Archive

In Memoriam Taufik Fachrudin

“Ke sini maki mbak Lily, banyak yang ngumpul di sini teman-teman Pak Taufik dan teman-teman ex Maruki,” kata mbak Ita dengan suara bindeng. Kedengarannya seperti habis menangis. Hati saya tersentak, ini kenyataan bahwa Pak Taufik mantan pimpinan saya yang telah bersama kurang lebih 13 tahun berkumpul dalam satu perusahaan, yang sedang berada di RS Dadi Makassar dalam keadaan kritis akibat terpapar virus Covid-19.

Saya bergegas ke tempat yang disampaikan oleh Mbak Ita salah seorang mantan teman sekantor yang juga dekat dengan beliau.

Sambil mengendarai mobil, pikiran saya membawa ke kenangan-kenangan bersama beliau. Betapa banyak yang berbekas di hati dan ingatan. Semua berkumpul menyatu dan membuat saya merasakan kesedihan yang mendalam. Ya Allah sembuhkanlah beliau.

Namun doa dan harapan saya tidak diijabah oleh Allah. Maghrib dalam perjalanan pulang ke rumah, mbak Ita menelpon lagi. Kali ini disertai tangisan, “ Mbak Lily Pak Taufik sudah pergi..”

Saya terhenyak, seperti tidak bisa membedakan yang mana kenyataan yang mana khayalan. Walaupun di mulut saya mengucapkan Innalillahi wa innailahi rojiun, tapi saya belum sepenuhnya sadar atas apa yang saya ucapkan.


“Pak saya ikut ya, menghadap pak Menteri,” sedikit merengek

“Apa yang kau mau bilang? Jangko bikin malu-malu itu”, jawabnya, ciri khas beliau.

“Tenang maki pak, kasih ma kesempatan bicara saja, nanti saya yang menjelaskan keadaannya.”

Ini adalah salah satu dari kebaikan pak Taufik dalam membantu pekerjaan saya. Ketika saya kebingungan tidak bisa mendapatkan izin untuk pelabuhan terminal khusus yang terhambat, tanpa alasan yang jelas. Dengan kesempatan itu alhamdulillah, proses izin yang saya harapkan bisa berjalan mulus. Tidak pernah berhenti saya mengucap terima kasih ke beliau untuk bantuan-bantuan seperti ini.

Bersama Bapak Menteri Perhubungan RI

Saya mengenal pak Taufik di Jakarta, saat itu sekitar tahun 1997 di saat akan memulai pabrik kayu yang menempatkan beliau menjadi pimpinan saya. Saya ingat pertama beliau mengedarai mobil Peugeot berwarna biru, saya diantar untuk mengurus fasilitas master list di Badan Koordinasi Penanaman Modal. Semua kita lakukan bersama untuk membangun perusahaan yang sekarang terletak di Kawasan Industri Makassar.

Bukan kali itu saja saya naik mobil milik pak Taufik. Ketika saya menikah di tahun 1998, mobil Mercedez Benz menjadi kendaraan yang saya gunakan di prosesi pernikahan tersebut. Keluarga beliau sudah seperti keluarga sendiri.

Bahkan pernah dan sangat jelas berbekas dalam ingatan ketika saya berbicara ke beliau tentang mobil Alphard yang dimilikinya. “Pak enak ya  bapak punya Alphard, tapi lebih enak saya yang bisa menikmati tanpa harus memikirkan cicilannya,” saya mengucapkan sambil tertawa.

Kenangan terakhir bersama beliau ketika bertemu di Jakarta bulan April 2021 yang lalu. Seperti biasa saya semobil lagi dengan beliau. Saya juga sempat berkunjung ke kantor Perseroda sebelum beliau akhirnya berhenti menjadi Direktur. Di kantor tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman dari perusahaan sebelumnya. Bapak memang sangat memperhatikan teman-temannya. Tidak heran kalau beliau memiliki teman dari segala kalangan.

Selamat jalan pak you will be missed 🙁

Covid ini jahat, banyak sekali orang-orang yang saya kenal akhirnya berpulang dengan tiba-tiba. Random pula. Sedihnya karena tidak menyangka Pak Taufik menjadi salah satu yang dipilih. Saya sedih dengan keadaan ini, sedih karena kehilangan sahabat, kehilangan orang yang selama ini banyak membantu saya. Saya sedih mengingat istri dan anak-anaknya, mengingat keluarga besarnya. Semoga mereka semua dapat menghadapi kenyataan yang bagi saya pun seperti ilusi.

Selamat jalan pak Taufik, you really will be missed.

Mengapa harus TKA?

Saya sudah terbiasa mendapatkan link-link tentang berita sentimen negatif terhadap Tenaga Kerja Asing (TKA) di group-group WhatsApp. Tapi baru kali ini saya merasa ingin menulis mengenai hal tesebut. Niatnya sekadar berbagi pemahaman tentang apa yang terjadi dengan penggunaan TKA di Industri-industri pionir dalam rangka investasi yang sedang digiatkan oleh pemerintah Indonesia.

Rasanya kita semua tahu jumlah penduduk di negeri China. China masih merupakan negara yang paling banyak penduduknya di dunia. Indonesia berada di peringkat ke-empat setelah China, India dan Amerika Serikat. Lalu kenapa kenapa perusahaan di Indonesia harus “mengimpor” TKA di saat banyak orang Indonesia yang juga membutuhkan pekerjaan? Kenapa pula harus dari China?

Menilik dari sejarah, kerja sama bilateral antara Indonesia dan China  sudah berlangsung selama kurang lebih 70 tahun. Dengan berfokus pada peningkatan ekonomi regional, ASEAN dan ASIA kemudahan-kemudahan diberikan dalam kerja sama kedua negara, termasuk di bidang ekonomi.

China yang merasa berkepentingan untuk tetap bisa mensuplai kebutuhan industri di negaranya akhirnya turut serta untuk berinvestasi membangun pabrik-pabrik di Indonesia dengan investasi sendiri atau bekerja sama dengan pengusaha Indonesia.

Dalam kegiatan investasi khususnya untuk industri, Indonesia banyak terbantu dengan adanya investasi dari luar negeri. Pasar adalah hal yang utama dalam usaha industri. China memiliki basis industri yang kuat, sementara Indonesia berlimpah sumber daya alam. Belum lagi untuk dana pembangunan industri-industri strategis yang tergolong padat modal. Saya ingat bagaimana perusahaan tempat saya bekerja harus mengeluarkan modal sendiri di awal pembangunan sebelum perbankan akhirnya memberikan bantuan kredit. Modal sendiri yang dimaksud ini adalah salah satu bentuk kerja sama investasi business to business.  Selain alasan tersebut,  teknologi industri khususnya pengolahan dan pemurnian mineral di  Indonesia  masih belum bisa menyaingi luar negeri. Banyak hasil dari  lembaga-lembaga riset di Indonesia yang walaupun dinilai berhasil menciptakan teknologi, tetapi belum dapat diaplikasikan pada kegiatan industri. Belum proven, sementara industri pasti memilih teknologi yang efisien dan terjamin di segala aspek, salah satu yang penting adalah aspek lingkungan.

Industri memang memiliki impact yang cepat dalam peningkatan ekonomi. Kita tahu beberapa negara maju karena industrinya, dan saat ini China yang memegang peranan penting dalam industri, dan pasti berusaha untuk mempertahankan posisinya. Sebelumnya dengan mengimpor bahan baku ke negaranya, mereka tetap bisa stabil. Namun negara-negara pemilik bahan baku mulai sadar bahwa mereka bisa terkuras hingga habis. Philipina dan Indonesia adalah dua negara yang mulai menghentikan suplai ke China.

Sejak Pemerintah melarang ekspor mineral khususnya bijih nikel mulai Januari 2020, Sumber Daya Alam berupa hasil tambang yang salah satu contohnya adalah nickel ore (pasir yang mengandung mineral nikel) harus melalui proses pemurnian jika ingin diekspor. . Tujuannya untuk membangun industrialisasi di dalam negeri yang akan memberikan nilai tambah pada hasil tambang sehingga meningkatkan nilai eskpor agar neraca perdagangan negara menjadi surplus.

TKA untuk Pembangunan Pabrik

Proses konstruksi kebanyakan masih menggunakan  TKA. Walaupun ada gambar kerja,  alih informasi jika dikerjakan oleh TKI bisa saja terjadi kesalahan.  Kebanyakan kontrak pembangunan menggunakan proyek EPC (Engineering Procurement Construction). Proyek EPC adalah salah satu bentuk konsep manajemen proyek yang melimpahkan tanggung jawab atas kegiatan perancangan/desain (Engineering), pengadaan material/peralatan (Procurement) dan pelaksanaan konstruksi (Construction) kepada kontraktor EPC Tujuannya mempercepat proses pembangunan sehingga proyek dikerjakan oleh satu pihak saja, lebih efektif dan efisien. Apalagi dengan contoh industri smelter, yang dibuat adalah konstruksi Electric Furnace (tungku elektrik) yang di Indonesia adalah teknologi yang terbilang baru. Efektifitas dan efisiensi jadi pertimbangan untuk membangun sebuah industri karena berhubungan dengan modal yang digunakan.

TKA untuk Operasional Pabrik

Pemerintah sudah menerapkan banyak aturan berkenaan dengan penggunaan TKA. Syaratnya harus  memiliki keahlian dalam menjalankan produksi. Setiap TKA didampingi oleh minimal 10 TKI, dan proses alih teknologi harus terjadi, dan menjadi tanggung jawab perusahaan ke pemerintah pada saat pengajuan TKA berikutnya. Pelaksanaan aturan ini diawasi oleh Kementrian Tenaga Kerja. Bersyukur juga dengan begini kita tetap bisa belajar dari para  TKA yang datang dan alih teknologi bisa berjalan.

Kenapa bukan TKI saja yang bekerja?

Dari pengalaman saat perekrutan, sumber daya manusia yang melamar kerja masih kurang spesifik dapat memenuhi kebutuhan industri. TKI pada umumnya berpendidikan umum sementara di perusahaan membutuhkan tenaga-tenaga yang memiliki keahlian spesifik. Dari proses pendidikan hingga kesiapan bekerja masih tidak sinkron. Banyaknya lulusan S1 yang akhirnya tidak dapat bekerja karena tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja menjadi indikator bahwa ada sistem yang perlu diperbaiki.

Salah satu contoh, S1 Teknik Mesin misalnya, walaupun secara teori menguasai tentang alat las, namun yang dibutuhkan adalah tenaga yang bisa memegang dan mengoperasikan alat tersebut, karena sifatnya keahlian ini butuh waktu untuk mempelajarinya. Keahlian yang merupakan hard skill adalah kriteria setelah soft skill.

Pemerintah telah mencanangkan program Vokasi Industri. Vokasi industri adalah sinkronisasi penyiapan tenaga kerja siap pakai antara lembaga pendidikan dan industri-industri yang ada. Walaupun agak terlambat tetapi hasilnya mulai nampak. Perusahaan membina beberapa SMK dengan menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri.

Kesiapan mental dalam bekerja pun sangat penting. Dari pengalaman saya, pengetahuan tentang sikap dan toleransi terhadap budaya kerja ini yang masih kurang. Lebih banyak menuntut hak sebagai pekerja dibanding memperbaiki diri sendiri. Saya sering menyampaikan dan mengingatkan  ke teman-teman, penentuan harga kita sebagai karwayan itu bukan dari aturan, tetapi dari kemampuan kita dalam  menguasai pekerjaan. Saya yakin dengan kompetensi yang dimiliki kita akan memiliki nilai jual, dan pasti perusahaan pun akan menjadikan aset yang berharga dan memelihara kita. Mentalitas kebanyakan karyawan atau calon karyawan masih berpikir, yang penting bisa kerja dan dapat uang bulanan. Sementara dari sisi perusahaan manpower adalah salah satu aset yang menentukan untuk perusahaan bisa berkembang.

Mempekerjakan TKA walaupun dari segi biaya mahal, tetapi karena kesiapan mereka bekerja dan hasil yang dicapai hitungannya menjadi lebih efektif. Jika TKI bisa menyamai kemampuan TKA saya yakin perusahaan akan memilih untuk mempekerjakan TKI dan tidak perlu mengikuti proses yang sangat ketat yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam mempekerjakan TKA.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Stop Talking, Action!

Kadang karena kita sibuk dengan mengeluarkan pendapat apalagi menghujat, kita lupa untuk melakukan sesuatu. Jika dikatakan bahwa berbicara saja dapat merugikan kita, saya setuju. Masing-masing pasti punya tugas dan tanggung jawab, dan kesempatan untuk melakukan sesuatu jadi hilang. Berhentilah berperan menjadi Presiden jika kamu bukanlah orangnya. Tetapi sebagai karyawan seperti saya, saya harus membuat konsep bagaimana caranya agar masyarakat di sekitar pabrik yang tidak punya  pekerjaan dapat produktif. Apakah sebagai pekerja atau sebagai pengusaha mandiri.

Saya pikir semua juga punya tugas, jika sebagai seorang mahasiswa masanya bagi dia untuk mempersiapkan dirinya sebagai generasi penerus bangsa. Tapi kalau tujuan politik, ya mungkin tidak apa-apa jika belajar untuk menyuarakan pendapat. Cuma saja mentalitas penting karena jangan sampai menjadi politikus yang mengatasnamakan kepentingan rakyat padahal untuk kepentingan diri sendiri. Who knows?

Intinya berbuatlah yang terbaik untuk peranmu saat ini. Semakin fokus dengan itu insha Allah akan mengarah menjadi lebih baik. Soal TKA, semoga mereka bisa cepat melakukan pekerjaannya termasuk memberikan pengajaran kepada para tenaga kerja lokal.

(disclaimer: penulis cuma salah satu unsur manajemen yang menulis berdasarkan pengamatan dan pengalaman)

Dua Kata yang Paling Saya Benci

Pernahkah merasa sangat benci dengan kata-kata tertentu? Mungkin iya, misalnya kata yang bersifat umpatan atau makian. Walaupun saya dibesarkan dalam lingkungan pergaulan yang tidak terbatas, tidak berarti saya menerima semua perkataan orang lain atau bahkan mengadaptasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti ibu saya, beliau sangat suka mengumpat, mungkin itu dirasakan sebagai kesenangan bukan untuk umpatan yang mengutuk orang lain. Tetapi apapun maksudnya, kata yang diucapkan bagi saya sangat tidak menyenangkan. Saya bahkan mengatakan langsung ke ibu saya, cenderung bersifat mengingatkan bahwa itu kurang pantas.

Tapi bukan kata umpatan yang ingin saya bahas di sini, tetapi kata yang sering sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Awalnya saya pun tidak menyadari kata-kata ini tidak baik saat digunakan. Tetapi lama kelamaan, saya makin menyadari kerugian menggunakan kata-kata ini.

Saya kira….

Satu momen baru terjadi tidak lama ini. Saya memberitahukan kepada rekan kantor untuk menyampaikan kepada seorang driver agar menjemput saya jam 10 pagi. Saya tahu kendaraan tidak digunakan saat itu karena jadwal jemputan ke bandara adalah pukul 12 siang. Kekeliruan saya adalah tidak menyampaikan langsung sehingga tidak terjadi komunikasi yang efektif antara saya dan sang driver.

Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Saya bergegas karena merasa yakin akan segera dijemput. Namun ternyata setelah lewat 20 menit saya jadi ragu. Akhirnya saya menelpon langsung ke driver yang dimaksud.

“Pak I, sudah disampaikan bahwa jemput saya jam 10 ini pagi?,” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Sudah bu, tapi saya kira ibu mau ikut ke Bantaeng, jadinya sekalian saja setelah dari bandara baru saya ke rumah ibu.”

Satu kata yang membuat darah saya mendidih, Saya kira…

Bagi saya, penggunaan kata kira ini saat menjalankan tugas adalah bentuk kemalasan dan ketidak pedulian. Mengapa demikian?

Jika benar ada perkiraan, berarti sesuatu yang tak pasti berkecamuk dalam pikiran kita. Jika kita peduli dan mau berusaha pastilah kita akan mencari informasi untuk mengubah perkiraan menjadi kepastian. Apalagi dengan waktu yang masih panjang yang dimiliki oleh driver yang tidak berkegiatan apa-apa

Briefing online berlanjut, dengan kejadian ini saya sudah menyatakan tidak akan mendengar kata kira dari teman-teman yang satu tim dengan saya. Dengan demikian saya berharap semua dapat berlatih untuk peduli dan tanggap terhadap sesuatu yang masih meragukan

Seandainya…

Kata kedua adalah seandainya, atau kalau dalam bahasa Makassar sehari-hari kita biasa dengar dengan istilah “cobanya”

Kenapa saya membenci kata ini? Kata seadainya membuat kita tak berdaya dengan keadaan saat ini. Ini sama saja dengan memaksa kembali ke masa lalu dan mengubah keadaannya saat itu, yang mana bagi saya adalah mustahil.

Sudah berapa orang yang saya langsung koreksi begitu mendengar kata seandainya.

“Bu, boleh bantu untuk bagaimana caranya supaya saya dapat membeli paket Indihome tanpa harus ke Plaza? Soalnya ini atas nama suami dan dia lagi di luar daerah. Saya kuatir saya datang pun akan disuruh pulang karena bukan saya yang mendaftarkan pemasangannya. Atau minimal saya tahu persyaratan supaya saya bisa persiapkan sebelum saya ke Plaza.”

Panjang sudah pertanyaan dan pernyataan yang saya buat demi si ibu bisa menangkap kebutuhan saya.

“Aduh dek, cobanya kita hubungi tadi siang, saya bisa bantu.”

Glek!

Saya lebih senang jika si ibu bilang, “aduh maaf dek, saya sepertinya tidak bisa bantu.” Kalimat ini terasa lebih melegakan dibanding menggunakan “cobanya”

Ini seperti mengiming-imingkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Memberi harapan palsu yang kenyataannya sudah pasti tidak akan terwujud.

Mungkin memang cuma kata-kata, tapi bagi saya diksi, atau pilihan kata sangat penting untuk membentuk sikap mental dari masing-masing penutur.

Jadi kesimpulannya, sebisa mungkin saya hindarkan penggunaan kata ini. Dan jika ada diantara teman yang mengucapkannya, saya dengan senang hati akan menjelaskan dan memberikan alasan kenapa saya tidak ingin kata itu digunakan

Kerja untuk Mahluk

Pernah gak kita merasa hasil kerja kita tidak dihargai? Pernah gak kita merasa dijelek-jelekan terus dengan kerjaan yang dulu-dulu?

Saya pikir di dunia kerja semua itu bisa terjadi. Jangankan pekerjaan yang tidak dilakukan dengan benar, yang sungguh-sungguh kita usahakan pun bisa dianggap tidak ada apa-apanya.

Beberapa hari lalu saya tersinggung, karena perkataan salah seorang pimpinan saya. “Itulah kenapa saya tunjuk dia (seorang konsultan di luar dari management) untuk bisa menyelesaikan persoalan ini. Coba saja sudah berapa orang yang kerja …, … dan …. termasuk Lily, tidak ada yang selesai.”

Nyessss.. hati ini rasanya gimana gitu, langsung deh rasanya galau tingkat tinggi. Saya tidak mau membela diri cuma saya merasa agak kurang bijak saja menyampaikan itu di depan kami-kami semua. Dan sebenarnya semua punya andil mengerjakan pekerjaan tersebut cuma kebetulan akhirnya saja yang pada posisi “selesai” dan itu sudah diakui sebagai hasil kerja yang sempurna. Saya mikir juga biaya yang dikeluarkan untuk orang luar tersebut tidak sedikit, belum lagi fokus kerjanya cuma itu. Banyak sekali alasan-alasan yang muncul di kepala gara-gara pernyataan tersebut, biasalah manusia selalu gak pernah mau disalahkan.

Nah itu baru di kepala, di hati lain lagi. Saya malah sudah kepikiran yang aneh-aneh. Saya merasa apa apa yang sudah saya lakukan tidak ada artinya. Nyesek kan… Sampai saya berpikir ya sudah, ternyata managemen hanya menganggap saya seperti itu. Tak berguna

Muncullah niat untuk mengajukan pengunduran diri, berpikir untuk mencari pekerjaan lain dan sebagainya hanya karena perasaan kecewa.

Nah kecewa!

Beruntung sepanjang perjalanan saya berpikir, setelah dapat wejangan yang benar-benar menyentuh hati yang paling dasar. “Allah tidak akan berhenti menguji kita dari orang-orang di sekitar kita.”

Benar juga, kenapa saya yang harus bersikap lebay seperti ini? Bukannya saya harus mengerti apa maksud yang disampaikan oleh yang bersangkutan. Apalagi saya tahu ada kepentingan di baliknya. Lalu kenapa saya harus galau? Kenapa harus kecewa.

Terlepas dari hal tersebut, saya jadi menyadari, kembali menyadari bahwa seharusnya pekerjaan yang saya lakukan harusnya bernilai ibadah di mata Allah. Lalu jika saya masih memikirkan kesan dari mahluk lain terhadap apa yang saya kerjakan artinya niat tersebut sudah bergeser. Astaghfirullah saya harus memperbaiki hati dan pikiran saya. Tidak pantas hati saya menjadi galau hanya karena kesan seorang mahluk, kerisauan saya seharusnya hanya jika saya kurang beribadah, tidak melakukan semuanya karena Allah.

Alhamdulillah saya merasa jadi lebih enteng, saya tidak peduli lagi dengan kesan atau pendapat yang ada. Saya cukup menjaga niat saja, bekerja sebaik-baiknya untuk kepentingan perusahaan dan saya tetap harus belajar. Jadi jika ingin bekerja untuk mahluk siap siap merasakan hal yang saya sampaikan di atas 🙂

 

Ganbatte!

Kerja karena Rok Mini

Sebenarnya kisah ini selalu diceritakan jika Bapak yang dulunya jadi pimpinan saya ini bertemu dengan orang lain. “Jadi dulu ya, kan dia nih di business center,” katanya sambil nunjuk ke saya. “Saya heran kenapa orang Jepangnya selalu saja ke ruangan itu, katanya untuk bantu mengurus administrasi sewaktu perusahaan baru mau didirikan. Begitu saya ke sana, wah ternyata ini penyebabnya, yang jaga pakai rok mini.” kata beliau sambil tertawa

Dulu di hotel Sahid saya bekerja di bagian pengolahan data, tetapi karena dianggap masih bisa membantu di bagian lain akhirnya saya nyambi juga di business center. Dan itu memang kisah awal saya bertemu dengan pemilik perusahaan tempat dulu saya bekerja yang sekarang masih beroperasi di KIMA Makassar.

“Bagaimana kalau kita ajak saja gabung di perusahaan,” begitu katanya usulan dari Bapak ke orang Jepangnya. “Wah boleh…,” kata si pemilik perusahaan

Jadilah saya bekerja selama total 13 tahun di perusahaan tersebut. Alasannya hanya karena rok mini (hihihi)

Alhamdulillah rok mini juga yang membawa saya ke arah yang tepat. Bekerja sama di lingkungan teman-teman yang selalu menutup aurat dengan baik membuat saya merasa risih sendiri. Kadang malah jadi mikir macam-macam kalau teman-teman cowok tiba tiba duduk di meja depan. Ini mau ngobrol atau mau lihat ke bawah :p

Akhirnya kondisi semakin tidak nyaman, perlahan lahan saya mengubah cara berpakaian saya, roknya semakin panjang dan akhirnya menutup sampai ke mata kaki.

Untungnya dengan berlalunya waktu,  saya masih dianggap berguna di tempat kerja itu. Kira kira jika saya sudah tidak memakai rok mini dan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja mungkin saya langsung dipecat. 😀

 

 

Tag cloud: