Archive

Akhirnya Saya Divaksinasi

Bagi saya sebagai penyintas Covid-19, persoalan vaksin tidak terlalu menarik perhatian saya. Apalagi sudah dua kali saya memeriksakan tentara-tentara yang ada di tubuh saya setelah perlawanan dengan virus Covid-19 di awal Februari 2020 ini masih banyak. Secara kuantitatif nilainya >250. Saya berpikir cukuplah sebagai proteksi apalagi saat ini Covid-19 hadir lagi dengan istilah varian Delta dan Kappa.

Pemerintah memutuskan untuk melaksanakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat dari tanggal 3-20 Juli 2021 untuk Jawa dan Bali. Saya sedang berada di Ibukota Jakarta. Sudah pasti aturan tentang PPKM ini jadi perhatian buat saya karena pekerjaan saya adalah bertemu dengan relasi dan di banyak tempat.

PPKM Darurat (sumber: Liputan 6)

Pada poin 12,  harus menunjukkan Kartu Vaksin covid minimal dosis pertama untuk perjalanan domestik dengan moda transportasi jarak jauh seperti pesawat, bus dan kereta api. Saya belum memiliki Kartu Vaksin.

Untuk persyaratan PCR bisa dengan mudah kita penuhi, di Jakarta saya kebanyakan melakukan swab di Rumah Sakit Siloam T.B. Simatupang, selain dekat dengan domisili, layanan drive thru sangat penting di saat ini, untuk meminimalisir kontak dengan orang lain.

Kartu vaksin yang sebelumnya saya tidak anggap penting akhirnya mau gak mau harus diusahakan. Jadinya saya berusaha mencari informasi dimana tempat di Jakarta untuk bisa melakukan vaksinasi.

Di setiap puskesmas rupanya ada. Puskesmas Pondok Pinang juga menyediakan layanan tersebut. Tetapi kondisinya menurut saya mengkhawatirkan. Banyak orang berkumpul dan kelihatan kurang terorganisir. Beruntung di group WhatsApp teman-teman blogger Makassar Daeng Sukri memberi informasi

Gerai Vaksin Presisi Polda Metro Jaya

Saya akhirnya mendaftar online di Gerai Vaksin Presisi tersebut. Saya mendaftar tanggal 5 Juli 2021 dan mendapatkan giliran vaksin di tanggal 8 Juli 2021 pada pukul 14.00. Sehubungan masih berlakunya PPKM, saya menyiapkan Surat Tugas, berjaga jangan sampai saya tidak dapat sampai ke tujuan akibat penyekatan.

Dari daerah Pondok Pinang ke Salemba Raya lumayan jauh. Untung ada kendaraan yang bisa saya gunakan sendiri karena supir yang biasa mengantar tidak bisa masuk ke Jakarta karena adanya penyekatan. Dia bermukim di Depok. Saya berangkat pukul 12.00 dan setelah berputar-putar karena mencari jalan yang terbuka akhirnya tiba di Capitol Park Residence pukul 13.30. Untung belum waktunya. Setelah tiba ternyata tempat yang diperuntukan untuk vaksin sangat luas. Pelataran parkir yang dipasangi tenda besar dan dijaga oleh petugas-petugas yang ramah.  Proses pendaftaran ulang pun tidak sulit, screening oleh dokter disiapkan di banyak meja sehingga tidak menyebabkan penumpukan.Saya sempat kuatir dengan tensi 140/110. Tidak biasanya saya dengan tekanan darah setinggi itu. Mungkin juga tegang atau baterai Omron, alat tensi elektronik, masih baru. Alhamdulillah menjadi 130/110 setelah dokternya memberikan mantra. “Jangan tegang bu, rileks saja.”

Pintu Masuk Gerai Vaksin Presisi di Capitol Park Residence

Ruangan untuk vaksin pun khusus bagi wanita yang berhijab. Tidak ada terlihat yang bertumpuk, semua jaga jarak walaupun sepertinya ada sekitar 100 orang saat saya berada di sana.

Penting untuk diingat bahwa pencatatan data pribadi harus benar. Beberapa teman saya yang sudah vaksin tidak mendapatkan sertifikat online akibat data yang kemungkinan keliru, atau diinput salah oleh petugas.

Melalui website PeduliLindungi, sekitar pukul 19.00 saya mendapatkan bahwa data saya sudah terinput dan sertifikat vaksin juga  sudah ada. Semoga ini bisa menjadi persiapan saya dalam melaksanakan pekerjaan di masa pandemi yang tak menentu ini. Jadwal vaksinasi kedua adalah awal bulan Agustus. Jika saya masih berada di Jakarta, saya akan tetap memilih gerai ini untuk melaksanakan vaksinasi. Semoga target vaksinasi yang dicanangkan pemerintah bisa segera terpenuhi sehingga tidak lagi banyak kabar menyedihkan akibat kepergian orang-orang di sekitar kita. Dan pandemi bisa berlalu…

Cara Vaksin Bekerja

Asam Urat dan Pola Makan

Waktu di Gelora Bung Karno setelah acara bersih-bersih dengan komunitas Osoji Jakarta, saya tergoda oleh promosi anak-anak mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang mempromosikan pemeriksaan kesehatan gratis. Wah tau saja kan, yang namanya gratis pasti menarik hati. Mereka rupanya juga ikut memanfaatkan keramaian di GBK. Awalnya cuma tensi darah, tetapi begitu ditawari untuk periksa kolesterol, asam urat dan gula darah akhirnya saya mau, walaupun malas harus ditusuk-tusuk pakai jarum serupa pen itu. Terlanjur menurutku.

Hasilnya adalah :

periksa darahKolesterol masih dalam batas normal, gula darah kurang katanya, mungkin karena saya memang belum sarapan pagi itu. Tapi yang pasti dengan itu saya tidak perlu kuatir dengan diabetes. Yang masalah adalah Asam Urat. OMG .. dari standar maksimal untuk wanita adalah 5, asam urat saya sudah mencapai 9.5 hampir dua kali lipat.

Memang sih sudah mulai terasa nyut-nyut di telapak kaki. Itu pasti tanda asam urat saya naik. Abis makan tape, makan daging beberapa kali berturut turut sepertinya purin di dalam darah makin menjadi jadi banyaknya.

Peringatan ini sudah cukup bagi saya untuk tidak mentoleransi nafsu untuk makan makanan kesukaan. Akhirnya saya mulai mengubah pola makan (untuk sementara) 😀

Peringatan juga sih kalau ditawari sesuatu yang gratis harus nanya detailnya, ternyata yang dimaksud gratis cuma tensi doang.. sisanya bayar :p

 

Berikut menu sarapan dan makan malam yang sehat, sementara untuk siang boleh lah makan sesukanya (teteuppp..)

enak kan ^^
enak kan ^^

Untuk meredakan asam urat saya minum obat tradisional Assalam yang terbuat daun tapak kuda atau yang dikenal dengan daun pegagan. Untung masih punya sebungkus dari sisa kemarin-kemarin, berarti itu cuma cukup sehari. Tapi sehari pun manjur menghilangkan nyeri di telapak kaki. Untuk orderanya terpaksa meminta tolong teman di Bantaeng (jauh ya..)  ^^

Ya semua penyakit memang tergantung dari apa yang berlebih. Cuma sepertinya kadar keseimbangan seseorang pasti berbeda beda  mungkin memang harus kita mulai belajar mengenali tubuh kita sendiri. Perbedaan genetik bisa membuat treatment dan bahan untuk menyeimbangkan berbeda beda, menurutku pengamatan saya selama ini 😀

Yang umum adalah banyak minum air putih dan berolah raga.. insya Allah kita masih diberi kesempatan untuk beraktifitas sehari hari

 

Tag cloud: