Archive

Dua Kata yang Paling Saya Benci

Pernahkah merasa sangat benci dengan kata-kata tertentu? Mungkin iya, misalnya kata yang bersifat umpatan atau makian. Walaupun saya dibesarkan dalam lingkungan pergaulan yang tidak terbatas, tidak berarti saya menerima semua perkataan orang lain atau bahkan mengadaptasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti ibu saya, beliau sangat suka mengumpat, mungkin itu dirasakan sebagai kesenangan bukan untuk umpatan yang mengutuk orang lain. Tetapi apapun maksudnya, kata yang diucapkan bagi saya sangat tidak menyenangkan. Saya bahkan mengatakan langsung ke ibu saya, cenderung bersifat mengingatkan bahwa itu kurang pantas.

Tapi bukan kata umpatan yang ingin saya bahas di sini, tetapi kata yang sering sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Awalnya saya pun tidak menyadari kata-kata ini tidak baik saat digunakan. Tetapi lama kelamaan, saya makin menyadari kerugian menggunakan kata-kata ini.

Saya kira….

Satu momen baru terjadi tidak lama ini. Saya memberitahukan kepada rekan kantor untuk menyampaikan kepada seorang driver agar menjemput saya jam 10 pagi. Saya tahu kendaraan tidak digunakan saat itu karena jadwal jemputan ke bandara adalah pukul 12 siang. Kekeliruan saya adalah tidak menyampaikan langsung sehingga tidak terjadi komunikasi yang efektif antara saya dan sang driver.

Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Saya bergegas karena merasa yakin akan segera dijemput. Namun ternyata setelah lewat 20 menit saya jadi ragu. Akhirnya saya menelpon langsung ke driver yang dimaksud.

“Pak I, sudah disampaikan bahwa jemput saya jam 10 ini pagi?,” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Sudah bu, tapi saya kira ibu mau ikut ke Bantaeng, jadinya sekalian saja setelah dari bandara baru saya ke rumah ibu.”

Satu kata yang membuat darah saya mendidih, Saya kira…

Bagi saya, penggunaan kata kira ini saat menjalankan tugas adalah bentuk kemalasan dan ketidak pedulian. Mengapa demikian?

Jika benar ada perkiraan, berarti sesuatu yang tak pasti berkecamuk dalam pikiran kita. Jika kita peduli dan mau berusaha pastilah kita akan mencari informasi untuk mengubah perkiraan menjadi kepastian. Apalagi dengan waktu yang masih panjang yang dimiliki oleh driver yang tidak berkegiatan apa-apa

Briefing online berlanjut, dengan kejadian ini saya sudah menyatakan tidak akan mendengar kata kira dari teman-teman yang satu tim dengan saya. Dengan demikian saya berharap semua dapat berlatih untuk peduli dan tanggap terhadap sesuatu yang masih meragukan

Seandainya…

Kata kedua adalah seandainya, atau kalau dalam bahasa Makassar sehari-hari kita biasa dengar dengan istilah “cobanya”

Kenapa saya membenci kata ini? Kata seadainya membuat kita tak berdaya dengan keadaan saat ini. Ini sama saja dengan memaksa kembali ke masa lalu dan mengubah keadaannya saat itu, yang mana bagi saya adalah mustahil.

Sudah berapa orang yang saya langsung koreksi begitu mendengar kata seandainya.

“Bu, boleh bantu untuk bagaimana caranya supaya saya dapat membeli paket Indihome tanpa harus ke Plaza? Soalnya ini atas nama suami dan dia lagi di luar daerah. Saya kuatir saya datang pun akan disuruh pulang karena bukan saya yang mendaftarkan pemasangannya. Atau minimal saya tahu persyaratan supaya saya bisa persiapkan sebelum saya ke Plaza.”

Panjang sudah pertanyaan dan pernyataan yang saya buat demi si ibu bisa menangkap kebutuhan saya.

“Aduh dek, cobanya kita hubungi tadi siang, saya bisa bantu.”

Glek!

Saya lebih senang jika si ibu bilang, “aduh maaf dek, saya sepertinya tidak bisa bantu.” Kalimat ini terasa lebih melegakan dibanding menggunakan “cobanya”

Ini seperti mengiming-imingkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Memberi harapan palsu yang kenyataannya sudah pasti tidak akan terwujud.

Mungkin memang cuma kata-kata, tapi bagi saya diksi, atau pilihan kata sangat penting untuk membentuk sikap mental dari masing-masing penutur.

Jadi kesimpulannya, sebisa mungkin saya hindarkan penggunaan kata ini. Dan jika ada diantara teman yang mengucapkannya, saya dengan senang hati akan menjelaskan dan memberikan alasan kenapa saya tidak ingin kata itu digunakan

Pahlawan bagiku

Selama ini saya mengenal pahlawan yang dulu gambarnya terpampang di diding kelas saat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar. Tugas kita adalah menghapal nama dan dari daerah mana pahlawan tersebut berasal dan berjuang hingga gugur demi untuk bangsa dan negara. Seperti pelajaran biasa, menghapal dan menunggu untuk bisa menjawab soal dalam ujian.

Baru baru ini saya ke Ambon, Maluku. Seperti umumnya para pejalan kami singgah di spot-spot yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk memperkenalkan daerahnya. Salah satu spot yang sangat berkesan bagi saya adalah Monumen pejuang Christina Martha Tiahahu.

Terletak di daerah bukit Karang Panjang, di area monumen terdapat patung yang menurut saya sangat gagah untuk seorang wanita muda. Patung yang menghadap ke laut dengan posisi berdiri tegak dengan memegang tombak, sangat heroik. Saya penasaran, siapa sebenarnya wanita yang terkesan tidak kenal takut ini? itu karena dulu saya hanya mendapatkan informasi mengenai nama dan daerah asal saja tanpa tahu cerita kepahlawanannya.

Christina Martha Tiahahu dilahirkan di desa Abubu pulau Nusalaut dekat Maluku tahun 1800. Ayahnya seorang kapten, Paulus Tiahahu. Dikarenakan ibunya berpulang saat dia masih kecil, Christina dibesarkan oleh ayahnya dan mengikuti ayahnya kemana pun ayahnya pergi bahkan ke medan pertempuran.

IMG_20151014_155946

 

Diawal tahun 1871 Christina dan ayahnya bergerilya dalam perang melawan Pemerintah Kolonial Belanda, Mereka bergabung sebagai tentara Pattimura, pejuang besar dari Maluku. Perjuangan yang membuat Belanda banyak mengalami kekalahan, bahkan Christina melawan tentara Belanda dengan menggunakan batu yang dilempar. Namun di bulan Oktober perlawanan mereka terhenti karena ditangkap oleh Belanda.

Karena usianya yang masih muda, Christina tidak dihukum namun dipenara di Benteng Beverwijk sementara ayahnya dieksekusi mati. Setelah melarikan diri, Christina melanjutkan perang melawan penjajah. Tetapi akhirnya dia tertangkap kembali. Dalam perjalanan pembuangan dirinya ke Jawa, Christina jatuh sakit dan dia menolak makan dan meminum obat-obatan. Akhirnya dia gugur di usianya yang terbilang sangat muda sebagai pahlawan, 18 tahun.

 

Bagi saya kisah heroik ini benar-benar menggugah. Semangat juangnya sangat terasa, saya malah mengambil gambar dan menjadikannya sebagai wallpaper, sekadar mengingatkan saya bahwa seorang wanita pantang merasa takut, harus berjuang untuk kebenaran yang diyakininya, di mana pun dia berada.

Saya juga kagum kepada pemerintah daerah di kota Ambon yang sangat pas menempatkan monumen Christina Martha Tiahahu.  Daerah lain mungkin masih perlu menyelami arti kepahlawanan para pejuang daerahnya dan memikirkan visualisasi yang tepat untuk mewakilkan ketangguhan para pejuang terdahulu.

Semoga semangat para pahlawan bisa kita resapi dan diaplikasikan dalam setiap kegiatan kita. Yang paling pasti adalah mendapatkan contoh integritas dan keteguhan yang mereka miliki, tidak goyah oleh godaan apapun, selain apa yang menjadi tujuan utama. Merdeka.

Selamat Hari Pahlawan, para pahlawan

Everest Puncak Kehidupan?

Nonton film yang penuh pelajaran itu sangat berarti, apalagi jika didapat dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri

Mendaki gunung? itu tidak ada dalam kamus saya. Selain takut ketinggian, saya malah menikmati gunung dari jarak pandang tertentu. Terakhir saya “mendaki” gunung Bromo dengan mobil hardtop, itu sudah membuat kenangan akan ketakutan yang tidak menyenangkan apalagi jika Gunung Everest.
Gunung Fuji pun saya daki dengan menggunakan mobil, tidak ada struggle yang harus melibatkan fisik, malah saya menikmatinya dengan mendengarkan lagu dari Matsuyama Chiharu yang sangat pas dengan suasana musim gugur waktu itu.
Everest memang adalah titik tertinggi dari daratan yang ada di dunia. Tinggi gunung ini adalah sekitar 8.850 meter, walaupun ini masih menjadi perdebatan antar negara dimana kaki kaki everest berada. Perbedaan pendapat ini menurut para ahli juga dimungkinkan karena puncak everest yang terus bertambah seiring dengan perubahan kontur bumi.
“:Unlike many mountain-disaster stories, this is the kind that makes you never want to look at a mountain again”. Nah, apalagi bagi saya. Film yang didasarkan dari kisah nyata yang berakhir tragis ini terjadi tahun 1996 tanggal 10 Mei. Seharusnya menjadi hari kemenangan bagi beberapa orang yang telah membayar $65.000 untuk mengikuti ekspedisi ini bergabung dengan Adventure Consultant. Tetapi alam meminta bayaran lebih mahal lagi, nyawa dari beberapa orang pendaki dan menjadikan jasadnya abadi sebagai lambang keagungan Everest.
Dalam perjalanan tragis ini, banyak lempengan kisah-kisah kecil yang menggugah. Pengorbanan, persahabatan, keberanian dan tekad. Rob Hall sebagai penanggung jawab dari expedisi berbayar ini tergambarkan sangat bertanggung jawab. Dia bahkan rela untuk mendaki kembali setelah mencapai puncak hanya untuk memenuhi keinginan salah satu pendaki yang membawa aspirasi dari anak-anak sekolah. Namun sayang keputusan ini pula yang membuat pendakian ini menjadi kisah tragis.
Dalam setiap pendakian, pengambilan keputusan adalah sama dengan memilih antara hidup dan mati. Jika tidak dibarengi oleh akal sehat dan pertimbangan yang matang akan menjadi ritual penyerahan nyawa. Menimbang-nimbang antara ambisi akan keinginan di depan mata dengan  keadaan yang sebenarnya memang sangat berat. Apalagi di gunung, puncak pun kelihatan dekat tetapi usaha untuk mencapai ke sana berlipat ganda dari keadaan biasa.
Hidup pun demikian, kadang ada ambisi yang membuat kita buta akan keadaan yang sebenarnya. Kerja sama dengan logika dan orang-orang yang punya pengalaman terhadap sesuatu sangat berharga. Tapi apakah kita masing masing memiliki puncak kehidupan?
Saya memilih tidak. Saya tidak ingin merasakan kemenangan atau meraih puncak. Jika itu terjadi sama saja melihat para pendaki itu kehilangan tenaga dan semangat untuk kembali. Mungkin karena kembali ke kehidupan tidak semenarik melihat puncak everest lagi. Highest point sudah tertaklukkan, lalu apa lagi?
Hidup bagi saya adalah menikmati setiap saat, seperti yang disampaikan oleh Rob Hall dalam dialog di film ini. “Perhatikan langkah-langkahnya jangan perhatikan puncak gunungnya”

Bersaing itu Lumrah

Kekawatiran tentang pekerja dari luar sudah mulai terasa di kalangan pekerja lokal di Indonesia. Hampir semua berpikir, pasti kita tidak kebagian tempat lagi untuk bekerja. Orang-orang asing yang datang itu mengambil rejeki  kita, mengambil piring nasi kita.

Sayangnya hanya sedikit yang melihat ini sebagai peluang. Peluang untuk menjadi lebih baik dan meningkatkan daya saing. Tapi kira-kira apa yang kita miliki? Payung hukum? Berlindung kepada pemerintah?

Menurut saya sepatutnya kita sendiri menyadari bahwa dengan semakin banyak persaingan semakin memacu kita untuk bisa bekerja lebih baik.  Kita tidaklah perlu mendesak pemerintah untuk membatasi orang-orang asing yang masuk untuk bekerja dikarenakan berlakunya pasar tunggal yang disepakati oleh negara negara ASEAN yang akan berlangsung akhir tahun 2015 ini. Tetapi desakan kepada pemerintah yang harus kita perjuangkan adalah memberikan kesempatan seluas luasnya dan mendukung peningkatan sumber daya manusia Indonesia. Dari pendidikan umum, keterampilan dan lain lain.

Bersaing itu sudah lumrah, tidak perlu kita seperti orang manja. Pemerintah tidak akan mampu mengatur pengusaha yang akan memilih sumberdaya yang terbaik untuk perusahaannya. Jika campur tangan pemerintah terhadap para pengusaha dilakukan, jangan salahkan kalau mereka memilih tempat lain untuk bisa berinvestasi.

Para pemilik perusahaan pasti berusaha untuk memilih sumber daya yang terbaik. Etika dan ethos kerja menjadi utama. Jika sampai pekerjanya hanya bermodalkan ancaman boikot saat bekerja, para pengusaha pasti berpikir untuk mencari alternatif lain, salah satunya dengan menggunakan orang asing.

Ancaman yang nyata pada perusahaan adalah dengan memberikan kinerja yang terbaik saat bekerja. Dengan demikian apa yang dituntut pun akan wajar jika terjadi ketidak adilan dalam manajemen perusahaan. Tetapi jika memang itu terjadi pada suatu perusahaan, jangan kuatir, dengan kinerja yang dimiliki pastilah secara pribadi kita punya daya saing untuk di perusahaan perusahaan yang lain.

Berhentilah berpikir bahwa kita akan kuat dengan berlindung kepada pihak lain, cuma satu jalan, tingkatkan potensi diri dan mari bersaing. Jika kita berharap pemerintah yang melindungi, sama saja dengan kita tidak punya keberanian untuk bertarung.

Tetap Semangat!

Hidup itu Menyakitkan dan Penuh Penderitaan

Hidup itu menyakitkan dan penuh penderitaan!

Terkesan pesimis? negatif? Tapi menurutku memang begitulah keadaannya. Khayalan tentang hidup yang menyenangkan dan tanpa rasa sakit sebenarnya itu menjauhkan diri dari kenyataan. Tapi apakah kita jadi menyerah? Tidak!

Saya perlu menyadari sakit dan rasa derita agar tidak perlu berusaha untuk mengalihkannya atau bahkan mengubahnya menjadi kebahagiaan sempurna. Jika saya berusaha demikian, saya akan stress, merasa harus melakukan sesuatu untuk mengubah kenyataan yang kadang di luar batas kemampuan kita. Pernyataan hidup ini menyakitkan dan penuh penderitaan hanya untuk menerbitkan kesadaran bahwa “Life is tough, so deal with it.”

Kita dengan tidak sengaja menciptakan keadaan yang lebih menyakitkan dengan menghindari perasaan tidak menyenangkan ini. Padahal kita sadar sepenuhnya, hidup tidak bisa dipisahkan dari kehilangan, kesedihan, keletihan dan kebosanan.

Tetapi kemelekatan atau bergantung kepada harapan-harapan, materi bahkan eksistensi dapat membuat frustasi, kekecewaan dan beberapa bentuk sakit hati yang lain. Jadi daripada takut akan penderitaan atau berusaha mengatasi itu, kita bisa belajar untuk mengenali penderitaan itu dan menerimanya.

Bagaimana cara menerimanya?

Setiap hari bisa kita bisa memberitahukan diri kita bahwa kita tidaklah hancur, tetapi tetap menyadari kenyataan akan kematian, menua, sakit dan kehilangan bagian dari kehidupan. Berhentilah meyakinkan diri bahwa hidup itu mudah dan bebas dari rasa sakit, baik secara emosional dan secara fisik. Konsep ini sebenarnya yang ditawarkan para pembuat kosmetik, pabrik obat-obatan dan fashion, termasuk film film drama happy ending.

life

Jadi masih ingin menyangkal bahwa hidup itu penuh dengan penderitaan?

 

 

 

Jualan Bakso atau Jualan Mobil

Ada cerita menarik yang saya dengar dari sahabat, orang terdekat saya. Dalam dunia kerja memang terisi oleh bermacam-macam niat, karakter, perilaku, dan sebagainya. Semakin lama kita berada dalam dunia ini semakin banyak juga yang bisa kita pelajari. Apakah itu menjadi bahan untuk menghadapi situasi atau bisa jadi menjadi bahan refleksi diri.

Ini seperti orang yang jualan bakso dan jualan mobil, katanya. Saya sempat bingung, apa ya maksudnya? Pernah gak memperhatikan bagaimana tukang bakso menarik perhatian sekampung agar semua orang menyadari kehadirannya? iya, benar. Rata-rata dari mereka menciptakan bunyi dari mangkuk dan sendok besi yang dimilikinya. Belum cukup dengan itu, kadang disertai juga dengan teriakan. Bakso…bakso…

Lalu bagaimana dengan pedagang mobil? apakah mereka melakukan hal yang sama? Tentu tidak. Walaupun mungkin modal suara yang bisa dihasilkan dari kendaraan ini bisa lebih besar dari dentingan suara mangkuk dan sendok yang beradu. Tapi benar, itu tidak dilakukan. Tidak perlu. Cukup dengan menempatkan mobilnya diam dan bersahaja, disertai lampu sorot yang menambah keanggunannya.

Benar, itu lah analogi dari bebarapa karakter yang bisa kita temukan di dunia kerja. Kadang orang harus bersuara kencang, terburu-buru bahkan memanfaatkan informasi yang keakuratannya belum terjamin, hanya untuk menarik perhatian. Dan memang itu yang mungkin mereka inginkan, perhatian sehingga mereka dianggap, atau dirasakan kehadirannya.

Tetapi ada juga karakter tenang yang berisi segala informasi tapi dengan segala pertimbangan yang ada di kepalanya, dengan sabar mendengarkan bahkan tidak terbaca apa yang sedang lalu lalang dalam pikirannya. Lao Tze berkata, orang bijak itu kelihatan bodoh. Mungkin seperti itu perumpamannya. Tetapi dengan kesabaran dan ketenangannya justru merupakan misteri, dia pasti menyimpan harta karun yang besar sehingga tidak dengan mudah diumbar. Mereka bisa memilih kepada siapa yang pantas untuk membicarakan sesuatu.

Semoga menjadi bahan refleksi bagi saya yang kadang grasah grusuh gak karuan 😀

Kamu dibenci, biarkan

Saya tidak pernah tahu, dan hal ini mungkin terjadi juga kepada yang lain. Seseorang bahkan sekelompok orang yang tidak suka dengan keberadaan kita, sikap kita bahkan perkataan kita.

Ini terjadi di lingkungan pekerjaan saat ini, memiliki banyak pimpinan juga membingungkan. Untungnya saya cuma berpatokan pada “bekerja untuk perusahaan”. Masih ada beberapa yang merasa harus tetap baik terlihat kepada pimpinan. Bagi saya itu bukan cara yang tepat. Saya lebih suka dengan menjalankan segala kegiatan pekerjaan dengan jujur dan berusaha yang terbaik dan seobyektif mungkin.

Kelihatan baik di depan pimpinan itu memang bisa menjadi tempat yang aman untuk menjaga keberlangsungan kita di perusahaan, apalagi ditambah dengan pimpinan yang “berkuping tipis”. Ini memang hal yang menguntungkan untuk karyawan-karyawan yang menganggap pimpinannya saja sebagai orang yang harus didengar yang lain lewat saja 😉

Tapi saya sulit melakukan itu. Saya suka blak-blakan. Berbicara apa adanya bahkan tidak ragu menyampaikan ide yang kemungkinan membuat pimpinan gak senang. Tetapi untuk kepentingan perusahaan saya selalu berpikir saya harus melakukan itu.

Baru baru ini saya dikaitkan dengan keberadaan saya yang memang melalui “referensi” untuk mendapatkan kesempatan di perusahaan. Sayangnya yang memberi referensi ini tidak begitu akur dengan keluarga lainnya. Apes lah saya dikait-kaitkan dengan keadaan tersebut. Tetapi kembali lagi saya berpikir, saya membuang waktu dan fokus saya jika membuat pendapat-pendapat subyektif ini berkeliaran di lingkungan kerja saya.

Satu satunya cara adalah menunjukan kualitas pekerjaan saja, masalah penilaian itu bukan urusan saya. Karena saya selalu yakin apa yang terjadi dan yang menjadi hak saya adalah memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Ya, keyakinan kita kadang kurang sehingga kita mengandalkan segalanya kepada mahluk. Tidak berarti kita lalai untuk bersikap sopan atau yang sewajarnya. Keyakinan ini pula yang menguatkan hati saya bahwa sebagai mana pun orang bercerita dan berpendapat tentang diri kita, jangan sampai kita “membenarkannya” dengan cara memikirkan atau bahkan menanggapi. Saya memang pribadi yang tak sempurna masih punya kekurangan dan saya harus menerima itu

Tetapi saya selalu mengingat quote tentang padi dan ilalang. Jika ingin memusnahkan ilalang jangan dengan cara ditebas atau dirusak, karena itu dapat membuat tanaman padi pun ada yang ikut tertebas. Tetapi dengan menumbuhkan banyak padi, ilalang itu akan hilang dengan sendirinya.

Jadi, daripada saya mendengarkan atau bahkan terpengaruh dengan pendapat negatif tentang diri saya, mending saya memusatkan perhatian dan meingkatkan semangat kerja sehingga bisa memberi kebaikan bagi orang-orang lain di lingkungan kerja dan ke perusahaan.

Ganbarimasu!

 

Kaku atau Lentur!

Tidak semua orang suka kota yang penuh hiruk pikuk seperti Jakarta. Saya pun demikian awalnya. Setiap akan ke ibu kota beberapa tahun lalu hati saya terasa berat, malas rasanya. Lalu kenapa sekarang saya menyukainya? Bahkan tawaran untuk balik ke kampung halaman sudah disampaikan tetapi saya kecenderungan saya tetap ke ibu kota yang penuh cahaya ini. Mungkin adaptasi saya selama hampir 4 tahun ini berjalan mulus. Nampaknya…

Saya merasa orang yang bisa survive di Jakarta adalah orang yang sudah ditempa dengan keadaan yang memang keras. Bentukan pribadi menjadi lebih jelas. Dari matahari terbit sampai terbenamnya, tidak ada kata “santai”. Bahkan untuk jalan kaki sekali pun, harus tetap waspada dengan trotoar yang dipenuhi bikers atau penjaja kaki lima. Belum lagi yang mengendarai kendaraan umum, bahkan berefek sampai ke pemilik mobil pribadi, sebagus apapun mobil yang dimiliki.

Tapi saya suka dengan Jakarta. Anggap saja latihan membuat hati ini lebih “dingin” dan bisa menghadapi keadaan sesulit apa pun. Saya tidak ingin menjadi manja, sedikit sedikit mengeluh. Di Jakarta saya bisa jalan jauh tanpa perlu berharap ada kenalan yang coba menjemput atau mengantar. Naik busway, commuter line, angkot semuanya sendiri. Dilalui dengan beberapa jam dalam keadaan panas pun tak masalah. Saya suka seperti itu, karena begitu balik ke keadaan seperti kota Makassar, dimana orang-orangnya sudah mengeluh dengan macet dan jauh saya cuma bilang, “oh.. santai saja, gak apa apa”

Tapi saya baru saja sadar. Rasa bisa menghadapi segala keadaan ini ternyata saya bisa kategorikan menjadi dua sikap. Yang pertama adalah kaku. Seperti tulisan saya sebelumnya, Jakarta bisa membuat kita menjadi batu, tidak berperasaan dan seperti robot, bahkan tidak peduli dengan keadaan orang lain. Itu bisa tergambar pada sikap bahkan bisa menjalar sampai ke hati. Ini yang saya tidak inginkan.

Akhir-akhir ini saya merenung, saya tidak perlu demikian. Saya cuma harus membuat hati saya seperti karet yang lentur. Jika mendapat tekanan bisa mengkerut tapi dalam keadaan biasa bisa juga mengembang. Saya pernah mengamati wajah beberapa penumpang di metro mini yang panas dan padat. Ada yang benar-benar tidak peduli, keras tapi ada juga yang tetap sejuk, tersenyum. Saya ingin seperti itu.

Saya ingin senyum saya tetap mengembang menghadapi keadaan yang keras, begitu pun hati saya. Saya tidak ingin kehilangan rasa, justru saya ingin rasa tenang yang bisa saya hasilkan sendiri bisa menjalar ke orang-orang lain, melalui senyuman ^_^

Life is about ourselves, not others

Dengan banyaknya social media yang bisa kita akses dengan mudah, semakin mudah pula kita mengetahui informasi orang-orang di sekitar kita bahkan yang jauh dari kita.

Bedanya dahulu, lingkungan terdekat seperti keluarga dan tetangga-tetangga sekitar rumah yang menjadi “bahan cerita” atau bahkan menjadi bahan pembanding dengan diri kita.

“eh, si A beli kulkas baru sekarang, modelnya dua pintu bahkan punya freezer yang besar”
Satu contoh kalimat yang mungkin ada dalam percakapan kita sehari-hari utamanya para ibu ibu.
Belum lagi kalau obyek bahasan adalah kategori barang mewah, seperti mobil bahkan tas yang nilainya puluhan juta.

Benar, informasi bisa sangat mempengaruhi kita. Kita jadi melihat diri kita sendiri. Duh.. kulkas di rumah kok kayak gini, saya juga butuh mobil. Tas malah mungkin bagus dipakai kalau saya jalan-jalan, orang-orang pasti pada kagum.
Sejumlah pemikiran-pemikiran terlintas yang dapat mengarahkan hati menjadi tidak tenang.
Hati gelisah bisa membuat kita mulai bertindak grasah grusuh. Bagaimana cara saya bisa mendapatkan semua itu, biar saya bisa lebih atau minimal sama dengan orang lain.

KIta lupa rasanya betapa bahagianya kita memiliki kulkas pertama kita yang sederhana, kita lupa rasanya.

Social media sekarang ini membuat kita harus lebih kuat lagi bertahan. Bukan hanya materi, pribadi orang pun bisa menjadikan kita ikut berpikir gelisah.

Wah dia bisa ngetop, bikin apa saja dia berhasil. Temannya banyak, sekali twit orang-orang pada mereply atau meng-RT. Jelas itu membuat kita berpikir akan diri kita sendiri. Saya harus bisa begitu!

Saya harus bisa begitu?
Mungkin perlu dipikirkan lagi. Terus terang kebanyakan melihat keadaan luar membuat kita lupa akan diri sendiri. Sebenarnya kenyamanan itu punya kadar tersendiri di tiap manusia. Seperti saya mungkin. Saya merasa nyaman dengan mengenakan baju yang mungkin bagi orang lain itu tidak up to date, atau ketinggalan zaman. Tapi karena saya nyaman kenapa pula saya harus peduli dengan pendapat orang.

Apakah jika saya mengenakan baju yang up to date bisa membuat saya nyaman? bisa jadi itu berlaku untuk orang lain tetapi tidak untuk saya.

Terlalu banyak informasi juga bisa mempengaruhi diri. Memang ada baiknya jika bisa mengubah pribadi kita menjadi lebih bijak. Artinya semakin banyak pilihan yang bisa jadi bahan untuk membuat hidup kita lebih berkualitas, tetapi kalau sudah melampaui kapasitas kita sendiri, itu mungkin saat kita harus refleksi diri.

Saya beberapa hari ini merasa, kenapa saya menjadi orang lain. Kenapa saya harus mendengar apa yang dikatakan orang terhadap saya. Kamu kan susah kalau gitu? ya itu mungkin standar umum, tapi jika saya bisa menikmatinya why not?

Hidup adalah pilihan, dan pilihan itu bukan tentang pendapat umum terhadap sesuatu, tetapi apa yang kita rasakan nyaman dan bisa kita jalani.

Seorang ksatria tidak akan merasa “menyelamatkan” rakyatnya. Tetapi dia telah bahagia menjaga kepercayaan diri dan keyakinannya tentang pilihannya.

I hope I could be like that ^^

Belajar Bahasa Mandarin

Yah ini yang bakal jadi resolusi tahun 2015. Eh keliru, maksudnya bisa bahasa mandarin, kalau belajar mah sudah dari dulu-dulu tapi tidak pernah bisa.

Memang yah untuk mempelajari bahasa itu tidak mudah. Dulu waktu belajar bahasa Inggris saya rasa susah sekali. Akhirnya ngambil kursus intensive dulu di Intensive English Course. Ikut Sunday Meeting pun saya melongo. Alhamdulillah perlahan-lahan akhirnya bisa juga walaupun tetap saja masih kadang tercekat kalau ngomong sama pak W, bule di kantor. Jadinya campur-campur deh bahasanya, Inggris Indonesia 😀

Untuk bahasa Jepang saya memang punya tekad bulat, waktu pertama mau bergabung bekerja di perusahaan Jepang, PT. MII. Saya bilang kalau pun kerjanya sama saja minimal saya harus bisa berbahasa Jepang. Alhamdulillah sekarang jika ke Jepang insha Allah gak akan hilang walaupun baca kanjinya masih terbata-bata.

Nah, kemarin itu saya sudah mulai bergabung dengan perusahaan yang pemilik sahamnya perusahaan dari China. Mengurus Ijin Tinggal Terbatas dari beberapa orang China biasanya saya dibantu dengan interpreter. Cuma pas hari itu dia tidak hadir. Asli saya kebingungan. Orangnya ngomong, saya mengerti tetapi untuk membalas percakapannya malah yang keluar bahasa Jepang, grrrr… ! asli gregetan.

Saya jadi kepikiran gimana yang punya kemampuan bahasa fasih lebih dari satu bahasa yah? Bahasa seharusnya refleks, tidak perlu dipikirkan lagi. Dan itu keluar dengan sendirinya saat kita menyatakan ide. Yah apa boleh buat sepertinya saya harus menetapkan niatan yang sama. Gabung di perusahaan ini harus bisa berbahasa Mandarin.

Bahasa Mandarin bukan hal yang baru bagi saya. Saya pun keturunan Chinese tetapi sayangnya ayah saya yang generasi pertama tiba di Indonesia tidak mengajarkan kami berbahasa Chinese. Kemungkinan karena pernikahan dengan mama yang juga keturunan dan kurang fasih berbahasa Mandarin. Sayang sekali..

Tetapi saya tetap bersyukur, dengan begitu saya tetap bisa sedikit paham jika mendengar percakapan dalam bahasa Mandarin. Tetapi untuk berbicara saya harus berlatih dan memperbaiki pengucapan yang sebenarnya banyak yang tidak benar juga karena dipengaruhi oleh bahasa lokal, Makassar.

Penetapan resolusi ini penting juga agar menjaga semangat saya untuk bisa tetap punya target di tahun yang baru ini. Semoga dapat tercapai, gambarimasu ^^

Tag cloud: