Blog
Kamu dibenci, biarkan
Saya tidak pernah tahu, dan hal ini mungkin terjadi juga kepada yang lain. Seseorang bahkan sekelompok orang yang tidak suka dengan keberadaan kita, sikap kita bahkan perkataan kita.
Ini terjadi di lingkungan pekerjaan saat ini, memiliki banyak pimpinan juga membingungkan. Untungnya saya cuma berpatokan pada “bekerja untuk perusahaan”. Masih ada beberapa yang merasa harus tetap baik terlihat kepada pimpinan. Bagi saya itu bukan cara yang tepat. Saya lebih suka dengan menjalankan segala kegiatan pekerjaan dengan jujur dan berusaha yang terbaik dan seobyektif mungkin.
Kelihatan baik di depan pimpinan itu memang bisa menjadi tempat yang aman untuk menjaga keberlangsungan kita di perusahaan, apalagi ditambah dengan pimpinan yang “berkuping tipis”. Ini memang hal yang menguntungkan untuk karyawan-karyawan yang menganggap pimpinannya saja sebagai orang yang harus didengar yang lain lewat saja 😉
Tapi saya sulit melakukan itu. Saya suka blak-blakan. Berbicara apa adanya bahkan tidak ragu menyampaikan ide yang kemungkinan membuat pimpinan gak senang. Tetapi untuk kepentingan perusahaan saya selalu berpikir saya harus melakukan itu.
Baru baru ini saya dikaitkan dengan keberadaan saya yang memang melalui “referensi” untuk mendapatkan kesempatan di perusahaan. Sayangnya yang memberi referensi ini tidak begitu akur dengan keluarga lainnya. Apes lah saya dikait-kaitkan dengan keadaan tersebut. Tetapi kembali lagi saya berpikir, saya membuang waktu dan fokus saya jika membuat pendapat-pendapat subyektif ini berkeliaran di lingkungan kerja saya.
Satu satunya cara adalah menunjukan kualitas pekerjaan saja, masalah penilaian itu bukan urusan saya. Karena saya selalu yakin apa yang terjadi dan yang menjadi hak saya adalah memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Ya, keyakinan kita kadang kurang sehingga kita mengandalkan segalanya kepada mahluk. Tidak berarti kita lalai untuk bersikap sopan atau yang sewajarnya. Keyakinan ini pula yang menguatkan hati saya bahwa sebagai mana pun orang bercerita dan berpendapat tentang diri kita, jangan sampai kita “membenarkannya” dengan cara memikirkan atau bahkan menanggapi. Saya memang pribadi yang tak sempurna masih punya kekurangan dan saya harus menerima itu
Tetapi saya selalu mengingat quote tentang padi dan ilalang. Jika ingin memusnahkan ilalang jangan dengan cara ditebas atau dirusak, karena itu dapat membuat tanaman padi pun ada yang ikut tertebas. Tetapi dengan menumbuhkan banyak padi, ilalang itu akan hilang dengan sendirinya.
Jadi, daripada saya mendengarkan atau bahkan terpengaruh dengan pendapat negatif tentang diri saya, mending saya memusatkan perhatian dan meingkatkan semangat kerja sehingga bisa memberi kebaikan bagi orang-orang lain di lingkungan kerja dan ke perusahaan.
Ganbarimasu!
Kaku atau Lentur!
Tidak semua orang suka kota yang penuh hiruk pikuk seperti Jakarta. Saya pun demikian awalnya. Setiap akan ke ibu kota beberapa tahun lalu hati saya terasa berat, malas rasanya. Lalu kenapa sekarang saya menyukainya? Bahkan tawaran untuk balik ke kampung halaman sudah disampaikan tetapi saya kecenderungan saya tetap ke ibu kota yang penuh cahaya ini. Mungkin adaptasi saya selama hampir 4 tahun ini berjalan mulus. Nampaknya…
Saya merasa orang yang bisa survive di Jakarta adalah orang yang sudah ditempa dengan keadaan yang memang keras. Bentukan pribadi menjadi lebih jelas. Dari matahari terbit sampai terbenamnya, tidak ada kata “santai”. Bahkan untuk jalan kaki sekali pun, harus tetap waspada dengan trotoar yang dipenuhi bikers atau penjaja kaki lima. Belum lagi yang mengendarai kendaraan umum, bahkan berefek sampai ke pemilik mobil pribadi, sebagus apapun mobil yang dimiliki.
Tapi saya suka dengan Jakarta. Anggap saja latihan membuat hati ini lebih “dingin” dan bisa menghadapi keadaan sesulit apa pun. Saya tidak ingin menjadi manja, sedikit sedikit mengeluh. Di Jakarta saya bisa jalan jauh tanpa perlu berharap ada kenalan yang coba menjemput atau mengantar. Naik busway, commuter line, angkot semuanya sendiri. Dilalui dengan beberapa jam dalam keadaan panas pun tak masalah. Saya suka seperti itu, karena begitu balik ke keadaan seperti kota Makassar, dimana orang-orangnya sudah mengeluh dengan macet dan jauh saya cuma bilang, “oh.. santai saja, gak apa apa”
Tapi saya baru saja sadar. Rasa bisa menghadapi segala keadaan ini ternyata saya bisa kategorikan menjadi dua sikap. Yang pertama adalah kaku. Seperti tulisan saya sebelumnya, Jakarta bisa membuat kita menjadi batu, tidak berperasaan dan seperti robot, bahkan tidak peduli dengan keadaan orang lain. Itu bisa tergambar pada sikap bahkan bisa menjalar sampai ke hati. Ini yang saya tidak inginkan.
Akhir-akhir ini saya merenung, saya tidak perlu demikian. Saya cuma harus membuat hati saya seperti karet yang lentur. Jika mendapat tekanan bisa mengkerut tapi dalam keadaan biasa bisa juga mengembang. Saya pernah mengamati wajah beberapa penumpang di metro mini yang panas dan padat. Ada yang benar-benar tidak peduli, keras tapi ada juga yang tetap sejuk, tersenyum. Saya ingin seperti itu.
Saya ingin senyum saya tetap mengembang menghadapi keadaan yang keras, begitu pun hati saya. Saya tidak ingin kehilangan rasa, justru saya ingin rasa tenang yang bisa saya hasilkan sendiri bisa menjalar ke orang-orang lain, melalui senyuman ^_^
Ikutan Rusuh!
Huh! rusuh gara gara pertikaian Gubernur DKI dan Politisi di DPRD DKI mengenai aggaran ini rupanya menjalar juga ke group pertemanan saya.
Saya suka Ahok, saya menggambarkan dirinya sebagai sosok kesatria yang tidak takut mati, berjuang membela rakyat dan berani dengan segala konsekwensinya. Sangat susah mendapatkan pemimpin daerah seperti itu sekarang. Tetapi saya juga melihat hal-hal yang perlu diperbaiki. Beliau masih sering terbawa arus, yang sebenarnya mungkin dibuat sengaja oleh lawannya agar dia terpancing amarah, dan bertindak ceroboh sehingga dia dengan mudah diserang.
Saya tidak suka beberapa anggota DPRD yang kelihatan tidak ingin menyelesaikan masalah, apa kemungkinannya karena masalah itu mereka yang buat sendiri? Mana tahu. Saya cuma tidak suka dengan orang yang mengatasnamakan rakyat kemudian menikmati manfaat untuk diri sendiri.
Tapi saya bukan pengamat politik, lalu kenapa saya juga ikut rusuh?
Bagaimana tidak, di group pertemanan yang rata-rata adalah keturunan Chinese seperti saya tetapi berbeda kepercayaan pertikaianini menjadi terbawa.
Apalagi tentang seorang politisi yang saat rapat dibubarkan meneriakkan kata yang tak pantas, menyinggung soal ras dan binatang. Politisi tersebut dari partai yang berasaskan agama. Sangat disesalkan.
Saya sangat tidak setuju agama atau ras menjadi dasar hal berpolitik, mungkin memang kepentingan dalam pengelolaan negara menjadi penting, tetapi jika kader atau wakilnya sangat tidak mencerminkan gambaran umum tentang agama, itu yang ruwet.
Berada di kelompok yang berbeda dan menjadi minoritas memang harus punya rasa pemakluman yang tinggi. Saya harus sabar mendengar teman-teman yang secara implisit menggambarkan bagaimana seorang itu dengan agamanya bisa berkata sesuatu yang tidak pantas.
Saya tidak menyalahkan mereka, keadaan itu sudah terjadi dan opini sudah terbentuk. Yang saya sayangkan adalah semakin tertutuplah peluang untuk menyatakan bahwa apa yang sekarang yang saya yakini adalah baik. Saya rindu politisi seperti alm. GusDur yang memanusiakan manusia, bukan malah membinatangkan yang tidak sepaham.
Yah.. untuk sementara saya diam. maklum.. tapi menyayangkan orang yang bertindak pribadi tetapi membuat orang lain berasumsi semua di kalangannya adalah sama.
Semoga Ahok tetap kuat! tetap berjuang. Dan semoga yang keliru disadarkan untuk Jakarta yang lebih baik
Lagi, Tentang Kursi Kereta
Saya berpikir dalam, membayangkan bagaimana seandainya dunia kiamat? Semua orang berebutan untuk bisa selamat, sampai tidak peduli dengan yang lain. Sama seperti berebutan naik ke commuter line, bahkan malaikat yang mau turun saja kita sikut. Mungkin saja…
Pikiran yang didasari oleh ketidak mengertian. Seberapa penting kursi kosong di kereta api bekas hibahan negeri sakura ini. Mungkin karena made in Japan yang lebih empuk dari pada buatan negeri sendiri. Sangat berbeda dengan negeri asalnya. Kursi yang seharusnya pensiun, bahkan menjadi rebutan. Di sana bahkan orang segan untuk duduk sementara masih ada orang yang membutuhkan dan mereka masih berdiri.
Tutup mata, berpura-pura tidur, itu salah satu trik untuk menghilangkan kesadaran dengan sengaja supaya tempat duduk yang sudah pas nyamannya di pantat ini tidak beralih ke orang lain.
Menutup mata, mungkin itu cerminan bahwa kita dengan sengaja menutup hati kita dengan keadaan sekitar. Banyak yang lebih membutuhkan dari kita tetapi kita tetap merasa kita yang lebih butuh.
Padahal, kadang kita butuh doa dari orang yang kita beri tempat duduk. Lebih butuh doa daripada tempat duduk. Tetapi, kota besar mengacaukan pikiran kita. Lupa dengan kesadaran apa yang kita butuhkan. Hidup keras membuat sikap empathy berkurang bahkan hilang sama sekali.
Jarang kita dapatkan lagi gentleman yang memberikan ruang duduk kepada wanita, bahkan wanita tua sekalipun. Mungkin dia merasakan bahwa dia lebih wanita dan lebih tua dari orang-orang yang ada di kereta itu.
Saya selalu berusaha sabar, tidak ikut dengan mengeraskan body saat naik atau turun. Berharap fleksibilitas saya bisa membuat orang yang kasar bisa mendapat ruang. Tapi tetap saja berasa sakitnya kena lutut atau sikut. Mungkin saya harus pakai baju bantal saja.
Hidup di Jakarta memang keras, tetapi itu yang membuat orang menjadi tegar, seperti batu. Sayangya transformasi ke batu ini kadang tak bisa dikendalikan, tak bisa terhenti hingga sampai ke hati.
Go Pr* Go Trend
Saya terheran-heran, orang lain begitu mengagumi gambar seorang cewek yang sedang selfie di mall dengan menggunakan kamera go pr*, penasaran dalam hati dan bertanya apanya yang spesial?
Rasa penasaran ini yang akhirnya membuat saya “meminjam” punya boss. Mungkin pak boss beli karena ngikutin trend juga. “Pakai aja bu, daripada berdebu di rumah” hihihi.. saya benar kan.
Memang hebat marketing gimmick barang ini, di video youtube, lihat saja aksi aksi orang orang yang diakui keren, semuanya terekam dengan kamera kecil nan kokoh ini. Siapa sih yang tidak ingin jadi awesome people.
Bagaimana produsen ini memelihara ketertarikan para penggunanya? Mereka boleh mengirimkan foto-foto yang menarik untuk ditampilkan di official web nya yang sebagian besar adalah aksi-aksi outdoor yang cenderung ekstrim.
Aplikasi yang dapat langsung dihubungkan dengan smartphone juga sangat memudahkan. Mungkin ini pula yang membuat fungsinya sedikit bergeser. Menggunakan kamera ini untuk selfie di mall, menjadi sesuatu yang membuat orang mengucapkan “Wah!”
Saya senang jika bisa merasakan tanpa harus memiliki. Selain menghindari kemelekatan saya pun merasa tidak perlu membuang uang untuk sesuatu yang tidak benar-benar saya butuhkan. Dengan begitu saya bisa lebih yakin lagi bahwa hal-hal yang dikatakan orang bagus belum tentu cocok untuk saya.
Kamera kecil dengan harga yang tidak kecil ini memang tidak cocok untuk saya. Saya tidak memiliki kesukaan ekstrim, tidak bersepeda gunung, tidak menyelam dan yang pasti tidak akan melakukan bungee jumping. Jadi alasan apa yang harus saya gunakan untuk mengikuti trend ini?
Meskipun saya terkagum-kagum dengan lensa lebar di dalam casing yang kecil dan warna yang dihasilkan. Plafon kamar saya bisa ditangkap keseluruhan jika saya berbaring dan warna yang dihasilkan memang terang benderang. Sangat penting sebagai media untuk menyimpan moment-moment yang sulit untuk dilakukan berulang-ulang.
Satu hal lagi yang menjadi alasan barang ini tidak bakal cocok dengan saya, adalah monitor yang kecil. Tulisan sudah pasti lebih kecil dan saya yang sudah mulai mengalami rabun dekat ini berat hihihi. Beruntung untuk type ini sudah memiliki layar touch screen yang juga kecil.
Tetapi memang cool, kamera ini memang untuk anak-anak muda yang berani menantang maut, kegiatan yang butuh nyali besar untuk diabadikan. Mungkin sama seperti nyali seorang cewek yang memakai kamera ini untuk berfoto selfie di mall
Cool lah ^^
Life is about ourselves, not others
Dengan banyaknya social media yang bisa kita akses dengan mudah, semakin mudah pula kita mengetahui informasi orang-orang di sekitar kita bahkan yang jauh dari kita.
Bedanya dahulu, lingkungan terdekat seperti keluarga dan tetangga-tetangga sekitar rumah yang menjadi “bahan cerita” atau bahkan menjadi bahan pembanding dengan diri kita.
“eh, si A beli kulkas baru sekarang, modelnya dua pintu bahkan punya freezer yang besar”
Satu contoh kalimat yang mungkin ada dalam percakapan kita sehari-hari utamanya para ibu ibu.
Belum lagi kalau obyek bahasan adalah kategori barang mewah, seperti mobil bahkan tas yang nilainya puluhan juta.
Benar, informasi bisa sangat mempengaruhi kita. Kita jadi melihat diri kita sendiri. Duh.. kulkas di rumah kok kayak gini, saya juga butuh mobil. Tas malah mungkin bagus dipakai kalau saya jalan-jalan, orang-orang pasti pada kagum.
Sejumlah pemikiran-pemikiran terlintas yang dapat mengarahkan hati menjadi tidak tenang.
Hati gelisah bisa membuat kita mulai bertindak grasah grusuh. Bagaimana cara saya bisa mendapatkan semua itu, biar saya bisa lebih atau minimal sama dengan orang lain.
KIta lupa rasanya betapa bahagianya kita memiliki kulkas pertama kita yang sederhana, kita lupa rasanya.
Social media sekarang ini membuat kita harus lebih kuat lagi bertahan. Bukan hanya materi, pribadi orang pun bisa menjadikan kita ikut berpikir gelisah.
Wah dia bisa ngetop, bikin apa saja dia berhasil. Temannya banyak, sekali twit orang-orang pada mereply atau meng-RT. Jelas itu membuat kita berpikir akan diri kita sendiri. Saya harus bisa begitu!
Saya harus bisa begitu?
Mungkin perlu dipikirkan lagi. Terus terang kebanyakan melihat keadaan luar membuat kita lupa akan diri sendiri. Sebenarnya kenyamanan itu punya kadar tersendiri di tiap manusia. Seperti saya mungkin. Saya merasa nyaman dengan mengenakan baju yang mungkin bagi orang lain itu tidak up to date, atau ketinggalan zaman. Tapi karena saya nyaman kenapa pula saya harus peduli dengan pendapat orang.
Apakah jika saya mengenakan baju yang up to date bisa membuat saya nyaman? bisa jadi itu berlaku untuk orang lain tetapi tidak untuk saya.
Terlalu banyak informasi juga bisa mempengaruhi diri. Memang ada baiknya jika bisa mengubah pribadi kita menjadi lebih bijak. Artinya semakin banyak pilihan yang bisa jadi bahan untuk membuat hidup kita lebih berkualitas, tetapi kalau sudah melampaui kapasitas kita sendiri, itu mungkin saat kita harus refleksi diri.
Saya beberapa hari ini merasa, kenapa saya menjadi orang lain. Kenapa saya harus mendengar apa yang dikatakan orang terhadap saya. Kamu kan susah kalau gitu? ya itu mungkin standar umum, tapi jika saya bisa menikmatinya why not?
Hidup adalah pilihan, dan pilihan itu bukan tentang pendapat umum terhadap sesuatu, tetapi apa yang kita rasakan nyaman dan bisa kita jalani.
Seorang ksatria tidak akan merasa “menyelamatkan” rakyatnya. Tetapi dia telah bahagia menjaga kepercayaan diri dan keyakinannya tentang pilihannya.
I hope I could be like that ^^
Belajar Bahasa Mandarin
Yah ini yang bakal jadi resolusi tahun 2015. Eh keliru, maksudnya bisa bahasa mandarin, kalau belajar mah sudah dari dulu-dulu tapi tidak pernah bisa.
Memang yah untuk mempelajari bahasa itu tidak mudah. Dulu waktu belajar bahasa Inggris saya rasa susah sekali. Akhirnya ngambil kursus intensive dulu di Intensive English Course. Ikut Sunday Meeting pun saya melongo. Alhamdulillah perlahan-lahan akhirnya bisa juga walaupun tetap saja masih kadang tercekat kalau ngomong sama pak W, bule di kantor. Jadinya campur-campur deh bahasanya, Inggris Indonesia 😀
Untuk bahasa Jepang saya memang punya tekad bulat, waktu pertama mau bergabung bekerja di perusahaan Jepang, PT. MII. Saya bilang kalau pun kerjanya sama saja minimal saya harus bisa berbahasa Jepang. Alhamdulillah sekarang jika ke Jepang insha Allah gak akan hilang walaupun baca kanjinya masih terbata-bata.
Nah, kemarin itu saya sudah mulai bergabung dengan perusahaan yang pemilik sahamnya perusahaan dari China. Mengurus Ijin Tinggal Terbatas dari beberapa orang China biasanya saya dibantu dengan interpreter. Cuma pas hari itu dia tidak hadir. Asli saya kebingungan. Orangnya ngomong, saya mengerti tetapi untuk membalas percakapannya malah yang keluar bahasa Jepang, grrrr… ! asli gregetan.
Saya jadi kepikiran gimana yang punya kemampuan bahasa fasih lebih dari satu bahasa yah? Bahasa seharusnya refleks, tidak perlu dipikirkan lagi. Dan itu keluar dengan sendirinya saat kita menyatakan ide. Yah apa boleh buat sepertinya saya harus menetapkan niatan yang sama. Gabung di perusahaan ini harus bisa berbahasa Mandarin.
Bahasa Mandarin bukan hal yang baru bagi saya. Saya pun keturunan Chinese tetapi sayangnya ayah saya yang generasi pertama tiba di Indonesia tidak mengajarkan kami berbahasa Chinese. Kemungkinan karena pernikahan dengan mama yang juga keturunan dan kurang fasih berbahasa Mandarin. Sayang sekali..
Tetapi saya tetap bersyukur, dengan begitu saya tetap bisa sedikit paham jika mendengar percakapan dalam bahasa Mandarin. Tetapi untuk berbicara saya harus berlatih dan memperbaiki pengucapan yang sebenarnya banyak yang tidak benar juga karena dipengaruhi oleh bahasa lokal, Makassar.
Penetapan resolusi ini penting juga agar menjaga semangat saya untuk bisa tetap punya target di tahun yang baru ini. Semoga dapat tercapai, gambarimasu ^^
2015, Kami Datang dengan Semangat!
Tiket kereta yang sudah saya pesan dua bulan yang lalu untungnya dapat ditolerir oleh pak bos. Hari libur akhir tahun yang belum pasti dan urgensi untuk memesan tiket lebih awal untuk kepentingan seat dan harga. Selasa tanggal 30 Desember 2014 menjadi tambahan hari izin saya. Entah sudah berapa banyak hari izin yang saya minta apalagi setelah ke Jepang selama selama sebelas hari.
Kali ini saya menggunakan KA. Argo Lawu tujuan Solo. Sebenarnya saya malas menempuh rute ini, karena tiba subuh langsung harus ke terminal untuk naik bus sampai ke Maospati. Bukan lama perjalanan yang dua setengah jam yang membuat saya malas, tetapi naik bus antar kota di pulau Jawa itu benar benar diuji kesabaran. Dari kondektur yang main asal dorong (pegang-pegang), tempat duduk yang sudah sempit pun masih dipadatkan, belum lagi yang berdiri. Duduk di isle bisa jadi samsak sementara, kepala disikut sana sini dan orang yang nyikut pun santai aja. Iya memang mereka santai, semuanya jadi pemakluman, mungkin karena memang begitu seperti biasanya.
Saya cuma tidur dua jam di kereta api, di bus sama sekali tidak bisa tidur diantara kekacauan yang saya ceritakan itu. Untungnya kosan tempat biasa di Pondok Utara masih kosong, sehingga saya bisa beristirahat. Ojek dari Maospati ke pondok utara pun sudah naik harga rupanya menjadi Rp. 20.000,-
Anak-anak izin sebelum dhuhur. Pas waktu tidur jika di pondok. Bahagianya bisa bertemu dengan mereka. Sudah pasti tas duluan yang dibongkar. “Ummi bawa apa?”
Rencana saya melewatkan 3 malam bersama anak-anak, tetapi anak-anak pengen suasana berbeda, mereka meminta untuk ke Madiun. Via agoda akhirnya saya membook hotel Merdeka di Madiun. Harganya lumayan untuk hotel yang saya kategorikan sudah lama. Tetapi masih mending dibanding Aston Madiun yang harganya bisa 2x lipat.
Sayangnya, Adek selalu saja sakit jika saya kunjungi. Kata orang-orang sih karena dia masih manja, masih pengen disayang-sayang sehingga begitu saya tiba daya tahan tubuhnya pun melemah. Entah benar entah tidak. Yang pasti saya memang jadi harus memperhatikan ekstra ke dia. Untungnya kakak sudah bisa mengerti, walaupun kadang dia bilang dia pengen jadi anak bungsu supaya bisa disayang seperti adiknya. “Kakak itu tumpuan harapan ummi yang paling besar, makanya ummi keras dan mau kakak bisa jadi pemimpin, menjadi pelindung untuk adiknya,” kataku mencoba menjelaskan.
Hotel Merdeka bukan tempat yang tepat untuk beristirahat ternyata. Karena terletak di pusat kota, dua panggung disiapkan untuk konsentrasi massa di malam tahun baru. Kebanyang berisiknya. Tetapi saya tetap bersyukur karena tidak mendengar petasan yang tiada henti jika berada di kosan di Jakarta.
Malam tahun baru saya lewatkan di kamar dengan anak-anak, dengan adek yang tidur karena demam dan kakak yang asik main handphone. Saya cuma memeluk kakak dan sama sama kami berdoa berharap untuk tahun yang lebih baik dan lebih kuat.
“Ummi, saya minta pesan dari ummi, saya sudah mulai sedih ummi sudah mau pulang”, kata adek yang berangsur angsur sembuh di hari terakhir kami di hotel.
“Kesedihan dan kebahagiaan itu bersifat sementara, jadi jangan pernah menyerah, tetap semangat, tetap berharap”
Kata kata yang saya tulis untuk menyemangati diri saya juga terbukti berefek pada adek. “Langsung ka jadi semangat ummi,” katanya dengan logat makassar yang masih kental.
Alhamdulillah, semoga kita semua dikuatkan nak. Selamat tahun baru 2015. Saling mendoakan saling mengingatkan untuk tetap semangat.
I love you all :*
Berburu Benang Rajut di Pasar Asemka
Niatan ini sudah ada sejak beberapa minggu lalu. Tetapi karena waktu yang terbatas akhirnya baru hari Sabtu kemarin saya bisa mengunjungi pasar Asemka.
Pasar Asemka sangat terkenal dengan berbagai macam pernik-pernik dan murah. Dengar-dengar yang jualan di kaki lima atau toko-toko lain pada mengambil barang dari pasar Asemka ini.
Karena tidak mengetahui sebelumnya dan saya pergi sendirian, untuk itu saya terbiasa menggunakan google map dulu. Rupanya bisa ditempuh dengan Trans Jakarta dan Commuter Line. Tempatnya memang dekat dengan Stasiun Kota dan Halte Kota Trans Jakarta. Tetapi karena saya lebih suka menjadi penumpang Commuter Line, dengan menumpang mobil angkutan kota jurusan Karet-Kampung Melayu (44) dari arah Mall Ambasador saya cukup membayar Rp. 3.000,- untuk bisa sampai ke stasiun Tebet.
Dengan menggunakan e-money, uang elektrik yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri, siang yang lumayan terik itu menjadi momen saya untuk bertemu pertama kali dengan pasar Asemka.
Letaknya dibawah jalan layang di bagian utara stasiun. Lumayan juga jalan kakinya mungkin sekitar 500 meter untuk bisa mencapai pusat pasar Asemka. Sebenarnya ada ojek sepeda tetapi sepertinya ketakutan saya lebih besar jika mengendarai itu. Sebelum mencapai pasar paginya, kita sudah disuguhkan dengan jajanan kaki lima. Saya yakin orang yang buru-buru berbelanja bisa saja menyesal jika tiba di pusat pasar. Harga di sana benar-benar murah tetapi memang harus membeli grosiran atau partai.
Niatan awal mencari benang, rupanya tidak semudah yang saya pikirkan. Entah banyak orang baru yang tidak mau peduli atau memang orang-orang sangat sibuk dengan urusannya sendiri atau bahkan karena pasar yang terlalu besar. Mereka tidak bisa memberikan petunjuk jelas di bagian mana penjual benang rajut yang ada di pasar itu.
Matahari sudah berasa tepat berada di atas kepala. Saya sudah hampir menyerah. Apalagi akhir-akhir ini memang udara terasa sangat panas. Saya akhirnya berhenti di emperan salah satu toko dan mulai mencari informasi di internet lagi. Akhirnya saya mendapatkan alamat yang lengkap
Sadis, dengan alamat lengkap pun masih banyak yang tidak bisa memberikan informasi yang tepat. Beruntunglah saya berjodoh. Saya akhirnya bisa menemukan toko yang dimaksud. Akhirnya saya membeli benang dengan budget Rp.200.000,- Memang sengaja saya membawa uang terbatas, kadang bisa kalap jika terpukau dengan warna-warni benang dan bayangan-banyangan bisa jadi apa benang itu.

Berikut map yang bisa digunakan agar tak perlu berpengalaman seperti saya ^^

Semoga berguna dan selamat merajut!
Menulis dan Berbagi
Terus terang, saya tidak pernah berpikir untuk menjadi Blogger. Tetapi memiliki wadah menulis dan bisa berbagi adalah hal yang menyenangkan. Awal bulan November 2006, adalah saat pertama saya menorehkan tulisan yang bisa dibaca oleh semua orang. http://alwaysmamie.blogspot.com/2006/11/welcome-mamie.html
Rasanya menyenangkan, seakan semua yang saya rasakan saya ingin bagikan ke semua orang. Tetapi seiring dengan waktu yang berlalu, kedewasaan dalam menorehkan huruf-huruf yang terangkai menjadi makna semakin nyata. Saya tidak bisa “semaunya”. Walaupun ada yang ingin saya ungkapkan, memperhatikan perasaan dan pemahaman yang bisa keliru oleh orang lain perlu dijaga.
Saya hingga kini tetap menulis, walaupun butuh managemen waktu dan komitmen untuk bisa tetap menulis. Kegiatan lain yang menyita waktu mungkin memang menjadi halangan yang paling utama untuk tetap bisa disebut sebagai blogger.
Apalagi, banyaknya platform sosial media yang lebih praktis dan singkat juga membuat blog terasa tidak efektif lagi. Tetapi bagi saya penting karena masih punya ruang untuk bisa menjelaskan inti dari pernyataan pikiran saya, mencegah orang berpendapat berbeda, itu saja.
Satu hal yang membuat saya “betah” menjadi blogger adalah Komunitas. Beruntungnya saya telah tergabung dalam Anging Mammiri, komunitas blogger Makassar yang benar-benar didasari dari rasa kekeluargaan. Sampai sekarang pun saya masih sering berkumpul dengan teman-teman sekomunitas walaupun sudah pindah di ibu kota. Kenyataanya memang blog menyatukan kami. Saya tidak lagi merasa asing, karena saudara saya ada di mana-mana.
Keberagaman latar belakang kami tidak membuat kami berbeda, justru membuat warna yang lebih menguatkan jaringan kami. Walaupun sekarang banyak diantara teman-teman sudah jarang mengisi blog dengan pikiran-pikiran brilian mereka tetapi keseharian menggambarkan bahwa teman-teman semua memiliki keahlian di bidang masing-masing, dan itu memperkaya saya.
Satu kelemahan yang tadi saya sebutkan adalah kurangnya waktu. Oleh karena itu saya sendiri berkomintmen terhadap pribadi. Minimal satu tulisan harus saya posting di setiap weekend, saya tidak terlalu mempedulikan isi dan kualitas dari tulisan, tetapi konsistensi adalah penting untuk melatih saya untuk lebih disiplin dalah hal sekecil apa pun.
Saya berharap persaudaraan kami di Anging Mammiri tetap terjaga, dan kebiasaan saya menulis di blog juga tetap konsisten. Tetap pada niatan awal, menulis dan berbagi…
Selamat Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2014
