Blog
Drama Cumi di pulau Samalona
Drama memang sebaiknya ada biar berkesan, tetapi kebanyakan drama bikin kita tidak berkembang
Karena merasa sudah lama tidak menyentuh air laut dan berayun atasnya, sehabis lebaran haji kemarin, saya mengajak keluarga untuk ke pulau kecintaan, Samalona. Pulau yang terletak di bagian barat kota Makassar yang biasanya ditempuh dengan menggunakan kapal motor kayu.
Melihat air jernih yang terang benderang memantulkan cahaya matahari rasanya melegakan perasaan sampai ke dasarnya. Air laut musim kemarau rupanya dingin, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Seperti biasa begitu tiba di pulau kami mencari tempat untuk bisa beristirahat atau sekadar meletakkan barang-barang sebelum berenang. Biasanya yang masyarakat banyak yang menyambut. Mereka menawarkan bale bale bambu, rumah untuk disewa, perlengkapan snokling dan bahkan menawarkan ikan yang memang dipelihara di keramba.
“Mau beli cumi bu?”, kata seorang ibu setengah umur memakai daster dengan badan yang agak kurus
Mungkin dia melihat saya menyerah mencari ikan yang tidak ada jenis lain selain baronang dan anak ikan hiu yang harusnya dilarang dikonsumsi.
“Boleh, berapa harganya?”,
“Seratus ribu, 3 ekor”, saya melihat cumi berukuran sedang dan langsung saat itu terbayang cumi bakar yang berwarna hitam karena tintanya. Saya berusaha menawar, namanya saja ibu-ibu kurang afdhol rasanya tanpa menawar.
“Minta 4 aja bu, seratus ribu” dalam bahasa makassar yang terbata-bata saya berusaha menawar.
“Minyaknya mahal, nda bisa kurang lagi”.
“Paslah saya kan mau dibakar saja jadi minta 4 ya gak usah pakai minyak”, saya tetap memakai akal untuk menawar
“Gak bisa, gak dapat harga segitu,” kata ibu yang akhirnya saya tahu bernama Daeng Te’ne
“Gitu saja bu, saya bakar sekarang dari pada tinggal cuminya”
“Oh gak bisa, nanti juga banyak yang mau beli” . Kalimat Daeng Te’ne ini betul-betul membuat saya patah arang. Yah sudahlah, saya tidak memiliki perasaan bersalah lagi sudah menawar. Apalagi lauk cumi sebenarnya cuma sebagai pelengkap. Kakak dan ponakan semuanya bawa makanan. Saya meninggalkan daeng Te’ne dan akhirnya berenang menikmati laut yang biru terang.
Cucu keponakan yang belum berusia setahun menjadi penyegar suasana. Apalagi ibunya mengaku ini kali pertamanya dia ke pulau Samalona. Wah.. sayang sekali 😀
Setelah memuaskan kulit ini disentuh oleh air laut saya akhirnya merasa lapar. Begitu tiba di balai-balai saya sudah langsung kepikiran makanan. Hmm.. lapar karena bermain air itu lumrah, sibuklah saya bergerilya membuka tempat makan yang ada. Ada gogos dan daging toppalada ada serundeng juga, rasanya lengkap saya pun makan dengan lahap.
“Ini sudah dibakar cuminya,” dua orang pria yang berbadan tinggi berkaos oblong datang menghampiri kami. Saya jelas terheran-heran. Perasaan saya tidak jadi memesan cumi ini, kok yah tiba-tiba ada yang datang dan bilang itu pesanan kami. Dan kalau daeng Te’ne yang berubah tiba tiba jadi laki laki ini saya pasti lebih heran lagi.
Dan memang benar ternyata, ini siasat daeng Te’ne langsung memberikan cumi tanpa berani bertemu dengan kami, langsung menodong ceritanya. Oh jangan dulu. Saya bukan orang yang cerewet tapi untuk pemperjelas sesuatu itu bagian saya. Saya akhirnya meminta para pria pembakar cumi itu untuk memanggil daeng Te’ne. Akhirnya dia datang dan tidak bisa berkata apa-apa karena saya ada. Dia sudah menyampaikan ke kakak ipar saya bahwa dia sudah berbicara dengan saya saat saya berenang. Ini tidak benar!
Saya ngotot berkata tidak dan saya marah kepada ibu ini, yang pertama dia arogan, penjual kok arogan yang kedua dia berbohong mengatas namakan saya kemudian berbicara dengan kakak ipar saya, yang ketiga dia seakan menodong untuk kita terpaksa membeli cumi itu.
Kasihan cuminya, akhirnya saya bilang sudah, biar saya bawa pulang saja toh kami kami sudah makan tetapi sebelumnya saya sudah berceramah panjang ke daeng Te’ne. Eh bukannya selesai dia malah bilang, ya sudah gak usah dibeli gak akan jadi rejeki yang baik. Astaghfirullah.. harusnya dipikir sebelum dia melakukan hal hal yang tricky itu. Ya sudah saya pun tidak mau menahan. Saya hanya berharap semoga menjadi pelajaran.
Kasihan cuminya lagi, sudah dibakar jadinya tidak bisa dinikmati
Kerja untuk Mahluk
Pernah gak kita merasa hasil kerja kita tidak dihargai? Pernah gak kita merasa dijelek-jelekan terus dengan kerjaan yang dulu-dulu?
Saya pikir di dunia kerja semua itu bisa terjadi. Jangankan pekerjaan yang tidak dilakukan dengan benar, yang sungguh-sungguh kita usahakan pun bisa dianggap tidak ada apa-apanya.
Beberapa hari lalu saya tersinggung, karena perkataan salah seorang pimpinan saya. “Itulah kenapa saya tunjuk dia (seorang konsultan di luar dari management) untuk bisa menyelesaikan persoalan ini. Coba saja sudah berapa orang yang kerja …, … dan …. termasuk Lily, tidak ada yang selesai.”
Nyessss.. hati ini rasanya gimana gitu, langsung deh rasanya galau tingkat tinggi. Saya tidak mau membela diri cuma saya merasa agak kurang bijak saja menyampaikan itu di depan kami-kami semua. Dan sebenarnya semua punya andil mengerjakan pekerjaan tersebut cuma kebetulan akhirnya saja yang pada posisi “selesai” dan itu sudah diakui sebagai hasil kerja yang sempurna. Saya mikir juga biaya yang dikeluarkan untuk orang luar tersebut tidak sedikit, belum lagi fokus kerjanya cuma itu. Banyak sekali alasan-alasan yang muncul di kepala gara-gara pernyataan tersebut, biasalah manusia selalu gak pernah mau disalahkan.
Nah itu baru di kepala, di hati lain lagi. Saya malah sudah kepikiran yang aneh-aneh. Saya merasa apa apa yang sudah saya lakukan tidak ada artinya. Nyesek kan… Sampai saya berpikir ya sudah, ternyata managemen hanya menganggap saya seperti itu. Tak berguna
Muncullah niat untuk mengajukan pengunduran diri, berpikir untuk mencari pekerjaan lain dan sebagainya hanya karena perasaan kecewa.
Nah kecewa!
Beruntung sepanjang perjalanan saya berpikir, setelah dapat wejangan yang benar-benar menyentuh hati yang paling dasar. “Allah tidak akan berhenti menguji kita dari orang-orang di sekitar kita.”
Benar juga, kenapa saya yang harus bersikap lebay seperti ini? Bukannya saya harus mengerti apa maksud yang disampaikan oleh yang bersangkutan. Apalagi saya tahu ada kepentingan di baliknya. Lalu kenapa saya harus galau? Kenapa harus kecewa.
Terlepas dari hal tersebut, saya jadi menyadari, kembali menyadari bahwa seharusnya pekerjaan yang saya lakukan harusnya bernilai ibadah di mata Allah. Lalu jika saya masih memikirkan kesan dari mahluk lain terhadap apa yang saya kerjakan artinya niat tersebut sudah bergeser. Astaghfirullah saya harus memperbaiki hati dan pikiran saya. Tidak pantas hati saya menjadi galau hanya karena kesan seorang mahluk, kerisauan saya seharusnya hanya jika saya kurang beribadah, tidak melakukan semuanya karena Allah.
Alhamdulillah saya merasa jadi lebih enteng, saya tidak peduli lagi dengan kesan atau pendapat yang ada. Saya cukup menjaga niat saja, bekerja sebaik-baiknya untuk kepentingan perusahaan dan saya tetap harus belajar. Jadi jika ingin bekerja untuk mahluk siap siap merasakan hal yang saya sampaikan di atas 🙂
Ganbatte!
Kerja karena Rok Mini
Sebenarnya kisah ini selalu diceritakan jika Bapak yang dulunya jadi pimpinan saya ini bertemu dengan orang lain. “Jadi dulu ya, kan dia nih di business center,” katanya sambil nunjuk ke saya. “Saya heran kenapa orang Jepangnya selalu saja ke ruangan itu, katanya untuk bantu mengurus administrasi sewaktu perusahaan baru mau didirikan. Begitu saya ke sana, wah ternyata ini penyebabnya, yang jaga pakai rok mini.” kata beliau sambil tertawa
Dulu di hotel Sahid saya bekerja di bagian pengolahan data, tetapi karena dianggap masih bisa membantu di bagian lain akhirnya saya nyambi juga di business center. Dan itu memang kisah awal saya bertemu dengan pemilik perusahaan tempat dulu saya bekerja yang sekarang masih beroperasi di KIMA Makassar.
“Bagaimana kalau kita ajak saja gabung di perusahaan,” begitu katanya usulan dari Bapak ke orang Jepangnya. “Wah boleh…,” kata si pemilik perusahaan
Jadilah saya bekerja selama total 13 tahun di perusahaan tersebut. Alasannya hanya karena rok mini (hihihi)
Alhamdulillah rok mini juga yang membawa saya ke arah yang tepat. Bekerja sama di lingkungan teman-teman yang selalu menutup aurat dengan baik membuat saya merasa risih sendiri. Kadang malah jadi mikir macam-macam kalau teman-teman cowok tiba tiba duduk di meja depan. Ini mau ngobrol atau mau lihat ke bawah :p
Akhirnya kondisi semakin tidak nyaman, perlahan lahan saya mengubah cara berpakaian saya, roknya semakin panjang dan akhirnya menutup sampai ke mata kaki.
Untungnya dengan berlalunya waktu, saya masih dianggap berguna di tempat kerja itu. Kira kira jika saya sudah tidak memakai rok mini dan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja mungkin saya langsung dipecat. 😀
Selamat Hari Blogger Nasional
Selamat hari Blogger para Blogger
Tetap semangat dalam menulis, menuangkan ide dan cerita, menebar kisah dan cinta
#menyemangatidirisendiri
Everest Puncak Kehidupan?
Nonton film yang penuh pelajaran itu sangat berarti, apalagi jika didapat dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri
Mendaki gunung? itu tidak ada dalam kamus saya. Selain takut ketinggian, saya malah menikmati gunung dari jarak pandang tertentu. Terakhir saya “mendaki” gunung Bromo dengan mobil hardtop, itu sudah membuat kenangan akan ketakutan yang tidak menyenangkan apalagi jika Gunung Everest.
Gunung Fuji pun saya daki dengan menggunakan mobil, tidak ada struggle yang harus melibatkan fisik, malah saya menikmatinya dengan mendengarkan lagu dari Matsuyama Chiharu yang sangat pas dengan suasana musim gugur waktu itu.
Everest memang adalah titik tertinggi dari daratan yang ada di dunia. Tinggi gunung ini adalah sekitar 8.850 meter, walaupun ini masih menjadi perdebatan antar negara dimana kaki kaki everest berada. Perbedaan pendapat ini menurut para ahli juga dimungkinkan karena puncak everest yang terus bertambah seiring dengan perubahan kontur bumi.
“:Unlike many mountain-disaster stories, this is the kind that makes you never want to look at a mountain again”. Nah, apalagi bagi saya. Film yang didasarkan dari kisah nyata yang berakhir tragis ini terjadi tahun 1996 tanggal 10 Mei. Seharusnya menjadi hari kemenangan bagi beberapa orang yang telah membayar $65.000 untuk mengikuti ekspedisi ini bergabung dengan Adventure Consultant. Tetapi alam meminta bayaran lebih mahal lagi, nyawa dari beberapa orang pendaki dan menjadikan jasadnya abadi sebagai lambang keagungan Everest.
Dalam perjalanan tragis ini, banyak lempengan kisah-kisah kecil yang menggugah. Pengorbanan, persahabatan, keberanian dan tekad. Rob Hall sebagai penanggung jawab dari expedisi berbayar ini tergambarkan sangat bertanggung jawab. Dia bahkan rela untuk mendaki kembali setelah mencapai puncak hanya untuk memenuhi keinginan salah satu pendaki yang membawa aspirasi dari anak-anak sekolah. Namun sayang keputusan ini pula yang membuat pendakian ini menjadi kisah tragis.
Dalam setiap pendakian, pengambilan keputusan adalah sama dengan memilih antara hidup dan mati. Jika tidak dibarengi oleh akal sehat dan pertimbangan yang matang akan menjadi ritual penyerahan nyawa. Menimbang-nimbang antara ambisi akan keinginan di depan mata dengan keadaan yang sebenarnya memang sangat berat. Apalagi di gunung, puncak pun kelihatan dekat tetapi usaha untuk mencapai ke sana berlipat ganda dari keadaan biasa.
Hidup pun demikian, kadang ada ambisi yang membuat kita buta akan keadaan yang sebenarnya. Kerja sama dengan logika dan orang-orang yang punya pengalaman terhadap sesuatu sangat berharga. Tapi apakah kita masing masing memiliki puncak kehidupan?
Saya memilih tidak. Saya tidak ingin merasakan kemenangan atau meraih puncak. Jika itu terjadi sama saja melihat para pendaki itu kehilangan tenaga dan semangat untuk kembali. Mungkin karena kembali ke kehidupan tidak semenarik melihat puncak everest lagi. Highest point sudah tertaklukkan, lalu apa lagi?
Hidup bagi saya adalah menikmati setiap saat, seperti yang disampaikan oleh Rob Hall dalam dialog di film ini. “Perhatikan langkah-langkahnya jangan perhatikan puncak gunungnya”
Keterbukaan yang Mendewasakan
“Dulu saya kalau dah dibilang kristen atau china, pasti sudah siap saja ngumpul mau berkelahi bu”
Itu kata pak Arif, supir kantor saat saya dalam perjalanan ke Bandara untuk melaksanakan tugas kantor. Rasis juga nih pikir ku. Saya selalu ngeri sama orang rasis, apalagi sebelumnya saya termasuk memenuhi kriteria yang dikatakannya itu.
Dulu juga saya korban pengganyangan pak, masih ingat saya waktu pintu dan jendela di rumah di Makassar itu pecah karena dilempari batu dari luar oleh orang orang yang sedang bergerombol dan meneriakkan kata kata yang membuat saya menyesal telah mendengarnya, menghasut yang lain dan memprovokasi mengajak untuk turut bersama. Waktu itu saya masih kecil dan dilingkupi dengan rasa ketakutan yang sangat besar. Sampai sekarang saya tidak akan bisa melupakan itu.
Tapi bu, sejak internet ada saya malah senang, kata pak Arif. Kenapa demikian pak? tanyaku penasaran. Saya berpikir tidak mudah meniadakan perasaan tidak suka terhadap ras dan agama tertentu jika bukan karena sesuatu yang besar.
Iya bu, kalau ada yang ngomong untuk menghasut saya langsung buka hape, buka internet terus mengecek kebenaran informasinya kan dengan itu kita bisa berpikir, mana yang pantas diikuti dan resiko resikonya, beda sama dulu bu. Apa yang dibilang pimpinan kelompok itulah kebenaran sejati, bahkan mati pun kami rela.
Beugh…
Awalnya keterbukaan informasi memang mengkhawatirkan. Keadaan yang tercipta justru kebebasan berpendapat yang bablas. Orang orang seakan tidak beretika, asal berpendapat tanpa mengecek kebenaran suatu masalah sudah ikut menyebarkannya hanya didasari perasaan suka atau sedang berpihak ke pihak tertentu.
Tetapi itu adalah proses. Sama ketika pemerintah memberikan daerah keleluasaan dengan otonomi tersendiri. Para kepala daerah malah mengeksplorasi sumber daya yang dimiliki oleh daerahnya.
Sebenarnya ada yang kita lupa. Proses pengelolaan itu sangat penting. Bukan sekadar hak yang diberikan. Ketika pak Arif membuka diri untuk mencari dan menerima informasi dari pihak yang berbeda kemudian menimbang-nimbang informasi tersebut termasuk resiko resikonya, dia sedang melakukan proses pengelolaan.
Kegagalan beberapa daerah untuk mengelola sumber daya daerahnya bukan merupakan kesalahan dari keleluasaan yang diberikan tetapi memang butuh waktu untuk dewasa. Kewenangan yang sekarang ditarik kembali ke propinsi mudah-mudahan dalam rangka pengawasan pengelolaan bukan sekadar berpindah kekuasaan. Karena intinya bukan siapa tetapi proses yang dalam pengawasan yang benar.
Blokir informasi juga merupakan model keleluasaan yang dikebiri. Padahal untuk bisa mahir bersepeda harus bisa merasakan jatuh dulu. Pemerintah cukup mengawasi dan memberikan aturan dimana kita boleh merasakan jatuhnya agar tidak berakibat fatal. Jika pak Arif tidak diberikan keleluasaan mencari informasi berimbang, saya kuatir jika ada yang memprovokasi saya adalah target yang terdekat yang bisa diserang. Semoga keterbukaan ini memang mendewasakan kita
Bersaing itu Lumrah
Kekawatiran tentang pekerja dari luar sudah mulai terasa di kalangan pekerja lokal di Indonesia. Hampir semua berpikir, pasti kita tidak kebagian tempat lagi untuk bekerja. Orang-orang asing yang datang itu mengambil rejeki kita, mengambil piring nasi kita.
Sayangnya hanya sedikit yang melihat ini sebagai peluang. Peluang untuk menjadi lebih baik dan meningkatkan daya saing. Tapi kira-kira apa yang kita miliki? Payung hukum? Berlindung kepada pemerintah?
Menurut saya sepatutnya kita sendiri menyadari bahwa dengan semakin banyak persaingan semakin memacu kita untuk bisa bekerja lebih baik. Kita tidaklah perlu mendesak pemerintah untuk membatasi orang-orang asing yang masuk untuk bekerja dikarenakan berlakunya pasar tunggal yang disepakati oleh negara negara ASEAN yang akan berlangsung akhir tahun 2015 ini. Tetapi desakan kepada pemerintah yang harus kita perjuangkan adalah memberikan kesempatan seluas luasnya dan mendukung peningkatan sumber daya manusia Indonesia. Dari pendidikan umum, keterampilan dan lain lain.
Bersaing itu sudah lumrah, tidak perlu kita seperti orang manja. Pemerintah tidak akan mampu mengatur pengusaha yang akan memilih sumberdaya yang terbaik untuk perusahaannya. Jika campur tangan pemerintah terhadap para pengusaha dilakukan, jangan salahkan kalau mereka memilih tempat lain untuk bisa berinvestasi.
Para pemilik perusahaan pasti berusaha untuk memilih sumber daya yang terbaik. Etika dan ethos kerja menjadi utama. Jika sampai pekerjanya hanya bermodalkan ancaman boikot saat bekerja, para pengusaha pasti berpikir untuk mencari alternatif lain, salah satunya dengan menggunakan orang asing.
Ancaman yang nyata pada perusahaan adalah dengan memberikan kinerja yang terbaik saat bekerja. Dengan demikian apa yang dituntut pun akan wajar jika terjadi ketidak adilan dalam manajemen perusahaan. Tetapi jika memang itu terjadi pada suatu perusahaan, jangan kuatir, dengan kinerja yang dimiliki pastilah secara pribadi kita punya daya saing untuk di perusahaan perusahaan yang lain.
Berhentilah berpikir bahwa kita akan kuat dengan berlindung kepada pihak lain, cuma satu jalan, tingkatkan potensi diri dan mari bersaing. Jika kita berharap pemerintah yang melindungi, sama saja dengan kita tidak punya keberanian untuk bertarung.
Tetap Semangat!
Tentang Karma
Ngeri rasanya kalau kejadian berkenaan dengan karma itu terjadi di depan mata, yang ada langsung berdoa dalam hati semoga saya selalu dijaga dari niat menyakiti orang lain dengan sengaja
“Orangnya tidak bisa kerja, cuma tau berbicara saja tidak ada kerjaannya yang jadi”. Itu salah satu kalimat yang saya masih ingat ketika seseorang menceritakan tentang staff yang tidak perform. Saya juga heran, selama saya bekerja sama saya tidak merasa sesuatu yang aneh. Mungkin saja adaptasi terhadap orang baru dan lingkungan yang baru bisa jadi berpengaruh. Tetapi seharusnya kita bisa melihat kinerja seseorang tidak pada satu rentang waktu saja, tetapi secara keseluruhan.
Belum lagi tentang kecurigaan sehingga orang yang dimaksud menjadi terkucilkan. Masalah penyalahgunaan dana, waktu bahkan kewenangan. Semua hal yang buruk diceritakan, entah itu benar atau tidak
Saya harus menahan rasa yang sangat tidak enak ketika harus menyampaikan bahwa managemen tidak akan memperpanjang kontrak kerja samanya lagi. Sedih karena saya sudah lama bekerja sama dengan dia. Tidak ada pribadi yang sempurna, tetapi jika masih bisa diajak kerja sama peluang untuk mendapatkan hasil maksimal masih memungkinkan.
Sebagai seorang pimpinan yang baru, selayaknya memberi contoh dan merangkul bukan malah membuat orang lain menjadi musuh. Prasangka memang sangat berbahaya, apalagi dalam hal penilaian kepada karyawan.
“Saya tidak melakukan apa apa bu, tapi saya yakin Tuhan punya mata”, merinding saya ketika pernyataan yang harus saya sampaikan dibalas dengan kalimat itu. Saya cuma terdiam dan hanya bisa bersimpati dengan dia
Tuhan memang punya mata, dan Dia membalikkan keadaan yang sama kepada orang tersebut. Saya merinding, ketika menyadari itu. Semua hal yang dikatakan ke orang tersebut berbalik ke dirinya. Sama seperti kalimat awal yang saya tuliskan, itu juga diucapkan kepadanya oleh orang lain lagi.
Semoga ini adalah pelajaran bagi semua orang utamanya saya. Menjaga hati itu penting. Membersihkan niat juga itu utama. Sekarang saya lebih ingin membicarakan sesuatu tidak berkenaan dengan subyek, tetapi obyek atau materi. Saya tidak ingin kena karma. Tuhan punya mata.
Nonton Konser Idola
Bonjovi Live in Jakarta! 9 September 2015 sudah saya tandai jauh-jauh hari, tidak akan ada kegiatan lain selain menonton konser Bon Jovi. Sempat dilema saat membeli tiket dua bulan sebelumnya, saya harus pandai-pandai menakar keinginan dan kemampuan saya. Menonton di VIP jelas tidak mungkin, uang senilai tiga setengah juta rupiah bagi saya sangat besar untuk sekadar menonton seorang idola. Akhirnya saya memutuskan membeli tiket tribun, saya pikir di festival yang tidak ada tempat duduk selama pertunjukan sudah tidak cocok lagi di usia saya. Duduk di tribun atas Geloran Bung Karno dan menikmati ambiance dan euforia para penggemar Bon Jovi pasti terasa megah. Tiket akhirnya terbeli dengan harga lima ratus ribu ditambah pajak dan lain lain.
Keriuhan mulai terasa sehari sebelum konser, di media sosial sudah berseliweran meme yang membuat kita geli sendiri dan tidak sabar untuk bertemu om John and the team. Walaupun banyak teman-teman yang menampakkan dirinya bakal nonton, saya tetap santai dan tetap keukeuh untuk menonton sendiri. Saya pikir jika semua orang tujuannya sama, saya pasti sudah merasa berada bersama sama dalam crowd.
Jam 7 malam saya baru tiba di GBK, sudah mulai ramai dan ternyata begitu masuk di lapangan hampir semua kursi tribun sudah terisi. Untungnya saya sendiri, nyempil dan memilih tempat sesuai selera menjadi lebih mudah. Sam Tsui sudah bernyanyi sedari tadi rupanya, tapi saya tidak terlalu mengenal lagu-lagunya. Saya duduk sambil menerawang tentang Bon Jovi, idola saya sewaktu SMA.
Mama sering bertanya ketika saya mendengarkan musik dengan suara keras saat belajar. Apa bisa masuk tuh pelajarannya? katanya. Tapi itulah, musik bon jovi membuat saya bersemangat. Slippery When Wet adalah album yang paling saya sukai, setelah itu single John Francis Bongiovi, Jr di Young Blood membuat saya lebih jatuh cinta lagi. Penyesalan yang dalam saya rasakan di saat Bon Jovi tiba di Jakarta tahun 1995. Saat itu saya masih kuliah dan saya masih bergulat dengan kerasnya kisah kehidupan saya waktu itu. Alhamdulillah, gumanku. Saya akhirnya bisa melihat secara langsung walaupun cuma sebesar jari telunjuk jika dipandang dari tempat duduk saya.
Penonton yang katanya sekitar 40.000 orang itu benar-benar menyemut, apalagi terlihat dari tribun atas. Mereka pasti berharap yang sama seperti saya, mengingat kembali masa-masa jaya dengan lagu-lagu nge-hits yang sepertinya tak lekang oleh waktu. Sayangnya, dari play list saya hanya mungkin mengenal setengah dari lagu-lagunya. Entah itu album baru, atau album yang terlewati.
Berasa seperti mesin motor yang baru dipanasi, mati lagi, panas lalu mati begitu pas lagu living on the prayer, semua berjingkrak dan setelah itu selesai. Saya geli sendiri. Tidak rugi rasanya beli di tribun, sudah benar pas lah dengan nilai segitu saya tidak sampai kecewa. Om John walaupun sudah setengah abad masih tetap keren. Body dan aksi panggungnya sangat energik, tetapi suaranya sudah tidak bisa menyamai ketika dia masih muda dulu, nafas sudah terputus putus dan tidak bisa lagi di nada tinggi.
Usia memang berpengaruh, sama ketika beberapa lagu yang seharusnya bisa membuat penonton bersemangat malah dinyanyikan dengan aransemen lagu slow, kita bahkan harus terdiam lama untuk mengenali lagu yang dinyanyikan hanya dengan melalui lirik.
Apapun itu, kesan tentang Bon Jovi tetap menarik, meskipun si ganteng Richie Sambora tidak lagi berada di dalam group digantikan dengan gitaris baru yang menurutku wajahnya mirip Josh Groban. Saya pulang dengan rasa puas, sekali lagi bersyukur dapat memperoleh kesempatan untuk menonton secara langsung idola saya. Dan itu cukup ^^
Menghindari Kanker Serviks
Baru baru ini diundang untuk acara seminar mengenai kanker serviks. Awalnya saya tidak terlalu berminat, saya selalu takut jika berbicara tentang penyakit. Saking takutnya kadang disuruh ke dokter saja saya gak mau, alasannya takut ketahuan sakitnya yang kemungkinan berat.
Jika keluhan mulai muncul saya akan memulai mencari obat-obatan herbal yang menurut saya lebih masuk akal dari pada obat dokter.
Tapi karena memang sudah ditakdirkan untuk duduk dan mendengar di depan seorang pria yang merupakan volenteer dari Yayasan Peduli Kanker Indonesia, saya terima saja. Meskipun awalnya merasa agak aneh mendengar seorang pria yang menjelaskan tentang organ intim wanita, tetapi karena dijelaskan secara keilmuan akhirnya perasaan anehnya hilang.
Kanker rupanya butuh waktu lama untuk bisa menjadi parah, masalahnya kadang kita tidak menyadari bahwa sebenarnya bibit kanker sudah ada pada tubuh kita. Khususnya kanker serviks, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pap smear setiap 6 bulan sekali, untuk mengetahui ada tidaknya bibit kanker di mulut rahim.
Jika sudah terasa keluhannya biasanya itu sudah pada tingkat kronis, dan susah untuk diobati. Ngeri bukan.
Selain itu, dari informasi yang dibagikan oleh YPKI, selain kita mengenali penyakit ini kita harus mengetahui cara menghindarinya. Saya sudah berselancar juga di internet, tetapi penjelasan penjelasan justru membuat saya ngeri dan penuh dengan istilah-istilah medis yang kurang saya mengerti.
Sederhananya ada beberapa hal yang harus kita lakukan di setiap hari untuk dijadikan kebiasaan agar terhindar dari kanker ini, insha Allah.
Membersihkan alat vital sebelum berhubungan badan
Keringat yang ada pada daerah intim bisa membuat kuman, virus dan bakteri semacamnya betah dan berkembang biak. Tujuan membersihkan alat vital sebelum berhubungan agar tidak sampai ikutan masuk dalam liang vagina dan malah mendapatkan tempat yang nyaman di mulut rahim.
Menggunakan celana dalam yang bukan sintetis
Maksudnya agar daerah V tidak berkeringat dan lembab, jika pun iya harusnya kita menggunakan pakaian dalam yang menyerap keringat. Daerah V sebaiknya diberi ruang untuk bernafas juga, sehingga penggunaan celana ketat juga dihindari. Bahkan dianjurkan sesekali untuk tidak mengenakan celana dalam di saat saat tertentu.
Menggunakan pembalut yang benar
Rupanya pembalut yang benar adalah kain. Dahulu para orang tua kita pasti menggunakannya. Tetapi karena zaman semakin instant, penggunaan pembalut yang mengandung bahan kimia tidak bisa kita hindari lagi. Untuk itu pandai pandai memilih produknya. Gunakan pembalut yang berbahan dasar herbal. Agak mahal tetapi akan lebih aman untuk tubuh. Jika pun sedang haid usahakan selalu mengganti pembalut, jangan dibiarkan keadaannya lembab.
Bersih saat di toilet
Pastikan alat-alat yang digunakan di toilet higienis, jika tidak kita perlu menggunakan pembersih vagina yang ber pH seimbang, sehingga kuman tidak akan betah di daerah vagina.
Selebihnya, makanan yang baik dan olah raga yang rutin.
Beberapa hal sederhana di atas semoga bisa membantu kita menghindari benih-benih kanker yang sudah bertebaran bebas di sekitar kita. Mari cegah diri dari penyakit dengan hidup bersih dan sehat. Semoga kita semua terhindar dari penyakit ini. Aamiinn.
