Blog
Menyebar Kebencian
Prihatin! hanya itu yang terlintas dalam pikiran ketika membaca status AK yang heboh di dunia maya. Saya mencari tau tentang yang bersangkutan. Masih muda dan harusnya menjadi muslim yang penuh kasih sayang. Pakaian muslim yang dikenakan tidak sesuai dengan ucapannya. Kenapa harus Cina?
Saya keturunan China, bahkan generasi pertama yang ada di Indonesia karena almarhum ayah saya datang langsung sebagai salah satu manusia perahu dari China daratan. Saya tidak memungkiri ada sebagian dari warga keturunan yang membuat batasan dalam pergaulan. Pengalaman saya sewaktu masih bersekolah dan bergaul di masa kecil masih tergambar jelas. Begitu menyebut Inni ren (Orang Indonesia) kadang terasa merendahkan.
Tapi entah karena saya lebih memilih beranggapan semua manusia itu sama, saya memilih berteman dengan Inni ren, orang Indonesia asli. Saya bahkan dijauhi oleh beberapa teman keturunan. Tapi itu tidak masalah, saya harus berdiri di tempat yang saya yakini.
Tetapi dari sudut pandang orang Indonesia sendiri, mereka menyambut baik. Meskipun kadang di tengah jalan saya masih mendapatkan panggilan sayang, “woe.. Cina”. Saya tidak mengerti siapa yang menyebabkan kebencian ras ini terjadi. Dari status AK mungkin dia berpikir bahwa PKI yang sudah ditulis dalam sejarah sebagai organisasi yang jahat adalah perbuatan orang orang China. Entahlah.. saya tidak paham sejarah, apalagi sejarah karangan.
Sayang sekali, masih muda tapi sudah berpikir rasis. Anak-anak saya yang juga masih keturunan sampai sekarang masih saja mendapatkan panggilan sayang tersebut, padahal mereka sudah di pesantren. Tidak ada hubungannya sebenarnya muslim dengan keturunan tapi entah kenapa banyak yang menyamakannya. Mungkin perlu banyak membaca sehingga tidak terbawa hasutan diri sendiri atau lingkungannya.
Saya berpikir, anak ini pengen eksis aja. Pengen diakui keberadaannya, pengen didengarkan sehingga memberi pernyataan-pernyataan provokatif. Sayang jika dia belum tahu tentang resiko yang akan diperolehnya. Tapi apa untungnya menyebar kebencian. Jika kebencian itu menjalar dan berkembang biak di dunia maya yang bergerak cepat, bukannya tanggung jawab moral semakin besar? Naudzubillah.
Semoga anak ini dan orang-orang yang hatinya masih dipenuhi kebencian terhadap orang lain bisa sadar, bahwa Tuhan telah menciptakan kita beragam, tugas kita adalah memberi manfaat kepada siapa pun bahkan mahluk lain dan lingkungan. Setidaknya mengelolah hati sendiri, memikirkan efek dari apa yang akan diucapkan dan disebar, selalu waspada dengan karma, jika berbalik dia bisa saja mencintai seorang Cina yang bakal membuatnya menyesali pernyataannya.
Tetanggaku (bukan) idolaku
Sering bermasalah dengan tetangga? Memang bersosialisasi itu gampang gampang susah. Walaupun saya sebenarnya bukan orang yang sering berpindah-pindah, tetapi ada ada saja kejadian yang berhubungan dengan tetangga.
Saya pernah bercerita tentang kucing yang membuat saya kena marah oleh tetangga kosan. Tetapi sekarang mbaknya sudah jadi teman yang enak diajak bersapaan, padahal dulu juteknya minta ampun. Mungkin karena kesabaran yang saya miliki :p. Tapi itu benar, saya tidak menyambut permusuhan yang ditawarkan, saya berpikir dia masih muda dan belum mengerti tentang manfaat bersosialisasi, dan Alhamdulillah sekarang kami berteman baik.
Tapi ada yang mungkin tidak bisa dihadapi dengan kesabaran, karena bukan (hanya) saya yang merasakan bahwa ini sudah keterlaluan. Tetangga saya sejak merenovasi rumah termasuk terasnya dengan sengaja meniadakan tempat sampahnya. Saya tidak paham maksudnya, jika berpikir jelek maka saya akan mengganggap mereka tidak mau ada kotoran di sekitar rumahnya. Parahnya tempat sampah kami yang jadi sasaran.
Saya sih tidak terlalu mengambil pusing, ya sudahlah tempat sampah memang fungsinnya menampung sampah. Tetapi kejadiannya tidak sesederhana itu. Teman yang menginap di rumah akhirnya membuat coretan kisah yang membekas menjadi dinding teras. Kenapa demikian?
Rumah saya tidak memiliki dinding di teras, tidak diperbolehkan oleh pengelola perumahan yang menginginkan suasana terbuka dan nyaman. Tetapi suatu waktu ada dinding yang menjulang di samping teras kami. Seperti lambang permusuhan. Akhirnya saya mencari tahu penyebabnya. Dari teman yang tinggal di rumah menyampaikan bahwa mungkin ada ketersinggungan dari empunya rumah sebelah yang ditegur ketika memuang sampah seenaknya di depan rumah kami. Mungkin beliau masih belum bisa menerima kritikan. Merasa siapa pun yang berkata tidak sesuai dengan keinginannya adalah ‘musuh’
Saat saya kembali ke rumah, beliau datang dan menjelaskan. Mungkin merasa tidak enak dengan saya. Tetapi alasan yang disampaikan berbeda. Beliau bilang di rumah sering ada anak-anak yang ngumpul, bertato dan suka ribut sampai tengah malam. Padahal kalau teman-teman datang itu sampai pagi 😀
Bahkan sempat katanya mendengar celetukan, “saya mau cari cewek yang punya mobil dan juga dokter”. Saya pikir beliau terlalu berhalusinasi. Kebanggaan terhadap cucunya yang memang dokter dan punya mobil bagus itu membuat proteksinya berlebihan, apalagi dengan pria bertato (?). Dan alasan ini yang digunakan untuk mendapatkan izin pada pengelola perumahan.
Mendengar penjelasan itu saya seperti biasa, iya iya saja. Saya memang tidak suka ribut. Mencoba memahami, beliau yang sudah lanjut dan sudah sulit untuk menerima pendapat atau perubahan.
Tetapi sekarang lain lagi masalahnya. Karena ada tembok yang dibuat sendiri olehnya, kami kadang kaget karena tiba-tiba ada buntelan sampah yang mendarat di tempat sampah dan tidak terlihat siapa yang membuangnya. Parahnya karena kami membuat teras sebagai tempat untuk menerima tamu.
Pagi ini sampah buntelan itu dikembalikan di depan rumahnya, saya sebenarnya memilih mengkomunikasikan ini secara baik-baik, tetapi karena saya jauh ya biar yang di rumah saja yang menyelesaikannya. Semoga masing-masing paham batasannya dan bisa saling menghargai. Permasalahan memang tidak bisa dihindari, tetapi yang penting adalah cara penyelesaiannya, kita tunggu saja kisah selanjutnya 🙂
Terus Bergerak!
Ini tentang refleksi diri sendiri. Saya menyadari, belajar yang dianjurkan dalam hidup adalah bukan hanya menyangkut lingkungan kita atau orang lain. Yang paling utama bagi saya adalah mempelajari diri sendiri. Kejadian di luar diri termasuk keadaan dan sikap orang lain terhadap sesuatu adalah materi untuk mempelajari diri sendiri.
The best journey is the journey within. Pencerahan menjadi proses yang menyenangkan dalam diri. Saya termasuk orang yang paling suka melihat, mendengar kemudian diam dan berpikir.
Baru-baru ini saya sungguh merasa sangat sibuk, seakan bernapas pun saya sulit mencari waktu apalagi untuk tidur dan rileks. Kerjaan tiba-tiba menumpuk untuk diselesaikan, urusan keluarga juga. Semua membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Tiba pada saatnya saya merasa menyerah. Saya bahkan bertekad dalam diri saya. Saya mau istirahat dan tidak mau diganggu oleh urusan pekerjaan. Itu saya putuskan saat saya mengantarkan anak-anak ke Temboro, pesantren Al Fatah. Dan saya mulai rileks, mulai lemah… dan sakit.
Ya, ternyata saya tidak boleh berhenti bergerak. Ini sudah yang kedua kalinya saya mengamati diri saya tidak boleh bersantai. Saya bahkan merasa ini semacam “kutukan”. Apa mungkin nenek moyang saya memang pekerja rodi yang harus bekerja keras agar dapat hidup? Bukan soal bekerja kemudian mencari uang dan bisa membeli makanan untuk hidup, tetapi bisa hidup karena harus terus bergerak dan terus bergerak.
Pekerjaan atau kesibukan yang memicu saya berpikir dan bergerak rupanya itulah yang membuat saya “hidup”. Mungkin saya memang seperti ikan salmon, yang konon jika ditangkap oleh nelayan di laut agar tetap membuatnya segar harus ditempatkan bersama hiu kecil. Harus struggle untuk survive. Jika tidak ada pemangsa, ikan-ikan ini akan mati karena loyo. Dan nelayan tidak mendapatkan ikan yang hidup lagi setibanya di pantai. Mungkin itulah juga mereka memilih hidup di tempat yang berarus keras, penyuka tantangan.
Orang yang mempekerjakan saya harusnya beruntung, saya tidak perlu diberi target untuk bekerja karena saya akan mencari sendiri apa yang harus saya lakukan untuk pekerjaan yang terbaik. Tetapi itu dari sikap fisik. Yang lebih utama adalah saya harus terus berpikir, tidak boleh berhenti. Mungkin saat rileks saya adalah saat bekerja dan memang saya menikmatinya. Semoga saya selalu diingatkan untuk tidak berhenti, tidak menyerah. Menyerah berarti Mati! Merdeka!!!
Serasa Punya Anak Lagi
Masih terheran-heran saya melihat tingkah laku anak-anak sekarang. Sangat berbeda dengan keadaan kita dulu. Saya masih ingat ketika saya mulai akrab dengan seseorang, mama langsung mendudukkan saya di hadapannya dan menegur ini itu. Merasa terhakimi langsung pada detik itu. Dan itu sangat kurang baik, karena melihat dari sisi pribadi, saya bukan orang yang suka ditegur lebih suka diberi pemahaman.
Mengingat hal itu saya tidak ingin melakukan hal yang sama dan membuat anak saya merasakan hal yang sama. Zaman memang sudah berbeda, dulu untuk dekat sama seseorang saya di usia kuliah. Dimana saat itu teman-teman sudah memiliki pasangan, agak terlambat untuk ukuran masa itu. Dan itu juga yang membuat saya merasa anak anak sekarang sangat cepat dalam bergaul. Mungkin penyebabnya adalah media yang semakin banyak, sudah ada internet yang memudahkan interaksi. Saya cuma bisa mengingat dulu hanya bisa kagum sama penyiar radio tanpa bisa apa apa.
Kakak merasa sudah waktunya, liburan kemarin sebulan sudah memiliki arti yang besar dalam hidupnya, ya mendapat pacar. Awalnya dia ragu memberitahukan, tetapi menelpon sepanjang jalan sewaktu kami bersama-sama rasanya itu bukan telpon biasa. Saya mulai menganalisa dan harus memutuskan harus bersikap bagaimana.
Mengingat waktu anak-anak yang terbatas, saya tidak ingin menambah batasan lagi. Komunikasi yang penting adalah keterbukaan. Saya menerima semua perkembangan pribadi yang terjadi dengan mereka, karena jika demikian saya akan lebih tahu apa yang terjadi dengan mereka.
“Ummi, palla’ma gombal,” kata kakak yang kira-kira artinya dia sudah pandai merayu. Saya mengiyakan dan memujinya. “Iya nak bagus itu, tetapi ingat yah segala ucapan itu adalah tanggung jawab, jika sudah menyatakan sesuatu harus ditepati,” Mungkin saya akan terus melakukan seperti itu, mendengar dan mengoreksi.
“Ummi, tolong titip pesan disampaikan …. dan …. soalnya … ,” baiklah, sekarang saya sudah berfungsi sebagai messenger juga, tapi tidak mengapa saya senang melakukannya. Saya senang menjadi bagian dari perkembangan pribadi anak anak saya. Saya yakin dunia ini masih terlalu indah buat yang jatuh cinta, sisi yang lain pasti akan muncul, saya cuma berharap tetap bisa dengan mereka menghadapinya. Dan memang benar rasanya, seakan punya anak lagi dan itu menambah cerita yang menyenangkan.
Semut yang Kacau
Saya agak kuatir, film The ANT-MAN yang heboh itu mungkin tidak akan sempat saya tonton. Kesibukan serta masih banyak prioritas dari daftar yang saya buat membuat saya menempatkan posisi menonton pada posisi opsional, jika ada waktu.
Beruntung saya masih bisa berjodoh, di Lotte-Ciputra ternyata film ini masih diputar. Diantara judul film Mission Impossible yang main di 5 studio sekaligus, film ini masih tertera di layar, walaupun hanya diputar 3 kali dalam sehari.
Saya sebenarnya enggan menonton film bertema serangga. Entah kenapa setiap melihat gambar atau menonton film yang bertema mahluk kecil ini, rasanya badan jadi gatal bukan main.
Deretan kursi tidak terisi penuh, ini membuat saya leluasa memilih tempat duduk yang nyaman. Melihat kondisi ini sepertinya tidak lama lagi film ini akan digantikan dengan film terbaru, sekali lagi saya bersyukur.
Aksi heroik versi Marvell ini sudah sering kita tonton, siapa pun tokohnya. Selalu saja good guy yang akan menang melawan kezaliman para penjahat yang ingin menguasai dunia akibat ambisi selfish yang melebihi standar kewajaran. Dan itu selalu membuat kita merasa, ah indahnya hidup di dunia kartun, di dunia khayalan.
Tapi ada yang tambahan kesan yang saya peroleh dari cerita ini. Setidaknya sesekali saya harus berpikir dan bertindak seperti semut, bukan sebagai si hero, Ant-Man, tidak perlu.
Setahu saya dari pelajaran sekolah dulu kita dikenal dengan bangsa yang suka gotong royong, tapi sekarang saya lebih merasa menjadi bangsa yang gontok-gontokan. Kenapa bisa demikian?
Betapa menyenangkannya melihat kawanan semut yang dipimpin oleh satu kendali, berhati baik dan bertujuan mulia. Mereka dengan siap selalu menjalankan fungsinya masing-masing. Mereka bisa membuat jembatan, membuat tali dan sebagainya untuk bisa membantu mencapai tujuan dari misi tersebut.
Sekarang di sekitaran, saya malah melihat betapa orang berebut fungsi, semua ingin jadi pemimpin, semua ingin bicara dan banyak yang mencela fungsi dari orang-orang lain sehingga kadang mengabaikan fungsi dan tugas sendiri.
Dunia ini semakin mengerikan. Jika dilihat seperti dunia semut sepertinya chaos. Mungkin penyebabnya ada pada kita-kita, ada pada cerminan penjahat-penjahat yang ada di komik Marvell tersebut. Kapitalisme, konsumerisme semuanya dinilai dengan materi. Nilai-nilai pribadi yang seharusnya menjadi pedoman dalam hidup tergerus habis. Kebanyakan mementingkan diri sendiri, untuk mencari orang yang ingin berkorban dalam memberikan manfaat kepada orang lain juga sulit.
Orang-orang pandai malah menggunakan kepandaiannya dengan mengabaikan moral, selama itu dinilai bisa membuatnya kaya dan exist. Materi sudah merupakan jaminan hidup bahagia. Kebanyakan melenceng dari tugas dasar kita di dunia. Saya juga merasa termasuk di dalam kelompok ini. Saya belum banyak berbuat untuk orang lain, orang di sekitar saya padahal itu adalah tugas saya hidup.
Gotong royong tidak lagi sempurna, rata-rata diselingi dengan hiasan kepentingan, bahkan banyak juga kita temukan sekadar menyenangkan sesaat, gimmick saja.
Saya tidak berniat jadi Ant-man, masih terlalu jauh menempatkan diri sebagai pemimpin kelompok. Cukup saya belajar untuk menjadi diri saya sendiri. Menyadari arah yang kadang kita kesampingkan gara-gara distorsi dari lingkungan yang merecoki pikiran kita sehingga tugas dasar yang tersimpan di hati tinggal menjadi daftar tugas yang terabaikan, jika ada waktu
Hidup itu Menyakitkan dan Penuh Penderitaan
Hidup itu menyakitkan dan penuh penderitaan!
Terkesan pesimis? negatif? Tapi menurutku memang begitulah keadaannya. Khayalan tentang hidup yang menyenangkan dan tanpa rasa sakit sebenarnya itu menjauhkan diri dari kenyataan. Tapi apakah kita jadi menyerah? Tidak!
Saya perlu menyadari sakit dan rasa derita agar tidak perlu berusaha untuk mengalihkannya atau bahkan mengubahnya menjadi kebahagiaan sempurna. Jika saya berusaha demikian, saya akan stress, merasa harus melakukan sesuatu untuk mengubah kenyataan yang kadang di luar batas kemampuan kita. Pernyataan hidup ini menyakitkan dan penuh penderitaan hanya untuk menerbitkan kesadaran bahwa “Life is tough, so deal with it.”
Kita dengan tidak sengaja menciptakan keadaan yang lebih menyakitkan dengan menghindari perasaan tidak menyenangkan ini. Padahal kita sadar sepenuhnya, hidup tidak bisa dipisahkan dari kehilangan, kesedihan, keletihan dan kebosanan.
Tetapi kemelekatan atau bergantung kepada harapan-harapan, materi bahkan eksistensi dapat membuat frustasi, kekecewaan dan beberapa bentuk sakit hati yang lain. Jadi daripada takut akan penderitaan atau berusaha mengatasi itu, kita bisa belajar untuk mengenali penderitaan itu dan menerimanya.
Bagaimana cara menerimanya?
Setiap hari bisa kita bisa memberitahukan diri kita bahwa kita tidaklah hancur, tetapi tetap menyadari kenyataan akan kematian, menua, sakit dan kehilangan bagian dari kehidupan. Berhentilah meyakinkan diri bahwa hidup itu mudah dan bebas dari rasa sakit, baik secara emosional dan secara fisik. Konsep ini sebenarnya yang ditawarkan para pembuat kosmetik, pabrik obat-obatan dan fashion, termasuk film film drama happy ending.
Jadi masih ingin menyangkal bahwa hidup itu penuh dengan penderitaan?
Aku Gelombang
Aku gelombang
Yang terpengaruh angin
Yang tergantung bulan
Aku gelombang
Kadang membuat nyaman yang berayun
Membuat tenggelam yang tak kuat bergantung
Aku gelombang
Ternyata tidak butuh pengendali
Hanya gelombang yang lebih besar, yang menguasai
#selfreflection
Lagi, soal regenerasi
Semalam @paccarita ngumpul di mamah kota, agendanya sebenarnya cuma menyambut pak ketua Ahmad Maulana alias kakak Made yang kebetulan berkunjung. Seperti biasa janjian di mamah kota selalu saja molor, kepentingan beragam dari para penyuka tantangan di ibukota yang jadi alasannya.
Sekitar jam 9 pm lewat baru bisa berkumpul lengkap, sesuai daftar yang mau hadir. Pembicaraan awal ringan ringan saja tetapi makin malam makin berat, persoalan komunitas
Saya masih ingat betapa semangatnya kami kami ini beberapa tahun lalu. Setiap kegiatan diisi dengan keriuhan berdiskusi, semangat di setiap pertemuan dan ikatan itu masih terasa hingga sekarang.
Semakin berjalan waktu masing masing mulai sibuk dan fokus dengan kehidupan pribadi yang memang semakin mengarahkan tanggung jawab yang lebih spesifik. Intensitas pertemuan semakin berkurang kegiatan pun dipaksakan harus ada untuk sekadar menjaga eksistensi.
Trendnya memang demikian, bahkan sudah banyak komunitas komunitas seangkatan yang mati suri semuanya dengan masalah yang sama, regenerasi.
Mungkin memang konsep komunitas sudah saatnya direview. Tujuan dan manajemen jangka panjang harus ditentukan dari sekarang. Bukan lagi sekadar “tempat kumpulnya blogger Makassar ”
Mewariskan semangat komunitas itu sulit, memang dibutuhkan komitmen dan orang orang yang tanpa pamrih bahkan resiko berkorban waktu dan tenaga.
Pembicaraan mengenai pengganti kakak Made ini memang sudah lama prosesnya, tetapi tetap terbentur dengan keterbatasan anggota yang bisa menjadi pewaris,.
Akhirnya buku kecil Ntan Baiduri yang dibeli di Muji menjadi saksi plus minus teman teman yang dianggap bisa mengemban tugas lanjutan. Memang sudah nampak mengerucut. Semoga Anging Mammiri bisa tetap exist bahkan lebih baik ke depannya.
Semangat!
Jualan Bakso atau Jualan Mobil
Ada cerita menarik yang saya dengar dari sahabat, orang terdekat saya. Dalam dunia kerja memang terisi oleh bermacam-macam niat, karakter, perilaku, dan sebagainya. Semakin lama kita berada dalam dunia ini semakin banyak juga yang bisa kita pelajari. Apakah itu menjadi bahan untuk menghadapi situasi atau bisa jadi menjadi bahan refleksi diri.
Ini seperti orang yang jualan bakso dan jualan mobil, katanya. Saya sempat bingung, apa ya maksudnya? Pernah gak memperhatikan bagaimana tukang bakso menarik perhatian sekampung agar semua orang menyadari kehadirannya? iya, benar. Rata-rata dari mereka menciptakan bunyi dari mangkuk dan sendok besi yang dimilikinya. Belum cukup dengan itu, kadang disertai juga dengan teriakan. Bakso…bakso…
Lalu bagaimana dengan pedagang mobil? apakah mereka melakukan hal yang sama? Tentu tidak. Walaupun mungkin modal suara yang bisa dihasilkan dari kendaraan ini bisa lebih besar dari dentingan suara mangkuk dan sendok yang beradu. Tapi benar, itu tidak dilakukan. Tidak perlu. Cukup dengan menempatkan mobilnya diam dan bersahaja, disertai lampu sorot yang menambah keanggunannya.
Benar, itu lah analogi dari bebarapa karakter yang bisa kita temukan di dunia kerja. Kadang orang harus bersuara kencang, terburu-buru bahkan memanfaatkan informasi yang keakuratannya belum terjamin, hanya untuk menarik perhatian. Dan memang itu yang mungkin mereka inginkan, perhatian sehingga mereka dianggap, atau dirasakan kehadirannya.
Tetapi ada juga karakter tenang yang berisi segala informasi tapi dengan segala pertimbangan yang ada di kepalanya, dengan sabar mendengarkan bahkan tidak terbaca apa yang sedang lalu lalang dalam pikirannya. Lao Tze berkata, orang bijak itu kelihatan bodoh. Mungkin seperti itu perumpamannya. Tetapi dengan kesabaran dan ketenangannya justru merupakan misteri, dia pasti menyimpan harta karun yang besar sehingga tidak dengan mudah diumbar. Mereka bisa memilih kepada siapa yang pantas untuk membicarakan sesuatu.
Semoga menjadi bahan refleksi bagi saya yang kadang grasah grusuh gak karuan 😀
Rindu
Malam ini menyiksaku..
Inginnya aku bersamamu jalani waktu dalam cahya rembulan..
Aku dekap mu..
Tenggelam dalam hangatnya desah nafas penuh cinta..
Indah malam ku seakan buyar tatkala waktu memisahkan kita..
Ku nanti mentari dalam harap..
Mengurai kisah hati yg dilanda gelora cinta..
Aku cinta dirimu..
Dalam kelembutan sang rembulan..
Aku cinta dirimu dalam hangat sang surya..
Aku cinta dirimu dalam dahsyatnya gelombang yg kau cipta..
Aku cinta dirimu dalam apa pun..
Aku cinta.. cinta selamanya..
Juni 15
