Blog
Kisah Di Balik Perjalanan Kali Ini
Setiap perjalanan pasti mengandung cerita, apalagi perjalanan itu bisa membuat kita untuk belajar merefleksi diri, kontemplasi.
Baru-baru ini saya mengunjungi anak-anak yang sedang mondok di Pesantren Al-Fatah Temboro, Karas-Magetan. Kunjungan ini jadi spesial karena saya sudah tidak memecah pikiran saya ke anak-anak yang bebeda tempat pemondokan. Amdan yang seharusnya masuk sekolah setara SLTP sudah bergabung bersama kakaknya di pondok yang diasuh oleh para karkun.
Rute perjalanan kali ini saya ambil melalui Solo, walaupun saya kurang suka karena harus naik bis dari Solo ke Maospati, tetapi tidak ada pilihan pas yang lain. Jika ke Madiun, kereta tiba pukul 2 pagi, akan lebih sulit untuk bisa ke Maospati sendirian di jam segitu.
Bertemu dengan anak-anak memang seakan memberikan energi baru untuk mereka, tetapi sekaligus menguras energi saya. Energi semangat yang saya siapkan tiba-tiba menguap melihat keadaan Amdan yang kurang sehat. Apalagi mendapat informasi dari kakaknya bahwa dia jarang makan. Mungkin tahun pertama akan berat bagi dia, semoga dia bisa melaluinya. Penyesuaian lingkungan dan makanan bukan hal yang mudah. Tetapi itulah tantangan yang harus mereka pelajari. Kehidupan yang tidak tergantung kepada tempat tetapi kepada hati dimana kita bisa membuat nyaman dimana pun kita berada.
Cuaca mungkin punya peran juga. Panas kering dan debu yang beterbangan membuat dia diserang penyakit flu dan batuk. Saya pun memcoba memberikan obat yang saya pikir memungkinkan untuk menyembuhkannya. Tetapi masih belum maksimal. Malam dengan demam tinggi dia bisa mengigau dan sulit untuk menenangkan. Sampai saya harus berjanji membawa dia jalan-jalan ke kota Madiun, barulah dia tenang. Ok, mungkin dia butuh hiburan dari tekanan keadaan, culture shock yang dia rasakan.
Perjalanan ke Madiun tidaklah terlalu sulit. Dengan bantuan google map dan bertanya sana sini, akhirnya kami tiba di Madiun. Suasananya memang sudah “kota” kita mengunjungi Plaza Madiun tempat saya membelikan jaket untuk Amdan yang mengeluh kedinginan setiap subuh. Sedikit hiburan menurut saya perlu untuk menetralisasi keadaan Amdan. Walaupun tidak menyembuhkan secara fisik.
Kita ditipu sama tukang ojek ya Ummi?
Itu kata Amdan ketika pulang kami cuma membayar 15.000,- per motor dari Maospati ke tempat kost dekat Pondok Utara.
Kenapa nak? tanyaku
Tadi waktu pergi kita diminta Rp. 20.000,- untuk yang boncengan dua (saya dan Amdan).
Amdan memang detail, dia suka memperhatikan hal-hal kecil dan mengolahnya dalam pikirannya sendiri. Saya juga sempat mengolah hal yang sama. Betapa di daerah yang seharusnya ikram (melayani sesama) jadi utama, malah ada yang hitung-hitungan.
Semua kembali ke pribadi orang-orang nak, jawabku. Kalau pun dia meminta lebih dari kita berarti rezeki di tempat lain sudah dikurangi. Makanya kita jangan hitung-hitungan kalau mau membantu orang. saya menjelaskan dan berharap dia mengerti.
Di Madiun pun kita mendapatkan pengalaman serupa. Becak yang kita sudah tawar dan sepakat di harga Rp. 20.000,- saat turun tetap meminta tambahan Rp. 10.000,-
Awalnya saya dalam hati sudah niat memberikan tambahan Rp. 5.000,- karena merasa tukang becak ini sudah tua dan memuat kami bertiga pasti berat. Tetapi ketika dia meminta lebih, uang saya kasih tetapi sudah tidak mendapat keikhlasan dari saya. Gantiannya adalah perasaan tidak senang karena cara yang tidak sepantasnya dia lakukan.
Gak apa apa nak, rejeki itu Tuhan yang atur tapi kalau kita ngotot dan membuat orang tidak ikhlas sepertinya tidak akan berkah, itu pun akan habis dengan sia-sia. Jadi jangan lihat nilainya. Penjelasan ini saya sampaikan ke anak-anak untuk mengingatkan diri saya sendiri. Toh setelah uang itu berpindah tangan dengan perasaan yang ada pada saya, case closed! selanjutnya urusan Sang Pengatur.
Begitu kami kembali dari Madiun, kondisi Amdan tidak semakin membaik, untungnya ada ustad yang bersedia mengantarkan dia ke dokter. Rp. 35.000,- biayanya sudah termasuk obat. Ya sudah, terimbangi sudah, saya cuma bisa berterima kasih dengan ustad yang membantu dan memang secara kebetulan berkunjung mencari Jihad, disertai dengan doa kepada dokter semoga selalu berkah. Hitungan materi dan tingkat keikhlasan itu jadinya berbanding terbalik. Tapi kembali lagi, setelah tiba pada titik itu, bukan urusan saya lagi.
Memang saya suka melakukan perjalanan ke mana pun, karena dari setiap pengalaman dan interaksi dengan orang lain pasti ada pembelajaran yang bisa kita raih. Dan saya sangat senang jika bisa bersama dengan anak-anak, saya pada saat itu juga bisa berbagi pemikiran terhadap pengalaman yang kita lalui bersama-sama.
Adek Amdan, cepat sembuh yah :*
Buku yang Perlahan-lahan Terhapus
Saya agak kurang paham dengan kesukaan teman-teman mengunjungi kota-kota besar semisal Singapura. Percaya atau tidak, begitu disebut nama negara itu sebagai ajakan untuk liburan saya langsung merasa malas. Apa yang bisa saya nikmati di sana ya? Saya pikir kota itu cuma cukup sekali saja jika berniat untuk dikunjungi, setelah itu, mending mencari tempat lain.
Saya mungkin keliru dengan cara pandang saya terhadap Singapura, tapi terus terang saya tidak melihat ada “kisah” di sana. Yang saya lihat adalah hasil karya imanjinasi orang-orang kini yang memang disepakati dengan istilah modern, metropolitan penuh gemerlap dan semuanya serba wah!.
Beda rasanya ketika mengunjungi Penang, Malaysia. Kota yang masih memelihara warisan gedung-gedung yang punya kisah di retakan dan kusamnya warna dinding yang berjejer di sisi–sisi aspal. Seperti ingin memancing kita untuk mencari tahu ada cerita apa yang sudah disaksikannya. Semua terasa penuh misteri. Tetapi tidak menjadikan kota Penang seperti tempat yang kusam dan tidak menarik. Perkembangan ekonomi seiring dengan berdirinya bangunan kokoh juga nampak, tapi tidak lantas menggerus cerita, menghapus jejak para penghuni terdahulu kota tersebut.
Sebagian daerah Georgetown di Penang bisa menjadi bukti. Georgetown sudah menjadi situs yang dilindungi oleh UNESCO dan saya menikmati eksplorasi sejarah di sana, seperti membuka lembar-lembar buku tua yang berseri yang tidak akan habis terbaca. Mungkin itu rasa yang membedakan cara pandang saya terhadap dua kota tersebut. Yang satu cukup saya pandang sekali, selesai. Sementara yang lain setiap pandangan mengandung kisah, setiap sudut mengandung cerita.
Lalu bagaimana dengan kota kelahiran saya? Makassar memang sudah banyak berubah. Saya memang tidak bisa menyalahkan tuntutan globalisasi yang akhirnya menyamakan semua kota menjadi kaku, gemerlap, padat dan kotak-kotak. Bahkan bebarapa kota berkembang pun berburu label “sister-city” dengan kota-kota besar lainnya. Keunikan perlahan lahan terhapus.
Seperti merobek-robek buku yang sudah ditulis oleh orang tua kita. Begitulah saya menganalogikan sikap kita terhadap perkembangan kota yang ada. Siapa yang bisa disalahkan, tuntutan ekonomi, perubahan tantanan sosial dan yang pasti sikap moral menghargai sejarah kita sudah berkurang. Jadinya pemilik rumah antik pun rela menguangkan harta warisannya untuk diubah menjadi bangunan kotak yang menebalkan kantong para pencari untung.
Kisah yang saya miliki tidak tergambar lagi di dinding-dinding rumah, di jalan-jalan yang saya lalui, tempat-tempat yang dulu saya kunjungi. Semuanya berpindah alam, cuma tertinggal dalam pikiran saya saja, tidak ada lagi yang bisa saya wariskan ke anak-anak saya. Karena apa pun yang saya ceritakan akan tergambar dalam angan-angan mereka saja, tidak ada lagi yang nyata.
Coba dibayangkan berapa banyak cerita yang hilang yang terhapus. Anak-anak saya mungkin tidak akan tahu lagi tentang cerita tentang kuburan di lapangan Karebosi, dimana sewaktu kecil saya bisa berdebar-debar ketika berjalan di atas rumputnya. Takut tiba-tiba menginjak kuburan yang menyebar dengan kisah keramatnya. Tentang kisah perjuangan para lelulur mempertahankan diri disepanjang pantai dari Tallo ke Somba Opu. Yang bahkan disisinya sudah terbangun Taman Bermain modern yang seketika mengecilkan arti para pejuang kita. Terganti dengan manusia-manusia yang ego yang lupa akan kearifan-kearifan yang mungkin saja diwariskan melalui kisah dari bongkahan-bongkahan batu yang tersisa. Ya, kita cuma bisa melihat bangunan yang hampir sama diseluruh arah, rumah toko dan swalayan. terbayang manusianya…
Semua kisah yang saya sampaikan mungkin hanya akan berupa dongeng buat anak cucu saya nanti. Saya cuma berharap sebagian dari kisah-kisah yang jika masih ada tersisa, dapat dijaga dan dilestarikan. Semoga pemimpin kota yang baru ini punya hati dan kepedulian menghargai peninggalan para orang tua kita. Minimal tidak mengubah cerita itu menjadi pundi-pundi uang yang nantinya akan hilang juga bersamaan dengan nafsu materialistik yang semakin mendominasi orang-orang masa kini.
Hanya itu harapan saya yang dari buku yang tersisa…
—–
Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan @iPulGS dalam menyambut #SewinduAM yaitu BlogBucket dengan tema Seputar Kota. Dan berikutnya saya menantang @dgrusle dengan tema Kegiatan keseharian, kalau sudah jago menulis tema yang berat, coba kita tantang dengan menulis tema yang mudah ^^V
Selamat ulang tahun @paccarita semoga tetap menjadi keluarga yang apa adanya :*
Merajut Cinta Setiap Hari
Mencintai adalah kebutuhan. Saya sangat yakin tentang itu. Semua agama yang mengajarkan tentang kebaikan pastilah didasari oleh rasa cinta kasih. Pengakuan kepada Sang Pencipta, perhatian kepada dunia dan sesama bahan dasarnya adalah cinta.
Coba saja penuhi hari dengan cinta, hidup terasa akan lebih tenang. Mencintai apa saja yang ada disekitar kita, menurut saya adalah wujud kesyukuran kita kepada Maha Pencipta. Menyadari yang ada, dibalas dengan kasih sayang.
Cinta alam semesta, udara, nafas pagi hari… semuanya menjadi indah.
Mencintai mahluk di sekeliling kita, orang-orang yang ada dalam lingkar hubungan kita, binatang yang kita temui, bahkan pepohonan yang kadang terabaikan keberadaannya padahal mereka mengandung cinta kasih yang sabar, setia memberi tanpa pernah terdengar keluh.
Jika sampai saat ini saya masih menganggap bahwa saya butuh dicintai, itu masih keliru. Kebutuhan sebenarnya adalah menjadi subyek. Rasa cinta yang lahir dari dalam diri adalah obat untuk pribadi dan semesta. Cahaya terang yang terpancar menyala dari hati yang penuh cinta akan menerangi alam, menyentuh rasa mahluk lain menyebar dan menjadi satu dalam wujud pengakuan akan berkah yang diberikan oleh Ilahi.
Terlalu luas? kita buat lebih sederhana.
Setiap hari saya butuh waktu untuk kontemplasi, menyadari tentang kebutuhan akan mencintai, menyalurkan rasa kasih yang sudah sangat besar saya terima dari Pemilik semesta. Namun kesibukan material kadang membuat saya melewatkannya. Membangkitkan kesadaran mencintai tidak mudah, tidak setiap saat colekan Tuhan akan rasa dan pikiran itu kita tangkap karena antena kita yang dipenuhi oleh materi yang kasat dan yang menempatkan diri sebagai yang paling utama.
Akhir-akhir ini saya menyadari. Saya tidak harus sengaja duduk tenang untuk mengundang rasa itu, saya bisa menggabungkannya dengan materi. Mewujudkan rasa cinta itu dengan setiap gerakan jari, memandang benang, menatap alat rajut dan membayangkan hasil akhir dari setiap rajutan yang saya buat.
Pada saat merajut saya bisa sadar, bisa berpikir, menuangkan rasa dan kasih kepada materi yang saya karyakan untuk seseorang yang ingin saya beri. Saat itu saya merasakan kesadaran mencintai terasa, bahkan mengalahkan perasaan yang membawa energi negatif yang kadang tak kita sadari menguasai hati dan membuat hidup ini menjadi berat. Melupakan kesyukuran yang seharusnya.
Setiap gerakan tubuh, kesadaran berpikir, gelombang rasa kasih yang harusnya saya tebarkan tertuang pada satu materi yang akan menjadi penyembuh jika ada rasa sakit, penyehat untuk hati yang lemah.
Saya merajut karena saya butuh untuk mencintai. Mari wujudkan rasa tebarkan ke sekeliling, biarkan alam yang mengumpulkan partikel ungu yang kita hasilkan dengan kesadaran akan cinta kasih.
Tulisan untuk #BOMBEMA2014
Numerologi dan hidupku
Saya tertegun dan menatap mata yelly yang bening kecoklatan terbias karena lensa kontak yang digunakannya. Dia dengan gamblang menyampaikan tentang keadaan hidup saya seperti buku yang sudah tercetak rapih dan siap dibaca.
Saya menatap kertas yang bergambar piramida terbalik, berisi angka-angka yang tidak saya mengerti dari mana asalnya, kecuali deretan paling atas di piramida itu, tanggal lahir saya.

“Ibu, di sini terlihat ibu mengalami kegagalan dalam berkeluarga, dan punya potensi untuk bunuh diri”. Sadis yah. Seperti kisah-kisah drama korea saja. Tetapi memang itulah yang terjadi.
Saya menerawang, mencoba mencari-cari serpihan kisah-kisah hidup saya yang berhubungan dengan itu. Memang benar adanya. Ini sepertinya bukan ramalan, tetapi konfirmasi saja terhadap apa yang saya sudah bawa sejak lahir, ya.. melalui tanggal lahir itu.
“Ibu ini orangnya dekat sama orang besar, tetapi tidak langsung. Mungkin karena kerjaan atau hubungan kekerabatan”, Yang ini entahlah. Saya dari dulu menganggap semua manusia sama saja.
Saya penasaran, lebih lanjut saya mengajukan beberapa tanggal lahir lagi, milik orang-orang terdekat saya. Karakter yang disampaikan pun cenderung sama. Menilik sampai ke unsurnya dimana hubungan dari dua karakter bisa lebih dominan dari yang lain. Ini super, pikirku
Numerology, saya jadi tertarik dan mencari tahu tentang ilmu ini. Saat sekarang memang sudah berkembang, dan dijadikan sebagai salah satu tools bagi paranormal untuk mengungkap apa yang tak terbaca secara umum. Saya menganggap ini ilmu pengetahuan, sama seperti tanggapan saya terhadap hasil fingerprint test yang dilakukan oleh kedua bocah saya. Horoskop dan Shio memang bukan untuk dipercayai tetapi bisa menjadi petunjuk. Itu menurutku
Saya tidak berpikir satu metode bisa mewakili membaca pribadi secara keseluruhan tetapi dengan banyaknya referensi justru saya bisa memiliki data potensi khususnya tentang diri saya dan orang-orang terdekat saya. Kapasitas dan kelemahan pasti terlahir bersamaan dengan munculnya kita di dunia ini.
Memang benar, sejak kita mulai bisa memisahkan mana antara bahagia dan derita, antara sukses dan melarat, antara jahat dan baik. Kita melihat diri kita menjadi sesuatu yang cenderung kita inginkan. Tetapi apakah itu bisa diubah? Saya tidak mau berpikir terlalu jauh. Mungkin memang ada yang terlahir sebagai orang yang nantinya jadi pemimpin, tetapi bisa jadi jahat atau baik. Menurut saya kesadaran adalah yang paling utama. Menyadari takdir kita dan saya tidak akan menolaknya. Saya punya keyakinan jika saya mencintai apa yang saya miliki sekarang itulah yang terbaik.
Begitu pun untuk orang-orang lain. Saya jadi bisa melihat dan belajar untuk memaklumi karakter orang lain. Tidak perlu menyalahkan tetapi dengan segala kelebihan bisa dimaksimalkan, kekurangan bisa diminimalisir. Belajar membaca membuat saya sadar. Ada hal yang tidak bisa saya pilih. Yang bisa saya lakukan adalah mencintai hidup saya yang sekarang.
Jika saya mengingkarinya, saya yakin keburukan akan lebih dari sekadar takdir yang sudah dituliskan.
Jaga niat dan berbuat tulus penuh kasih sayang. Itu saja kuncinya.
Sinjai, a part of me from here
Saya seharusnya merasa bersyukur, akhirnya bisa berkunjung ke Sinjai. Kabupaten yang terletak di sebelah timur Sulawesi Selatan. Sinjai harusnya jadi daerah yang spesial buat saya. Selama ini saya cuma mendengar dan membayangkan keadaan kota kabupaten ini dari ibu saya saja. Nenek dari ibu saya memang berasal dari Sinjai, tepatnya daerah Balangnipa. Seorang yang katanya terlahir bersama biawak. Zaman itu pasti lazim dengan kisah-kisah seperti itu.

Saya berkunjung ke Sinjai dengan tujuan menghadiri Indonesia Linux Conference. Kumpul-kumpul para simpatisan operating sistem linux dan aplikasi open source di Indonesia. Berangkat dari terminal Malengkeri, rute yang dilalui oleh angkutan umum ini memutar ke arah selatan, melalui kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Waktu yang kami habiskan dalam perjalanan ini adalah 6 jam. Walaupun memutar jalan yang ditempuh tidak terlalu berliku. Kecuali ada beberapa berbaikan jalan di perbatasan Bulukumba dan Sinjai.
Berangkat jam 10 pagi kami akhirnya tiba di Sinjai pukul 4 sore. Bertepatan dengan berakhirnya acara seminar sehari yang akan dilanjutkan dengan Pertemuan KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia) dari berbagai daerah seluruh Indonesia.
Bertempat di pulau Sembilan. Sembilan pulau yang berkumpul di sisi timur pantai Sinjai. Salah satunya menjadi tempat pertemuan itu. Dengan mengendarai speed boat sekitar 20 menit kami akhirnya tiba di desa nelayan dan mengikuti kegiatan puncak ILC 2014 ini.
Memang saya merasa kurang maksimal, karena sebagian teman-teman harus pulang dan tidak mengikuti meeting ini. Tapi yang membuat saya antusias adalah laporan dari teman-teman berbagai daerah yang masih terus giat bergerak untuk sosialisasi penggunaan open source. Kegiatan mereka memang tidak dipromosikan besar-besaran tidak megah, tetapi apa yang mereka lakukan adalah memberikan kontribusi yang nyata pada penyebaran penggunaan open source. Itulah komunitas.
Karena waktu yang terbatas saya tidak bisa menjelajah atau ber-napak tilas di kota kelahiran nenek buyut saya. Saya pun yakin ibu saya sudah lupa dengan keadaan di kota itu. Tetapi di dalam tubuh saya membawa bagian dari daerah ini.
Segala kekurangan semoga menjadi pelajaran untuk yang berikutnya. Begitulah harapan saya untuk ILC tahun berikutnya yang akan diadakan di Tegal.

Yang berkesan adalah kulinernya. Kami sempat diantar oleh @irhapunya dan enal (Relawan TIK) dijamu di TPI Lappa. Tempat Pelelangan Ikan dimana kumpulan orang masih antusias mendengar besaran rupiah yang disebutkan meningkat bertahap seiring persetujuan dari orang yang ingin membeli. Benar-benar transaksi lelang. Melihat ikan-ikan yang diangkut turun dari perahu. Yang pasti daging putih, gurih dan manis tak terlewatkan dikecap oleh lidah yang selama ini merindukan kesegaran itu.

Perjalanan pulang melalui rute yang lain, daerah Camba. Melalui pegunungan yang berliku dan saya beruntung mengadakan perjalanan di malam hari sehingga saya tidak perlu merasa takut dengan jurang yang mungkin ada di sisi kiri dan kanan jalan. Lebih cepat dari jalur selatan. Sekitar 5 jam perjalanan saja. Sempat melambat juga diakibatkan padatnya kendaraan terutama truk yang lalu lalang di jalur tersebut.

Saya masih berharap bisa berkunjung ke Sinjai lagi, berharap benar-benar bisa merasakan kedekatan dalam diri saya.
TSM, Tempat Semua Menyatu
Keluarga saya beragam. Dari sudut agama dan status sosial dengan saudara-saudara sangat berbeda. Walaupun sejak kecil kami memulai kehidupan dengan sumber yang sama, didikan yang sama, namun proses perkembangan pribadi dan lingkungan yang berbeda menjadikan kami menentukan arah sendiri-sendiri.
Sejak menjadi mualaf, berpindah keyakinan memeluk agama Islam, terus terang perbedaan itu terasa juga. Walaupun dari saudara-saudara lain tetap berusaha untuk bisa menyatu. tetapi tidak akan sama seperti dulu. Itu yang saya rasakan. Rasa canggung, ragu dan takut membuat ketersinggungan yang tidak sengaja tetap saja ada.
Kakak perempuan saya yang sudah lama merantau di Jakarta memang memiliki kehidupan ekonomi yang lebih dari saya. Di saat liburan sekolah dia dan keluarga pulang ke Makassar. Bareng dengan ibu saya yang juga tinggal bersama dia dan keluarganya di Jakarta.
Saat itu di Makassar baru didirikan dengan megahnya, Trans Studio Makassar. Indoor Theme Park, sebuah tempat rekreasi yang unik dan terbesar ke-3 di dunia saat itu.

Sudah merupakan kebiasaan dari orang-orang di Makassar. Sesuatu yang baru pasti heboh. Demikian juga dengan hadirnya Trans Studio Makassar ini. Apalagi Trans Studio Makassar adalah satu-satunya theme park yang ada di Makassar ini menjadi kebanggaan kota dan masyarakat Makassar. Kakak saya pun tertarik untuk mengajak kami-kami semua mengunjungi dan bermain di theme-park yang luasnya sekitar 2,7 ha dengan tinggi 20 meter.
Saat itu kali pertama kami bermain bersama-sama. Ibu saya, kakak saya, saya dan anak-anak kami semua mengunjungi Trans Studio Makassar. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah megah. Saya sampai tidak berhenti mendongakkan kepala, memandang sekeliling melihat design interior dan bangunan-bangunan bertema yang sangat menarik.
Seketika saya sudah tidak merasakan bahwa kami datang dengan perbedaan. Kekaguman kami yang menyatu beriringan dengan keceriaan anak-anak yang begitu antusias untuk mengikuti semua permainan yang disediakan di sana.
Dari Trans City Theater hingga Dunia Lain, semua kami jelajahi. Yang paling menyenangkan bagi saya adalah Sepeda Terbang (Flying Bicycle). Disitu jelas sekali maksudnya, jika ingin diatas kita harus berusaha dan bekerja sama untuk meraihnya, begitu yang saya sampaikan ke anak-anak saya. Karena tidak ada batasan umur untuk permainan ini kami bisa bermain bersama-sama.

Dunia Lain adalah favorit anak-anak. Mereka menikmati rasa takut yang tercipta dunia buatan itu. Saya bahagia melihat mereka menikmatinya.
Tidak adalagi status sosial yang berbeda, tidak ada lagi agama yang hingga saat ini dijadikan pemisah antar saudara bahkan sebangsa. Trans Studio Makassar menyatukan kami. Bercanda, tertawa seakan tidak ingin berhenti. Saya masih ingat ibu saya dengan penuh kasih sayang mengingatkan anak-anak saya untuk sholat. Dan saya bersyukur tempat ibadah yang disediakan pun tidak seadanya. Kami akhirnya menghabiskan waktu dari pagi hingga malam dalam penyatuan yang membuat kami terhubung satu dengan yang lain.
Momen dimana saya melihat, seharusnya suasana kegembiraan dan bermain bersama seperti anak-anak yang tidak perlu disibukan dengan pikiran tentang batasan perbedaan. Seharusnya dunia Trans Studi Makassar menjadi dunia bagi kita semua. Dunia impian untuk bisa hidup damai dalam perbedaan.

Album foto menjadi bukti kedekatan kami, menjadi awal hubungan yang lebih cair di masa-masa berikutnya. Mungkin sekarang kami tetap berjauhan, tetapi kenangan ini menjadi dasar yang berkesan. Semoga Trans Studio Makassar tetap menjadi penghubung, Tempat Semua Menyatu.
Menjejaki Silsilah Keluarga Melalui Nama
Ibu saya sampai sekarang menyimpan buku silsilah marga Ceng (曾). Marga dari ayah saya suku Hakka (Chinese). Buku itu adalah daftar keluarga yang dimiliki oleh marga dari keluarga dengan tujuan untuk tetap bisa berhubungan dengan para keluarga besar. Saya masih ingat waktu buku itu dibuat saya masih di Sekolah Dasar. Konfirmasi waktu itu hanya memakai telpon rumah saja.
Sejak ayah saya meninggal, ibu saya mulai kuatir. Kita mulai terpisah jauh dari keluarga ayah dan buku silsilah pun pasti sudah tidak terupdate dengan baik. Hubungan dengan keluarga ayah memang tidak terlalu dekat, mungkin juga karena marga 曾 hanya sedikit jumlahnya. Kekuatiran ibu saya jelas. Dua putra pembawa marga dari ayah masing masing punya putra 1, dengan demikian itu akan berlanjut terus. Karena marga Chinese dibawa oleh kaum pria.
Saya yang juga penasaran akhirnya mulai mengingat-ingat nama yang diberikan oleh ayah saya. Akhirnya dengan bekal teknologi dan om gugle tentunya saya akhirnya bisa mempunyai catatan tentang nama saya.
曾 美兰 (Ceng Mei Lan) Marga Ceng adalah dari suku Hakka atau lebih dikenal dengan istilah Khe’. Suku ini terbilang sedikit di China. Karakter Mei yang saya kenal justru dari tulisan kanji (bahasa Jepang) yang dibaca utsukushii yang artinya lovely atau cantik. Sementara Lan menurut ayah saya artinya putri yang bungsu. Namun berdasarkan sumber lain, Lan juga bisa berarti orchid atau elegant.
Penggantian nama yang harus di Indonesiakan karena berubah warga negara menjadikan saya sebagai Lily. Saya sendiri menganggap diri saya sebagai water-lily bunga teratai yang filosofinya juga dalam.
Dalam pencarian saya terdapat juga hal yang lucu. Nama Mei Lan ternyata juga nama seekor panda yang lahir di kebun binatang Atlanta yang berarti Atlanta Beauty. Nama Mei Lan memang lebih cocok untuk perempuan, tetapi setelah ilmuwan dari China datang mengecek, ternyata panda tersebut berkelamin jantan. Mei Lan juga menjadi Panda Ambassador untuk International NGO : World Wild Foundation dan Earth Hour

Saya juga menemukan referensi judul buku yang dikarang oleh Zeng, Lingcun,曾令存. berjudul, “Hakka (Chinese people) Chinese literature 20th century History and criticism” Menilik namanya berarti dia seangkatan dengan saya dan saudara-saudara saya. Huruf 令 (Lin) di tengah menandakan tingkatan dari silsilah. Nama tengah yang sama yang dimiliki oleh kakak kakak lelaki saya. Sepertinya buku ini akan menjadi referensi yang bagus untuk menambah wawasan saya mengenai suku Hakka.
Saya yakin, nama adalah doa yang dipanjatkan terus menerus oleh orang tua kita. Setiap kali dipanggil atau dipikirkan, kita pasti mendapat rahmat dari nama tersebut. Itu yang saya yakini. Oleh karena itu saya bersyukur nama yang diberi dan semoga harapan orang tua saya melalui nama ini akan tercapai sampai pada waktunya.
Tiada Tempat Nyaman selain Dekat Ibu
Semua bayi yang ada di kandungan pasti merasakan demikian. 9 bulan makan, tidur dalam perut ibu. Begitupun setelah kita-kita dilahirkan menjadi sosok yang mandiri. Proses melepaskan kelekatan kepada ibu memang susah, tetapi mau tak mau, seiring waktu berganti semua juga akan berubah.
Saya beruntung, walaupun saya dianggap merantau karena tidak berada di tanah kelahiran, saya masih bisa dekat dengan ibu. Karena ibu juga ikut kami merantau. Jakarta – Bekasi bukan jarak yang jauh lagi jika kita sudah sering menempuhnya. Apalagi dengan adanya commuter line. Saya dengan mudah bisa menyampaikan ke ibu saya jika saya pengen makan sesuatu.
Sebelum ke Bekasi, saya sudah mengirim pesan, mau makan ini atau itu. Dan semua bisa oleh ibu. Mungkin benar bahan makanan tidak akan sama dengan di Makassar, tetapi tetap saja saya merasakan kerinduan saya terpuaskan.
Baru-baru ini saya ke Bekasi lagi, dan ibu saya lagi getol-getolnya memasak, jadinya saya harus rela menjadi tempat penampungan hasil kreasinya. Dan ibu saya senang karena saya makan lahap, beruntung juga punya seorang anak yang ngekost, bisa kelihatan laparnya jika makan makanan dari rumah sendiri. Dan berikut hasil kerja tangan mama yang harus saya habiskan :
1. Ikan Goreng Sambel Tumis
Masakan ini makin lama disimpan makin enak saja rasanya. Begitu lihat di meja tanpa ba bi bu langsung ambil nasi sepiring, pakai tangan dan voila… begini hasilnya

2. Ikan Bakar
Ikan merah ini sayangnya berukuran kecil dari yang biasa saya makan. Tapi dagingnya yang putih bikin semangat makannya. Belum lagi rasa asin di kepala karena diberi garam sedikit saat dibakar. Bakarnya pun tidak kering, dibakar di wajan dengan sedikit minyak (bekas) :p Nikmatnya…
Sambelnya sederhana saja, sambel kecap plus jeruk purut ditambah cabe rawit dan tomat. Sangat tepat kombinasi rasanya

3. Kroket
Nah, sebenarnya saya sudah begah kekenyangan tetapi rupanya masih ada kericuhan di dapur. Rupanya persiapan pembuatan kroket berlangsung. Saya cuma membantu menghaluskan kentang yang sudah dikukus.. hanya itu. Sisanya saya tunggu kroket yang matang 😀

4. Palluce’la
Saya sudah berjanji dalam hati, tidak akan makan malam hari ini. Sudah terlalu banyak yang masuk di perut, tetapi siapa yang bisa menolak ini

Ikan banyar yang dimasak dengan air garam, kunyit dan serai. Sederhana tapi nikmatnya tiada duanya. Dan akhirnya membuat saya tidur dengan perut yang kenyang minta ampun.
Ke empat jenis makanan itu saya makan dalam waktu setengah hari saja. Dan keesokan harinya saya tetap menjadi pelanggan setia kuliner ibu tercinta.
5. Pepes Ikan
“Li, nia’ bainang kugappa”, begitulah ibu saya sudah lebih 10 tahun di Jakarta tetapi tetap saja menggunakan bahasa Makassar apalagi ke saya. Dengan senang dia memberitahukan bahwa belimbing sayur sekarang siap diolah sebagai bumbu pepes ikan, katanya dia lagi ngidam. Tapi efek ngidamnya bikin saya makan (banyak) lagi.

6. Pallu Kanji
Makan dulu sebelum pulang, pesan ibu saya. Sebenarnya kroket yang kemarin pun masih saya embat dua biji. Alasan tidak mau makan daging merah dan sayur hijau bikin ibu saya komplain. “Sembarangan saja!”, katanya
Terpaksa dengan senang hati saya makan lagi, jam 3 sore sih sebelum balik ke kosan di Jakarta. Pallu Kanji adalah daging yang dimasak dengan tepung kanji dan sayur sawi hijau. Saya cuma berharap semoga nyut-nyut di telapak kaki tidak muncul sampai besok. Karena obat yang saya pesan sudah akan saya terima besok juga. Dan memang benar saya harusnya senang sudah menyantapnya.. puas dan kenyang rasanya. (Gak sempat difoto lagi, sudah keburu habis :D)
Alhamdulillah, tidak ada tempat yang nyaman untuk nafsu makan saya sejak dari janin hingga sekarang. Tetap saja masakan ibu saya adalah masakan terenak dari semua masakan chef di dunia. “Mau bawa pulang ke kosan? “, hihihi.. no thanks mama sudah sangat kenyang.
Semoga setiap makanan yang saya nikmati dan bersyukur menjadi doa yang tak henti hentinya, semoga ibu saya selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Amiinn..

Asam Urat dan Pola Makan
Waktu di Gelora Bung Karno setelah acara bersih-bersih dengan komunitas Osoji Jakarta, saya tergoda oleh promosi anak-anak mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang mempromosikan pemeriksaan kesehatan gratis. Wah tau saja kan, yang namanya gratis pasti menarik hati. Mereka rupanya juga ikut memanfaatkan keramaian di GBK. Awalnya cuma tensi darah, tetapi begitu ditawari untuk periksa kolesterol, asam urat dan gula darah akhirnya saya mau, walaupun malas harus ditusuk-tusuk pakai jarum serupa pen itu. Terlanjur menurutku.
Hasilnya adalah :
Kolesterol masih dalam batas normal, gula darah kurang katanya, mungkin karena saya memang belum sarapan pagi itu. Tapi yang pasti dengan itu saya tidak perlu kuatir dengan diabetes. Yang masalah adalah Asam Urat. OMG .. dari standar maksimal untuk wanita adalah 5, asam urat saya sudah mencapai 9.5 hampir dua kali lipat.
Memang sih sudah mulai terasa nyut-nyut di telapak kaki. Itu pasti tanda asam urat saya naik. Abis makan tape, makan daging beberapa kali berturut turut sepertinya purin di dalam darah makin menjadi jadi banyaknya.
Peringatan ini sudah cukup bagi saya untuk tidak mentoleransi nafsu untuk makan makanan kesukaan. Akhirnya saya mulai mengubah pola makan (untuk sementara) 😀
Peringatan juga sih kalau ditawari sesuatu yang gratis harus nanya detailnya, ternyata yang dimaksud gratis cuma tensi doang.. sisanya bayar :p
Berikut menu sarapan dan makan malam yang sehat, sementara untuk siang boleh lah makan sesukanya (teteuppp..)

Untuk meredakan asam urat saya minum obat tradisional Assalam yang terbuat daun tapak kuda atau yang dikenal dengan daun pegagan. Untung masih punya sebungkus dari sisa kemarin-kemarin, berarti itu cuma cukup sehari. Tapi sehari pun manjur menghilangkan nyeri di telapak kaki. Untuk orderanya terpaksa meminta tolong teman di Bantaeng (jauh ya..) ^^
Ya semua penyakit memang tergantung dari apa yang berlebih. Cuma sepertinya kadar keseimbangan seseorang pasti berbeda beda mungkin memang harus kita mulai belajar mengenali tubuh kita sendiri. Perbedaan genetik bisa membuat treatment dan bahan untuk menyeimbangkan berbeda beda, menurutku pengamatan saya selama ini 😀
Yang umum adalah banyak minum air putih dan berolah raga.. insya Allah kita masih diberi kesempatan untuk beraktifitas sehari hari
Mindahin Data Quickvoice dari IPad ke PC
Pernah berasa gak kalau makai produk apple itu ribetnya minta ampun. Ya itu hanya berlaku pada orang yang gak punya duit banyak seperti saya ini. Jadinya punya iPod, iPad tapi gak punya Macbook. Otomatis ngurus-ngurus datanya pake iTunes yang diunggah ke PC biasa. Yang saya rasakan masalah waktu ingin memindahkan data dari iPad ke PC. iTunes sebenarnya lebih diperuntukkan satu arah. Sumbernya dari PC kemudian ke perangkat mobile. Makanya sempat kesulitan lagi, soalnya jangan coba klik Sync kalau tidak mau data yang di iPad hilang semua. Saya penyuka Enka, musik tradisional Jepang yang anak-anak muda Jepang juga eneg dengarnya (katanya sih). Tapi entah kenapa saya suka sekali. Makanya saat karaokean saya mencoba merekam suara nyanyian saya dengan aplikasi Quickvoice yang dapat didownload dari App Store. Udah nyanyi pas dengar-dengar suara sendiri merinding juga. Bukan soal bagusnya tapi asli susah nyanyinya hasilnya pun saya dokumentasikan. Nah sekarang gimana caranya pindahin ke PC Setelah mencari-cari di internet ternyata ada aplikasi iExplorer (nah.. sepertinya yang sudah familiar sama Apple pasti tahu ini, saya aja yang bego). Aplikasi ini fungsinya persis sama explorer di Windows, bisa langsung memindahkan data dari iPad ke PC.
Mudah ternyata. Tetapi satu masalah lagi, file yang dihasilkan oleh Quickvoice ini ekstensinya adalah .caf. Balik lagi deh tanyain om Google. Rupanya ada converter online yang dibuat oleh orang baik hati alamat webnya : http://media.io/. Yang berbaik hati bisa mendonasikan ke yang punya lewat PayPal. Kalau saya gak dulu deh, baru nyoba soalnya hihihi Dengan aplikasi online tersebut jadilah file voice saya bisa diputar di aplikasi musik yang umum dengan menggunakan ekstensi MP3. Hasilnya dibawah ini :
Untuk embed voice ini saya pakai http://www.cincopa.com/ sepertinya bisa di plug-in di WordPress tapi nanti aja ah ^^. Ini penyanyi aslinya, Ishikawa Sayuri – Amagigoe Gak jauh jauh kan dari aslinya #hueekk :))

