“Saya jengkel sekali sama Pipit ini, merapat terus ke
Ahok”, isi chat seorang teman di WAG setelah salah seorang teman lainnya
memasukkan foto Ahok bersama keluarganya. Di foto itu juga terlihat Pipit, yang kabarnya adalah calon istri Ahok, berdiri dengan
senyum manis di sisinya.
“Bajunya tidak pantas, belahan dadanya sampai kelihatan bukannya
menjaga aurat itu penting?”, timpal yang lain
Saya tersenyum dan mencoba maklum. Begitulah perasaan wanita
secara umum jika mendapatkan kabar mengenai adanya pengganti atau bahkan
orang ketiga dari pasangan yang dulunya dipercaya adalah pasangan harmonis. Ahok dan ibu Veronika adalah pasangan serasi di masanya,
masa semua orang terpukau dengan setiap kabar kegiatan yang dilakukan oleh
mereka berdua sebagai pasangan Gubernur DKI Jakarta.
Ahok atau yang sekarang dipanggil BTP sesuai keinginannya,
adalah sosok yang memang dipuja banyak orang dan sekaligus juga dibenci banyak
orang. Sikapnya yang kontroversial sangat mengganggu bagi
orang-orang yang mungkin tidak terbiasa dengan kata-kata kasar. Namun
integritasnya terhadap tugas dan tanggung jawabnya tidak diragukan. Bagaimana
dia bisa berkata tegas dan apa adanya membuat banyak yang bersimpati dan jatuh
hati. Apalagi dalam perjuangannya dia harus tersandung lisan dan berakhir dengan
diambilnya kebebasan pribadinya selama dua tahun. Tetapi yang dialaminya, bagi
sebagian orang malah dianggap sebagai hero.
Namun hidup sesungguhnya tak seperti cerita dalam dongeng. Perceraian dengan istrinya yang bisa saja
menambah simpati orang akhirnya buyar karena dia memilih mantan ajudan istrinya
sebagai calon istrinya, selepas keluar dari
penjara. Ini seperti film drama yang ending-nya
tidak sesuai dengan keinginan penonton.
Sayangnya,
bagaimana pun keadaan pasangan tersebut yang selaku disalahkan adalah
perempuan. BTP tetap adalah seorang
sosok yang dipuji, tetapi dirasa sayang karena jatuh dalam “godaan” mantan
ajudan istrinya. Perempuan memang selalu menjadi korban, baik dalam kasus pelecehan, prostitusi atau lainnya.Yang pasti salah adalah perempuan ini
pemahaman umum masyarakat bukan berbicara soal keadilan.
Saya tidak mau menghakimi siapapun, karena saya juga bukan
seorang hakim dan saya adalah hanya bagian kecil dari drama kehidupan.
Saya tidak bisa dengan mudah mencemooh orang lain seperti teman-teman saya yang
lain. Mungkin disebabkan kekuatiran saya terhadap diri saya sendiri, karena
saya pun tidak luput dari kekurangan.
Mata ini memang diciptakan mengarah ke luar, melihat hal-hal yang sifatnya materi. Dan ini memungkinkan kita membenarkan arti pepatah. Sekarang Pipit menjadi seekor semut di seberang lautan, segala hal yang berkenaan dengan dia sudah tidak terlihat baik. Fokus kita terhadap kesalahan orang lain sangatlah nyata, sementara kita sendiri kadang lupa akan kekurangan kita.
Saya lebih memilih diam, mengamati dan mendoakan. Kenapa demikian? Karena saya kekurangan data untuk bisa mengerti dan memahami kenapa masing-masing pribadi yang terlibat mengambil tindakan atau keputusan seperti itu. Andai kata ada sutradara yang mampu mengemas secara lengkap bagaimana kisah hidup sebuah keluarga, mungkin kita akan memilih manggut-manggut dari pada mencemooh. Tetapi tidak ada data selengkap yang dimiliki oleh Zat yang berkuasa. Jadi cukuplah kita diam, merenung dan mendoakan semoga siapa pun yang terlibat dalam drama ini bisa berbahagia, menyadari pilihannya dengan segala konsekwensinya dan bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Pipit sekarang yang menjadi bulan-bulanan para wanita, mohon bersabar karena adalah benar tak ada pilihan tanpa konsekwensi. Selamat melanjutkan drama kehidupan
sekalian kak bilang ke pipit, mohon bersabar ini ujian. hahahaha *lol*
saya sih tidak melihat antara siapa salah dan benar. Intinya saya mendukung orang yang menikah untuk menyelamatkan mereka dari fitnah ataupun sejenisnya.