Ini pertanyaan yang disampaikan ke saya ketika deal dengan seorang konsultan yang akan mengerjakan laporan untuk kepentingan perusahaan. Ditanya seperti itu saya jadi berpikir, maksudnya saya tahu jelas, Bukannya harga sudah deal lalu kenapa harus ditanyakan lagi nilai kwitansinya?
Saya jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu si penjaga POM bensin di Makassar memberikan saya nota kosong ketika saya meminta nota pembelian, lengkap dengan stempelnya. Duh.. ini sangat memungkinkan untuk orang menuliskan harga yang tidak sebenarnya. Saat itu juga saya meminta dia untuk menulis nilai yang saya bayarkan, jawabannya, gak apa apa bu tulis sendiri saja.
Dua hal di atas pasti cuma sebagian kecil dari praktek-praktek mark up yang ada di sekeliling kita. Di perusahaan dulu saya malah harus sesekali mengecek ke vendor, apakah harga yang di kwitansi tersebut sudah benar. Namun sayangnya banyak juga vendor yang merasa ‘loyal’ terhadap bagian pembelian, karena takut berikutnya tidak akan terjadi transaksi lagi. Awalnya saya lega karena sekarang sudah tidak bertindak sebagai auditor lagi, tetapi ternyata sama saja.
Beberapa waktu lalu saya pernah shock, honor untuk pembicara yang saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya tandatangan di kwitansinya. Memang tidak ada deal sebelumnya, karena saya melaksanakan itu atas dasar ingin berbagi saja. Tetapi menandatangani yang tidak sesuai ini benar-benar membuat hati tidak nyaman.
Praktek seperti ini sepertinya semakin marak, tidak ada yang berontak bahkan banyak yang memaklumi bahkan ikut sebagai pelaku. Di satu sisi kita terus berkoar-koar tentang korupsi yang sudah meraja lela di negeri kita ini, di sisi lain kita bahkan kadang tidak sadar terseret masuk ke dalam ‘kebiasaan’ ini.
Miris memang, dan terus terang saya tidak mengerti bagaimana harus melawannya kecuali mulai dari diri saya sendiri. Walaupun kadang harus berpikir lebih dalam lagi bagaimana caranya. Adalah jawaban terhadap tawaran di atas menjadi usaha saya untuk tidak larut. Tawaran itu memang menggoda tetapi saya tidak mau tidur dengan gelisah, berpikir tentang kebohongan yang saya buat, saya memilih mencari aman. Rejeki sudah ditentukan, tinggal kita berusaha mendapatkannya, bekerja dan hanya menerima rejeki yang memang hak kita. Semoga kita semua dilindungi dan diberi kekuatan untuk itu dan menjawab, “Tulis saja sesuai dengan kesepakatan, pak!”

Selama berurusan dengan duit, godaan macam begini banyak disekitar kita tapi kita yang memegang kendali “kebenaran”, bukan?. Saya pernah alami ketika belanja material untuk keperluan kantor disebuah toko, dan saya pun meminta dibuatkan nota. Pertanyaan yang terlontar dari pemilik toko “Pak, jadi harganya dibuat berapa?”. Sontak saya membalas “Maksudnya?”. “Biasanya harga yang tertera dinota tergantung pembeli, pak, katanya sih untuk keperluan administrasi kantor”…”Oh, maaf tulis seperti apa yang sebenarnya”. Jadi kesimpulannya, masalah itu bisa pudar hanya dengan memulai tindakan dari diri sendiri 😀