekat dengan ibu. Karena ibu juga ikut kami merantau. Jakarta – Bekasi bukan jarak yang jauh lagi jika kita sudah sering menempuhnya. Apalagi dengan adanya commuter line. Saya dengan mudah bisa menyampaikan ke ibu saya jika saya pengen makan sesuatu.

Sebelum ke Bekasi, saya sudah mengirim pesan, mau makan ini atau itu. Dan semua bisa oleh ibu. Mungkin benar bahan makanan tidak akan sama dengan di Makassar, tetapi tetap saja saya merasakan kerinduan saya terpuaskan.

Baru-baru ini saya ke Bekasi lagi, dan ibu saya lagi getol-getolnya memasak, jadinya saya harus rela menjadi tempat penampungan hasil kreasinya. Dan ibu saya senang karena saya makan lahap, beruntung juga punya seorang anak yang ngekost, bisa kelihatan laparnya jika makan makanan dari rumah sendiri. Dan berikut hasil kerja tangan mama yang harus saya habiskan :

1. Ikan Goreng Sambel Tumis

Masakan ini makin lama disimpan makin enak saja rasanya. Begitu lihat di meja tanpa ba bi bu langsung ambil nasi sepiring, pakai tangan dan voila… begini hasilnya

satu
Sudah pasti pakai tangan makannya ^^

2. Ikan Bakar

Ikan merah ini sayangnya berukuran kecil dari yang biasa saya makan. Tapi dagingnya yang putih bikin semangat makannya. Belum lagi rasa asin di kepala karena diberi garam sedikit saat dibakar. Bakarnya pun tidak kering, dibakar di wajan dengan sedikit minyak (bekas) :p Nikmatnya…

Sambelnya sederhana saja, sambel kecap plus jeruk purut ditambah cabe rawit dan tomat. Sangat tepat kombinasi rasanya

Enak kan?
Enak kan?

3. Kroket

Nah, sebenarnya saya sudah begah kekenyangan tetapi rupanya masih ada kericuhan di dapur. Rupanya persiapan pembuatan kroket berlangsung. Saya cuma membantu menghaluskan kentang yang sudah dikukus.. hanya itu. Sisanya saya tunggu kroket yang matang 😀

Ini bahannya, kalau ditunjukin hasilnya nanti tambah ngiler :D
Ini bahannya, kalau ditunjukin hasilnya nanti tambah ngiler 😀

4. Palluce’la

Saya sudah berjanji dalam hati, tidak akan makan malam hari ini. Sudah terlalu banyak yang masuk di perut, tetapi siapa yang bisa menolak ini

Pallu Ce'la Banyara'
Pallu Ce’la Banyara’

Ikan banyar yang dimasak dengan air garam, kunyit dan serai. Sederhana tapi nikmatnya tiada duanya. Dan akhirnya membuat saya tidur dengan perut yang kenyang minta ampun.

Ke empat jenis makanan itu saya makan dalam waktu setengah hari saja. Dan keesokan harinya saya tetap menjadi pelanggan setia kuliner ibu tercinta.

5. Pepes Ikan

“Li, nia’ bainang kugappa”, begitulah ibu saya sudah lebih 10 tahun di Jakarta tetapi tetap saja menggunakan bahasa Makassar apalagi ke saya. Dengan senang dia memberitahukan bahwa belimbing sayur sekarang siap diolah sebagai bumbu pepes ikan, katanya dia lagi ngidam. Tapi efek ngidamnya bikin saya makan (banyak) lagi.

empat
Pepes ikan Banyar

6. Pallu Kanji

Makan dulu sebelum pulang, pesan ibu saya. Sebenarnya kroket yang kemarin pun masih saya embat dua biji. Alasan tidak mau makan daging merah dan sayur hijau bikin ibu saya komplain. “Sembarangan saja!”, katanya

Terpaksa dengan senang hati saya makan lagi, jam 3 sore sih sebelum balik ke kosan di Jakarta. Pallu Kanji adalah daging yang dimasak dengan tepung kanji dan sayur sawi hijau. Saya cuma berharap semoga nyut-nyut di telapak kaki tidak muncul sampai besok. Karena obat yang saya pesan sudah akan saya terima besok juga. Dan memang benar saya harusnya senang sudah menyantapnya.. puas dan kenyang rasanya. (Gak sempat difoto lagi, sudah keburu habis :D)

Alhamdulillah, tidak ada tempat yang nyaman untuk nafsu makan saya sejak dari janin hingga sekarang. Tetap saja masakan ibu saya adalah masakan terenak dari semua masakan chef di dunia. “Mau bawa pulang ke kosan? “, hihihi.. no thanks mama sudah sangat kenyang.

Semoga setiap makanan yang saya nikmati dan bersyukur menjadi doa yang tak henti hentinya, semoga ibu saya selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Amiinn..

Terima kasih mama :*
Terima kasih mama :*

 

 

Tag cloud: