Archive

Serasa Punya Anak Lagi

Masih terheran-heran saya melihat tingkah laku anak-anak sekarang. Sangat berbeda dengan keadaan kita dulu. Saya masih ingat ketika saya mulai akrab dengan seseorang, mama langsung mendudukkan saya di hadapannya dan menegur ini itu. Merasa terhakimi langsung pada detik itu. Dan itu sangat kurang baik, karena melihat dari sisi pribadi, saya bukan orang yang suka ditegur lebih suka diberi pemahaman.

Mengingat hal itu saya tidak ingin melakukan hal yang sama dan membuat anak saya merasakan hal yang sama. Zaman memang sudah berbeda, dulu untuk dekat sama seseorang saya di usia kuliah. Dimana saat itu teman-teman sudah memiliki pasangan, agak terlambat untuk ukuran masa itu. Dan itu juga yang membuat saya merasa anak anak sekarang sangat cepat dalam bergaul. Mungkin penyebabnya adalah media yang semakin banyak, sudah ada internet yang memudahkan interaksi. Saya cuma bisa mengingat dulu hanya bisa kagum sama penyiar radio tanpa bisa apa apa.

Kakak merasa sudah waktunya, liburan kemarin sebulan sudah memiliki arti yang besar dalam hidupnya, ya mendapat pacar. Awalnya dia ragu memberitahukan, tetapi menelpon sepanjang jalan sewaktu kami bersama-sama rasanya itu bukan telpon biasa. Saya mulai menganalisa dan harus memutuskan harus bersikap bagaimana.

Mengingat waktu anak-anak yang terbatas, saya tidak ingin menambah batasan lagi. Komunikasi yang penting adalah keterbukaan. Saya menerima semua perkembangan pribadi yang terjadi dengan mereka, karena jika demikian saya akan lebih tahu apa yang terjadi dengan mereka.

“Ummi, palla’ma gombal,” kata kakak yang kira-kira artinya dia sudah pandai merayu. Saya mengiyakan dan memujinya. “Iya nak bagus itu, tetapi ingat yah segala ucapan itu adalah tanggung jawab, jika sudah menyatakan sesuatu harus ditepati,” Mungkin saya akan terus melakukan seperti itu, mendengar dan mengoreksi.

“Ummi, tolong titip pesan disampaikan …. dan …. soalnya … ,” baiklah, sekarang saya sudah berfungsi sebagai messenger juga, tapi tidak mengapa saya senang melakukannya. Saya senang menjadi bagian dari perkembangan pribadi anak anak saya. Saya yakin dunia ini masih terlalu indah buat yang jatuh cinta, sisi yang lain pasti akan muncul, saya cuma berharap tetap bisa dengan mereka menghadapinya. Dan memang benar rasanya, seakan punya anak lagi dan itu menambah cerita yang menyenangkan.

 

Semut yang Kacau

Saya agak kuatir, film The ANT-MAN yang heboh itu mungkin tidak akan sempat saya tonton. Kesibukan serta masih banyak prioritas dari daftar yang saya buat membuat saya menempatkan posisi menonton pada posisi opsional, jika ada waktu.

Beruntung saya masih bisa berjodoh, di Lotte-Ciputra ternyata film ini masih diputar. Diantara judul film Mission Impossible yang main di 5 studio sekaligus, film ini masih tertera di layar, walaupun hanya diputar 3 kali dalam sehari.

Saya sebenarnya enggan menonton film bertema serangga. Entah kenapa setiap melihat gambar atau menonton film yang bertema mahluk kecil ini, rasanya badan jadi gatal bukan main.

Deretan kursi tidak terisi penuh, ini membuat saya leluasa memilih tempat duduk yang nyaman.  Melihat kondisi ini sepertinya tidak lama lagi film ini akan digantikan dengan film terbaru, sekali lagi saya bersyukur.

Aksi  heroik versi Marvell ini sudah sering kita tonton, siapa pun tokohnya. Selalu saja good guy yang akan menang melawan kezaliman para penjahat yang ingin menguasai dunia akibat ambisi selfish yang melebihi standar kewajaran. Dan itu selalu membuat kita merasa, ah indahnya hidup di dunia kartun, di dunia khayalan.

Tapi ada yang tambahan kesan yang saya peroleh dari cerita ini. Setidaknya sesekali saya harus berpikir dan bertindak seperti semut, bukan sebagai si hero, Ant-Man, tidak perlu.

Setahu saya dari pelajaran sekolah dulu kita dikenal dengan bangsa yang suka gotong royong, tapi sekarang saya lebih merasa menjadi bangsa yang gontok-gontokan. Kenapa bisa demikian?

Betapa menyenangkannya melihat kawanan semut yang dipimpin oleh satu kendali, berhati baik dan bertujuan mulia. Mereka dengan siap selalu menjalankan fungsinya masing-masing. Mereka bisa membuat jembatan, membuat tali dan sebagainya untuk bisa membantu mencapai tujuan dari misi tersebut.

Sekarang di sekitaran, saya malah melihat betapa orang berebut fungsi, semua ingin jadi pemimpin, semua ingin bicara dan banyak yang mencela fungsi dari orang-orang lain sehingga kadang mengabaikan fungsi dan tugas sendiri.

Dunia ini semakin mengerikan. Jika dilihat seperti dunia semut sepertinya chaos. Mungkin penyebabnya ada pada kita-kita, ada pada cerminan penjahat-penjahat yang ada di komik Marvell tersebut. Kapitalisme, konsumerisme semuanya dinilai dengan materi. Nilai-nilai pribadi yang seharusnya menjadi pedoman dalam hidup tergerus habis. Kebanyakan mementingkan diri sendiri, untuk mencari orang yang ingin berkorban dalam memberikan manfaat kepada orang lain juga sulit.

Orang-orang pandai malah menggunakan kepandaiannya dengan mengabaikan moral, selama itu dinilai bisa membuatnya kaya dan exist. Materi sudah merupakan jaminan hidup bahagia. Kebanyakan melenceng dari tugas dasar kita di dunia. Saya juga merasa termasuk di dalam kelompok ini. Saya belum banyak berbuat untuk orang lain, orang di sekitar saya padahal itu adalah tugas saya hidup.

Gotong royong tidak lagi sempurna, rata-rata diselingi dengan hiasan kepentingan, bahkan banyak juga kita temukan sekadar menyenangkan sesaat, gimmick saja.

Saya tidak berniat jadi Ant-man, masih terlalu jauh menempatkan diri sebagai pemimpin kelompok. Cukup saya belajar untuk menjadi diri saya sendiri. Menyadari arah yang kadang kita kesampingkan gara-gara distorsi dari lingkungan yang merecoki pikiran kita sehingga tugas dasar yang tersimpan di hati tinggal menjadi daftar tugas yang terabaikan, jika ada waktu

Jualan Bakso atau Jualan Mobil

Ada cerita menarik yang saya dengar dari sahabat, orang terdekat saya. Dalam dunia kerja memang terisi oleh bermacam-macam niat, karakter, perilaku, dan sebagainya. Semakin lama kita berada dalam dunia ini semakin banyak juga yang bisa kita pelajari. Apakah itu menjadi bahan untuk menghadapi situasi atau bisa jadi menjadi bahan refleksi diri.

Ini seperti orang yang jualan bakso dan jualan mobil, katanya. Saya sempat bingung, apa ya maksudnya? Pernah gak memperhatikan bagaimana tukang bakso menarik perhatian sekampung agar semua orang menyadari kehadirannya? iya, benar. Rata-rata dari mereka menciptakan bunyi dari mangkuk dan sendok besi yang dimilikinya. Belum cukup dengan itu, kadang disertai juga dengan teriakan. Bakso…bakso…

Lalu bagaimana dengan pedagang mobil? apakah mereka melakukan hal yang sama? Tentu tidak. Walaupun mungkin modal suara yang bisa dihasilkan dari kendaraan ini bisa lebih besar dari dentingan suara mangkuk dan sendok yang beradu. Tapi benar, itu tidak dilakukan. Tidak perlu. Cukup dengan menempatkan mobilnya diam dan bersahaja, disertai lampu sorot yang menambah keanggunannya.

Benar, itu lah analogi dari bebarapa karakter yang bisa kita temukan di dunia kerja. Kadang orang harus bersuara kencang, terburu-buru bahkan memanfaatkan informasi yang keakuratannya belum terjamin, hanya untuk menarik perhatian. Dan memang itu yang mungkin mereka inginkan, perhatian sehingga mereka dianggap, atau dirasakan kehadirannya.

Tetapi ada juga karakter tenang yang berisi segala informasi tapi dengan segala pertimbangan yang ada di kepalanya, dengan sabar mendengarkan bahkan tidak terbaca apa yang sedang lalu lalang dalam pikirannya. Lao Tze berkata, orang bijak itu kelihatan bodoh. Mungkin seperti itu perumpamannya. Tetapi dengan kesabaran dan ketenangannya justru merupakan misteri, dia pasti menyimpan harta karun yang besar sehingga tidak dengan mudah diumbar. Mereka bisa memilih kepada siapa yang pantas untuk membicarakan sesuatu.

Semoga menjadi bahan refleksi bagi saya yang kadang grasah grusuh gak karuan 😀

Kamu dibenci, biarkan

Saya tidak pernah tahu, dan hal ini mungkin terjadi juga kepada yang lain. Seseorang bahkan sekelompok orang yang tidak suka dengan keberadaan kita, sikap kita bahkan perkataan kita.

Ini terjadi di lingkungan pekerjaan saat ini, memiliki banyak pimpinan juga membingungkan. Untungnya saya cuma berpatokan pada “bekerja untuk perusahaan”. Masih ada beberapa yang merasa harus tetap baik terlihat kepada pimpinan. Bagi saya itu bukan cara yang tepat. Saya lebih suka dengan menjalankan segala kegiatan pekerjaan dengan jujur dan berusaha yang terbaik dan seobyektif mungkin.

Kelihatan baik di depan pimpinan itu memang bisa menjadi tempat yang aman untuk menjaga keberlangsungan kita di perusahaan, apalagi ditambah dengan pimpinan yang “berkuping tipis”. Ini memang hal yang menguntungkan untuk karyawan-karyawan yang menganggap pimpinannya saja sebagai orang yang harus didengar yang lain lewat saja 😉

Tapi saya sulit melakukan itu. Saya suka blak-blakan. Berbicara apa adanya bahkan tidak ragu menyampaikan ide yang kemungkinan membuat pimpinan gak senang. Tetapi untuk kepentingan perusahaan saya selalu berpikir saya harus melakukan itu.

Baru baru ini saya dikaitkan dengan keberadaan saya yang memang melalui “referensi” untuk mendapatkan kesempatan di perusahaan. Sayangnya yang memberi referensi ini tidak begitu akur dengan keluarga lainnya. Apes lah saya dikait-kaitkan dengan keadaan tersebut. Tetapi kembali lagi saya berpikir, saya membuang waktu dan fokus saya jika membuat pendapat-pendapat subyektif ini berkeliaran di lingkungan kerja saya.

Satu satunya cara adalah menunjukan kualitas pekerjaan saja, masalah penilaian itu bukan urusan saya. Karena saya selalu yakin apa yang terjadi dan yang menjadi hak saya adalah memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Ya, keyakinan kita kadang kurang sehingga kita mengandalkan segalanya kepada mahluk. Tidak berarti kita lalai untuk bersikap sopan atau yang sewajarnya. Keyakinan ini pula yang menguatkan hati saya bahwa sebagai mana pun orang bercerita dan berpendapat tentang diri kita, jangan sampai kita “membenarkannya” dengan cara memikirkan atau bahkan menanggapi. Saya memang pribadi yang tak sempurna masih punya kekurangan dan saya harus menerima itu

Tetapi saya selalu mengingat quote tentang padi dan ilalang. Jika ingin memusnahkan ilalang jangan dengan cara ditebas atau dirusak, karena itu dapat membuat tanaman padi pun ada yang ikut tertebas. Tetapi dengan menumbuhkan banyak padi, ilalang itu akan hilang dengan sendirinya.

Jadi, daripada saya mendengarkan atau bahkan terpengaruh dengan pendapat negatif tentang diri saya, mending saya memusatkan perhatian dan meingkatkan semangat kerja sehingga bisa memberi kebaikan bagi orang-orang lain di lingkungan kerja dan ke perusahaan.

Ganbarimasu!

 

Ikutan Rusuh!

Huh! rusuh gara gara pertikaian Gubernur DKI dan Politisi di DPRD DKI mengenai aggaran ini rupanya menjalar juga ke group pertemanan saya.

Saya suka Ahok, saya menggambarkan dirinya sebagai sosok kesatria yang tidak takut mati, berjuang membela rakyat dan berani dengan segala konsekwensinya. Sangat susah mendapatkan pemimpin daerah seperti itu sekarang. Tetapi saya juga melihat hal-hal yang perlu diperbaiki. Beliau masih sering terbawa arus, yang sebenarnya mungkin dibuat sengaja oleh lawannya agar dia terpancing amarah, dan bertindak ceroboh sehingga dia dengan mudah diserang.

Saya tidak suka beberapa anggota DPRD yang kelihatan tidak ingin menyelesaikan masalah, apa kemungkinannya karena masalah itu mereka yang buat sendiri? Mana tahu. Saya cuma tidak suka dengan orang yang mengatasnamakan rakyat kemudian menikmati manfaat untuk diri sendiri.

Tapi saya bukan pengamat politik, lalu kenapa saya juga ikut rusuh?

Bagaimana tidak, di group pertemanan yang rata-rata adalah keturunan Chinese seperti saya tetapi berbeda kepercayaan pertikaianini menjadi terbawa.

 

Apalagi tentang seorang politisi yang saat rapat dibubarkan meneriakkan kata yang tak pantas, menyinggung soal ras dan binatang. Politisi tersebut dari partai yang berasaskan agama. Sangat disesalkan.

Saya sangat tidak setuju agama atau ras menjadi dasar hal berpolitik, mungkin memang kepentingan dalam pengelolaan negara menjadi penting, tetapi jika kader atau wakilnya sangat tidak mencerminkan gambaran umum tentang agama, itu yang ruwet.

Berada di kelompok yang berbeda dan menjadi minoritas memang harus punya rasa pemakluman yang tinggi. Saya harus sabar mendengar teman-teman yang secara implisit menggambarkan bagaimana seorang itu dengan agamanya bisa berkata sesuatu yang tidak pantas.

Saya tidak menyalahkan mereka, keadaan itu sudah terjadi dan opini sudah terbentuk. Yang saya sayangkan adalah semakin tertutuplah peluang untuk menyatakan bahwa apa yang sekarang yang saya yakini adalah baik. Saya rindu politisi seperti alm. GusDur yang memanusiakan manusia, bukan malah membinatangkan yang tidak sepaham.

Yah.. untuk sementara saya diam. maklum.. tapi menyayangkan orang yang bertindak pribadi tetapi membuat orang lain berasumsi semua di kalangannya adalah sama.

Semoga Ahok tetap kuat! tetap berjuang. Dan semoga yang keliru disadarkan untuk Jakarta yang lebih baik

 

 

 

Go Pr* Go Trend

Saya terheran-heran, orang lain begitu mengagumi gambar seorang cewek yang sedang selfie di mall dengan menggunakan kamera go pr*, penasaran dalam hati dan bertanya apanya yang spesial?

Rasa penasaran ini yang akhirnya membuat saya “meminjam” punya boss. Mungkin pak boss beli karena ngikutin trend juga. “Pakai aja bu, daripada berdebu di rumah” hihihi.. saya benar kan.

Memang hebat marketing gimmick barang ini, di video youtube, lihat saja aksi aksi orang orang yang diakui keren, semuanya terekam dengan kamera kecil nan kokoh ini. Siapa sih yang tidak ingin jadi awesome people.

Bagaimana produsen ini  memelihara ketertarikan para penggunanya?  Mereka boleh mengirimkan foto-foto yang menarik untuk ditampilkan di official web nya yang sebagian besar adalah aksi-aksi outdoor yang cenderung ekstrim.

Aplikasi yang dapat langsung dihubungkan dengan smartphone juga sangat memudahkan. Mungkin ini pula yang membuat fungsinya sedikit bergeser. Menggunakan kamera ini untuk selfie di mall, menjadi sesuatu yang membuat orang mengucapkan “Wah!”

Saya senang jika bisa merasakan tanpa harus memiliki. Selain menghindari kemelekatan saya pun merasa tidak perlu membuang uang untuk sesuatu yang tidak benar-benar saya butuhkan. Dengan begitu saya bisa lebih yakin lagi bahwa hal-hal yang dikatakan orang bagus belum tentu cocok untuk saya.

Kamera kecil dengan harga yang tidak kecil ini memang tidak cocok untuk saya. Saya tidak memiliki kesukaan ekstrim, tidak bersepeda gunung, tidak menyelam dan yang pasti tidak akan melakukan bungee jumping. Jadi alasan apa yang harus saya gunakan untuk mengikuti trend ini?

Meskipun saya terkagum-kagum dengan lensa lebar di dalam casing yang kecil  dan warna yang dihasilkan. Plafon kamar saya bisa ditangkap keseluruhan jika saya berbaring dan warna yang dihasilkan memang terang benderang. Sangat penting sebagai media untuk menyimpan moment-moment yang sulit untuk dilakukan berulang-ulang.

Satu hal lagi yang menjadi alasan barang ini tidak bakal cocok dengan saya, adalah monitor yang kecil. Tulisan sudah pasti lebih kecil dan saya yang sudah mulai mengalami rabun dekat ini berat hihihi. Beruntung untuk type ini sudah memiliki layar touch screen yang juga kecil.

Tetapi memang cool, kamera ini memang untuk anak-anak muda yang berani menantang maut, kegiatan yang butuh nyali besar untuk diabadikan. Mungkin sama seperti nyali seorang cewek yang memakai kamera ini untuk berfoto selfie di mall

Cool lah ^^

 

 

Life is about ourselves, not others

Dengan banyaknya social media yang bisa kita akses dengan mudah, semakin mudah pula kita mengetahui informasi orang-orang di sekitar kita bahkan yang jauh dari kita.

Bedanya dahulu, lingkungan terdekat seperti keluarga dan tetangga-tetangga sekitar rumah yang menjadi “bahan cerita” atau bahkan menjadi bahan pembanding dengan diri kita.

“eh, si A beli kulkas baru sekarang, modelnya dua pintu bahkan punya freezer yang besar”
Satu contoh kalimat yang mungkin ada dalam percakapan kita sehari-hari utamanya para ibu ibu.
Belum lagi kalau obyek bahasan adalah kategori barang mewah, seperti mobil bahkan tas yang nilainya puluhan juta.

Benar, informasi bisa sangat mempengaruhi kita. Kita jadi melihat diri kita sendiri. Duh.. kulkas di rumah kok kayak gini, saya juga butuh mobil. Tas malah mungkin bagus dipakai kalau saya jalan-jalan, orang-orang pasti pada kagum.
Sejumlah pemikiran-pemikiran terlintas yang dapat mengarahkan hati menjadi tidak tenang.
Hati gelisah bisa membuat kita mulai bertindak grasah grusuh. Bagaimana cara saya bisa mendapatkan semua itu, biar saya bisa lebih atau minimal sama dengan orang lain.

KIta lupa rasanya betapa bahagianya kita memiliki kulkas pertama kita yang sederhana, kita lupa rasanya.

Social media sekarang ini membuat kita harus lebih kuat lagi bertahan. Bukan hanya materi, pribadi orang pun bisa menjadikan kita ikut berpikir gelisah.

Wah dia bisa ngetop, bikin apa saja dia berhasil. Temannya banyak, sekali twit orang-orang pada mereply atau meng-RT. Jelas itu membuat kita berpikir akan diri kita sendiri. Saya harus bisa begitu!

Saya harus bisa begitu?
Mungkin perlu dipikirkan lagi. Terus terang kebanyakan melihat keadaan luar membuat kita lupa akan diri sendiri. Sebenarnya kenyamanan itu punya kadar tersendiri di tiap manusia. Seperti saya mungkin. Saya merasa nyaman dengan mengenakan baju yang mungkin bagi orang lain itu tidak up to date, atau ketinggalan zaman. Tapi karena saya nyaman kenapa pula saya harus peduli dengan pendapat orang.

Apakah jika saya mengenakan baju yang up to date bisa membuat saya nyaman? bisa jadi itu berlaku untuk orang lain tetapi tidak untuk saya.

Terlalu banyak informasi juga bisa mempengaruhi diri. Memang ada baiknya jika bisa mengubah pribadi kita menjadi lebih bijak. Artinya semakin banyak pilihan yang bisa jadi bahan untuk membuat hidup kita lebih berkualitas, tetapi kalau sudah melampaui kapasitas kita sendiri, itu mungkin saat kita harus refleksi diri.

Saya beberapa hari ini merasa, kenapa saya menjadi orang lain. Kenapa saya harus mendengar apa yang dikatakan orang terhadap saya. Kamu kan susah kalau gitu? ya itu mungkin standar umum, tapi jika saya bisa menikmatinya why not?

Hidup adalah pilihan, dan pilihan itu bukan tentang pendapat umum terhadap sesuatu, tetapi apa yang kita rasakan nyaman dan bisa kita jalani.

Seorang ksatria tidak akan merasa “menyelamatkan” rakyatnya. Tetapi dia telah bahagia menjaga kepercayaan diri dan keyakinannya tentang pilihannya.

I hope I could be like that ^^

Belajar Bahasa Mandarin

Yah ini yang bakal jadi resolusi tahun 2015. Eh keliru, maksudnya bisa bahasa mandarin, kalau belajar mah sudah dari dulu-dulu tapi tidak pernah bisa.

Memang yah untuk mempelajari bahasa itu tidak mudah. Dulu waktu belajar bahasa Inggris saya rasa susah sekali. Akhirnya ngambil kursus intensive dulu di Intensive English Course. Ikut Sunday Meeting pun saya melongo. Alhamdulillah perlahan-lahan akhirnya bisa juga walaupun tetap saja masih kadang tercekat kalau ngomong sama pak W, bule di kantor. Jadinya campur-campur deh bahasanya, Inggris Indonesia 😀

Untuk bahasa Jepang saya memang punya tekad bulat, waktu pertama mau bergabung bekerja di perusahaan Jepang, PT. MII. Saya bilang kalau pun kerjanya sama saja minimal saya harus bisa berbahasa Jepang. Alhamdulillah sekarang jika ke Jepang insha Allah gak akan hilang walaupun baca kanjinya masih terbata-bata.

Nah, kemarin itu saya sudah mulai bergabung dengan perusahaan yang pemilik sahamnya perusahaan dari China. Mengurus Ijin Tinggal Terbatas dari beberapa orang China biasanya saya dibantu dengan interpreter. Cuma pas hari itu dia tidak hadir. Asli saya kebingungan. Orangnya ngomong, saya mengerti tetapi untuk membalas percakapannya malah yang keluar bahasa Jepang, grrrr… ! asli gregetan.

Saya jadi kepikiran gimana yang punya kemampuan bahasa fasih lebih dari satu bahasa yah? Bahasa seharusnya refleks, tidak perlu dipikirkan lagi. Dan itu keluar dengan sendirinya saat kita menyatakan ide. Yah apa boleh buat sepertinya saya harus menetapkan niatan yang sama. Gabung di perusahaan ini harus bisa berbahasa Mandarin.

Bahasa Mandarin bukan hal yang baru bagi saya. Saya pun keturunan Chinese tetapi sayangnya ayah saya yang generasi pertama tiba di Indonesia tidak mengajarkan kami berbahasa Chinese. Kemungkinan karena pernikahan dengan mama yang juga keturunan dan kurang fasih berbahasa Mandarin. Sayang sekali..

Tetapi saya tetap bersyukur, dengan begitu saya tetap bisa sedikit paham jika mendengar percakapan dalam bahasa Mandarin. Tetapi untuk berbicara saya harus berlatih dan memperbaiki pengucapan yang sebenarnya banyak yang tidak benar juga karena dipengaruhi oleh bahasa lokal, Makassar.

Penetapan resolusi ini penting juga agar menjaga semangat saya untuk bisa tetap punya target di tahun yang baru ini. Semoga dapat tercapai, gambarimasu ^^

Menulis dan Berbagi

Terus terang,  saya tidak pernah  berpikir untuk menjadi Blogger. Tetapi memiliki wadah menulis dan bisa berbagi adalah hal yang menyenangkan.  Awal  bulan November 2006, adalah saat pertama saya menorehkan tulisan yang bisa dibaca oleh semua orang. http://alwaysmamie.blogspot.com/2006/11/welcome-mamie.html

Rasanya menyenangkan, seakan semua yang saya rasakan saya ingin bagikan ke semua orang. Tetapi seiring dengan waktu yang berlalu, kedewasaan dalam menorehkan huruf-huruf yang terangkai menjadi makna semakin nyata. Saya tidak bisa “semaunya”. Walaupun ada yang ingin saya ungkapkan, memperhatikan perasaan dan pemahaman yang bisa keliru oleh orang lain perlu dijaga.

Saya hingga kini tetap menulis, walaupun butuh managemen waktu dan komitmen untuk bisa tetap menulis. Kegiatan lain yang menyita waktu mungkin memang menjadi halangan yang paling utama untuk tetap bisa disebut sebagai blogger.

Apalagi, banyaknya platform sosial media yang lebih praktis dan singkat juga membuat blog terasa tidak efektif lagi. Tetapi bagi saya penting karena masih punya ruang untuk bisa menjelaskan inti dari pernyataan pikiran saya, mencegah orang berpendapat berbeda, itu saja.

Satu hal yang membuat saya “betah” menjadi blogger adalah Komunitas. Beruntungnya saya telah tergabung dalam Anging Mammiri, komunitas blogger Makassar yang benar-benar didasari dari rasa kekeluargaan. Sampai sekarang pun saya masih sering berkumpul dengan teman-teman sekomunitas walaupun sudah pindah di ibu kota. Kenyataanya memang blog menyatukan kami. Saya tidak lagi merasa asing, karena saudara saya ada di mana-mana.

Keberagaman latar belakang kami tidak membuat kami berbeda, justru membuat warna yang lebih menguatkan jaringan kami. Walaupun sekarang banyak diantara teman-teman sudah jarang mengisi blog dengan pikiran-pikiran brilian mereka tetapi keseharian menggambarkan bahwa teman-teman semua memiliki keahlian di bidang masing-masing, dan itu memperkaya saya.

Satu kelemahan yang tadi saya sebutkan adalah kurangnya waktu. Oleh karena itu saya sendiri berkomintmen terhadap pribadi. Minimal satu tulisan harus saya posting di setiap weekend, saya tidak terlalu mempedulikan isi dan kualitas dari tulisan, tetapi konsistensi adalah penting untuk melatih saya untuk lebih disiplin dalah hal sekecil apa pun.

Saya berharap persaudaraan kami di Anging Mammiri tetap terjaga,  dan kebiasaan saya menulis di blog juga tetap konsisten. Tetap pada niatan awal, menulis dan berbagi…

Selamat Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2014

 

 

Kisah Di Balik Perjalanan Kali Ini

Setiap perjalanan pasti mengandung cerita, apalagi perjalanan itu bisa membuat kita untuk belajar merefleksi diri, kontemplasi.

Baru-baru ini saya mengunjungi anak-anak yang sedang mondok di Pesantren Al-Fatah Temboro, Karas-Magetan. Kunjungan ini jadi spesial karena saya sudah tidak memecah pikiran saya ke anak-anak yang bebeda tempat pemondokan. Amdan yang seharusnya masuk sekolah setara SLTP sudah bergabung bersama kakaknya di pondok yang diasuh oleh para karkun.

Rute perjalanan kali ini saya ambil melalui Solo, walaupun saya kurang suka karena harus naik bis dari Solo ke Maospati, tetapi tidak ada pilihan pas yang lain. Jika ke Madiun, kereta tiba pukul 2 pagi, akan lebih sulit untuk bisa ke Maospati sendirian di jam segitu.

Bertemu dengan anak-anak memang seakan memberikan energi baru untuk mereka, tetapi sekaligus menguras energi saya. Energi semangat yang saya siapkan tiba-tiba menguap melihat keadaan Amdan yang kurang sehat. Apalagi mendapat informasi dari kakaknya bahwa dia jarang makan. Mungkin tahun pertama akan berat bagi dia, semoga dia bisa melaluinya. Penyesuaian lingkungan dan makanan bukan hal yang mudah. Tetapi itulah tantangan yang harus mereka pelajari. Kehidupan yang tidak tergantung kepada tempat tetapi kepada hati dimana kita bisa membuat nyaman dimana pun kita berada.

Cuaca mungkin punya peran juga. Panas kering dan debu yang beterbangan membuat dia diserang penyakit flu dan batuk. Saya pun memcoba memberikan obat yang saya pikir memungkinkan untuk menyembuhkannya. Tetapi masih belum maksimal. Malam dengan demam tinggi dia bisa mengigau dan sulit untuk menenangkan. Sampai saya harus berjanji membawa dia jalan-jalan ke kota Madiun, barulah dia tenang. Ok, mungkin dia butuh hiburan dari tekanan keadaan, culture shock yang dia rasakan.
Perjalanan ke Madiun tidaklah terlalu sulit. Dengan bantuan google map dan bertanya sana sini, akhirnya kami tiba di Madiun. Suasananya memang sudah “kota” kita mengunjungi Plaza Madiun tempat saya membelikan jaket untuk Amdan yang mengeluh kedinginan setiap subuh. Sedikit hiburan menurut saya perlu untuk menetralisasi keadaan Amdan. Walaupun tidak menyembuhkan secara fisik.

Kita ditipu sama tukang ojek ya Ummi?
Itu kata Amdan ketika pulang kami cuma membayar 15.000,- per motor dari Maospati ke tempat kost dekat Pondok Utara.
Kenapa nak? tanyaku
Tadi waktu pergi kita diminta Rp. 20.000,- untuk yang boncengan dua (saya dan Amdan).
Amdan memang detail, dia suka memperhatikan hal-hal kecil dan mengolahnya dalam pikirannya sendiri. Saya juga sempat mengolah hal yang sama. Betapa di daerah yang seharusnya ikram (melayani sesama) jadi utama, malah ada yang hitung-hitungan.
Semua kembali ke pribadi orang-orang nak, jawabku. Kalau pun dia meminta lebih dari kita berarti rezeki di tempat lain sudah dikurangi. Makanya kita jangan hitung-hitungan kalau mau membantu orang. saya menjelaskan dan berharap dia mengerti.

Di Madiun pun kita mendapatkan pengalaman serupa. Becak yang kita sudah tawar dan sepakat di harga Rp. 20.000,- saat turun tetap meminta tambahan Rp. 10.000,-
Awalnya saya dalam hati sudah niat memberikan tambahan Rp. 5.000,- karena merasa tukang becak ini sudah tua dan memuat kami bertiga pasti berat. Tetapi ketika dia meminta lebih, uang saya kasih tetapi sudah tidak mendapat keikhlasan dari saya. Gantiannya adalah perasaan tidak senang karena cara yang tidak sepantasnya dia lakukan.
Gak apa apa nak, rejeki itu Tuhan yang atur tapi kalau kita ngotot dan membuat orang tidak ikhlas sepertinya tidak akan berkah, itu pun akan habis dengan sia-sia. Jadi jangan lihat nilainya. Penjelasan ini saya sampaikan ke anak-anak untuk mengingatkan diri saya sendiri. Toh setelah uang itu berpindah tangan dengan perasaan yang ada pada saya, case closed! selanjutnya urusan Sang Pengatur.

Begitu kami kembali dari Madiun, kondisi Amdan tidak semakin membaik, untungnya ada ustad yang bersedia mengantarkan dia ke dokter. Rp. 35.000,- biayanya sudah termasuk obat. Ya sudah, terimbangi sudah, saya cuma bisa berterima kasih dengan ustad yang membantu dan memang secara kebetulan berkunjung mencari Jihad, disertai dengan doa kepada dokter semoga selalu berkah. Hitungan materi dan tingkat keikhlasan itu jadinya berbanding terbalik. Tapi kembali lagi, setelah tiba pada titik itu, bukan urusan saya lagi.

Memang saya suka melakukan perjalanan ke mana pun, karena dari setiap pengalaman dan interaksi dengan orang lain pasti ada pembelajaran yang bisa kita raih. Dan saya sangat senang jika bisa bersama dengan anak-anak, saya pada saat itu juga bisa berbagi pemikiran terhadap pengalaman yang kita lalui bersama-sama.

Adek Amdan, cepat sembuh yah :*

Tag cloud: