>Tertarik dengan artikel yang dibuat di Tribun Timur dimana Makassar mendapat Piala Wahana Tata Nugraha 2007 yaitu penghargaan tertinggi sebagai kota raya paling tertib lalu lintas, Mamie sempat tercenung.
Kalau makassar yang paling tertib? gimana kota yang lainnya?
Terlepas dari standar penilaian atau siapa yang menilai atau apa artinya penghargaan itu mamie cuma berpikir, keadaan sehari-hari saja bikin mamie bisa stress.
Naik bus kantor, was-was apalagi kalo di drive sama pak yamin, yang rada-rada berjiwa muda.
Naik mobil tetangga eheum..eheum.. kak husba sih emang masih muda
Naik mobil sendiri diantar pace.. , kadang boss ku ini lupa bahwa dia gak sedang naik motor kesayangannya.. jadinya slap slip.
Bawa mobil sendiri, alamak!! keringatan, mana pete-pete, mana pengendara motor yang kadang gak liat-liat tiba-tiba nyelonong aja di depan mobil
Weh, yang begini dibilang tertib?
mamie ingat waktu sempat dapat tugas ke Jepang. Jamin aman, beneran aman. semua pada jalurnya semua sangat peduli dengan pejalan kaki. Coba aja disini, jangankan jalan kaki, mobil mau minta jalan saja susah banget.
Gak ada yang mau mengalah. Kelihatan memang ke-ego-an kita bahkan kadang itu yang menyebabkan macet di perempatan.
Gak ada yang berpikir bagaimana supaya gak macet, semua mau duluan, semua merasa penting.
Harapan mamie sih mudah-mudahan penghargaan itu gak malah membuat kita merasa emang sudah tertib. Masih banyak sebenarnya kekurangan yang ada jika kita mau dengan besar hati membandingkan diri dengan kota-kota maju.
Toh tujuannya untuk perbaikan kan, kalo dah puas gak jamin deh mau memperbaiki diri
Semoga kotaku bisa bener-bener bisa tertib sesuai dengan penghargaannya.
Biar mamie gak takut lagi kalo bawa kendaraan.. hehehe
>Betul, Mam. Beda sekali dengan kondisi di negara maju. Meskipun mereka individualis tapi punya kesadaran yg tinggi apalagi soal ketertiban lalu lintas.