Hormat itu Kini Terkikis

Kolom tradisi di Kompas hari ini, tanggal 25 Oktober 2013 berjudul unik. “Gelas Besar untuk “Pembesar””. Sekilas kisah tentang tradisi yang ada pada sebagian orang Bugis-Makassar. Hirarki sosial yang tercermin di meja makan. Siapa yang mendapatkan jatah piring dan gelas besar, dialah “orang besar”. Tulisan dari Budi Suwarna dan Aswin Rizal Harahap ini membuat saya kembali memetik serpihan-serpihan masa lalu, keadaan masa kini dan membandingkannya.

Memang benar yang diceritakan oleh para penulis. Kita bisa melihat siapa pemimpin dari suatu kumpulan sosial saat kita makan bersama. Meskipun saya bukan murni lagi keturunan Bugis Makassar, tetapi tradisi ini pun berlaku di keluarga. Walaupun piring makan sama, Gelas besar jelas sekali itu punya bapak saya. Bukan hanya gelas, tetapi giliran makan pun yang pertama adalah orang tua. Tradisi ini secara otomatis berpengaruh pada hal-hal lain dalam keseharian. Jika bapak saya sudah berbicara, tidak akan ada yang bisa membantah. Hormat kita kepada orang tua membuat kita patuh dan keluarga menjadi gampang diatur.

Sekarang sepertinya tradisi itu sudah jarang diperhatikan dan dilakonkan, saya pun demikian. Apakah karena saya terbiasa mendapat kesempatan belakangan, saya tidak tahu. Tetapi sekarang kecenderungan saya malah mengutamakan anak-anak. Mereka harus makan duluan barulah kami. Walaupun tidak selalu, keadaan ini sangat berbeda dengan tradisi lama. Sekarang saya jadi berpikir, dengan memposisikan mereka yang utama bisa saja membuat mereka jadi manja. Takut mereka tidak merasa dipedulikan? buktinya kita bisa melalui itu tetap menghormati dan menyayangi orang tua walaupun kita mendapat giliran akhir saat makan. Gelas besar pun tak ada lagi, malahan gelas-gelas anak-anak kita lebih mahal dan beragam dibanding gelas yang kita pakai.

Karena memanjakan anak-anak, mereka menjadi pribadi yang kurang hormat lagi. Bisa dengan mudah membantah orang tua. Sekali orang tua berkata mereka bisa menjawab sepuluh kali. Terkikis sudah rasa hormat itu karena tradisi yang tidak kita lanjutkan. Sayangnya, banyak tradisi yang dilakukan dulu memang tanpa penjelasan. Apa makna dan kegunaannya. Kearifan lokal yang tergantikan oleh tradisi global mengakibatkan kita kewalahan dengan perubahan yang tidak kita sadari. Sewajarnya kita memelihara tradisi. Apalagi jika kita sudah menyadari, orang orang tua kita lebih paham tentang hidup, kenapa kita tidak mengikutinya?

 

235 thoughts on “Hormat itu Kini Terkikis

  1. Hmm is anyone else encountering problems with the pictures on this blog loading? I’m trying to figure out if its a problem on my end or if it’s the blog. Any suggestions would be greatly appreciated.

  2. Wow that was odd. I just wrote an incredibly long comment but after I clicked submit my comment didn’t show up. Grrrr… well I’m not writing all that over again. Anyway, just wanted to say superb blog!

  3. Its like you read my mind! You seem to understand a lot approximately this, like you wrote the book in it or something. I believe that you simply could do with a few percent to force the message house a little bit, however instead of that, that is great blog. A fantastic read. I will definitely be back.

  4. Good day! Do you know if they make any plugins to help with Search
    Engine Optimization? I’m trying to get my website to rank for
    some targeted keywords but I’m not seeing very good gains.
    If you know of any please share. Thanks! You can read similar article here: Backlink Portfolio

  5. Hey! Do you know if they make any plugins to help with
    Search Engine Optimization? I’m trying to get my blog to
    rank for some targeted keywords but I’m not seeing very good results.
    If you know of any please share. Thanks! I saw similar art
    here: Backlink Portfolio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *