Doktrin Agama dalam Kehidupan Saya

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan yang terjadi di Sibolga, Sumatera Utara beberapa hari yang lalu. Seorang ibu dan anak-anaknya berada dalam kepungan polisi yang berusaha membujuknya untuk menyerahkan diri. Dia bukan sumber dari permasalahan yang terjadi. Menjadi bagian dari keadaan tersebut mungkin takdirnya. Mungkin juga adalah jalan yang dipilihnya. Saya sedih membayangkan bagaimana anak-anaknya yang tidak mengerti pun ikut sebagai korban akibat keputusan ibunya. Mungkin saat itu tidak ada lagi pikiran jernih. Atau mungkin bagi istri terduga teroris ini malahan itulah pikiran yang sejernih-jernihnya, karena kabar yang terkini yang beredar adalah dia sudah menjadi ahli dalam membuat bahan peledak, dan meyakini bahwa bom bunuh diri adalah jalan yang tercepat untuk mencapai surga.

Apakah surga itu sebenarnya? Apakah benar itu yang akan kita tuju? Suatu tempat ataukah keadaan? Sampai sekarang saya tidak bisa percaya bahwa saya akan ke surga jika menciptakan neraka bagi orang lain.

Saya paling ngeri terhadap doktrin atau paham-paham yang bagi saya tidak dapat saya olah dengan akal saya. Sebagai seorang perempuan, saya merasa lebih banyak menggunakan logika daripada perasaan. Pengalaman hidup yang saya lalui memang tidak mudah dalam menghadapi konsekuensi doktrin agama ini. Dan itulah juga yang membuat saya tetap mencari nilai spiritual yang merupakan pengalaman pribadi dan hak saya sendiri. Walaupun dengan itu banyak yang harus saya korbankan. Tapi itulah pilihan.

Yang menakutkan adalah bagaimana doktrin ini bisa dengan mudah masuk ke dalam diri kita. Saya mengidentifikasinya sebagai berikut

1.  Kelompok yang homogen

Pada kelompok yang homogen, membuat kita dapat merasa lebih baik daripada orang lain. Saya ingat ketika saat saya masih ikut dalam kegiatan-kegiatan agama yang tidak dapat saya tolak karena alasan keluarga dan lingkungan. Informasi-informasi mengenai agama lain sangat diproteksi. Jika tidak langsung disebut bahwa itu adalah kesalahan, sehingga kita tidak punya keberanian untuk mengeksplorasi informasi tersebut

2. Imam atau pemimpin

Pimpinan kelompok punya peran besar dalam mempengaruhi anggotanya. Keyakinan yang dimiliki haruslah lebih besar dari anggotanya sendiri. Memang pemilihan sosok pemimpin ini adalah karena kelebihannya. Tetapi bagi saya semua orang punya motivasi dalam melakukan sesuatu. Dan motivasi ini penting bagi saya sehingga saya tidak mudah mengiyakan apa yang dikatakan orang. Saya tidak akan mudah mengagungkan seseorang, tetapi adalah pemikiran dan tindakannya yang akan saya contoh jika saya merasa itu yang harus saya ikuti.

3. Ketakutan

Satu yang paling jelas pada kelompok yang menggunakan doktrin untuk kepentingan apapun menjual ketakutan. Jika takut orang pasti akan melakukan apa saja. Surga dan neraka, dosa dan pahala semua membuat kita menjadi  harus melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena asbab itu. Bagi saya adalah penting menganalisa setiap tindakan dan indikator yang saya gunakan adalah manfaat dan mudharat. Bagi saya itulah dosa dan pahala atau bahkan surga dan neraka. Saya tidak akan melakukan sesuatu dengan alasan imbalan tersebut. Untuk itu urusan Sang Pencipta dan saya tidak ingin melakukan sesuatu atas dasar ketakutan. Tetapi resiko terhadap tindakan sangat penting untuk disadari sehingga itu yang menghindarkan saya dari berbuat sesuatu yang merusak.

4. Refleksi

Memperbanyak refleksi adalah cara menghalau paham yang baru bagi kita. Adalah hak diri sendiri untuk menentukan jalan, ini bagi orang yang berani keluar dari 3 hal yang sudah saya sebutkan di atas. Diperlukan pembelajaran yang lebih banyak sehingga berbagai refernsi membuat kita lebih yakin dalam memilih sesuatu. Akal sudah dikaruniakan untuk kita sehingga saya tidak kuatir jika itu yang menjadi alat yang sudah disediakan pada manusia yang merupakan kelebihan dari mahluk hidup yang lain.  Selain itu perlu keberanian dan siap dengan resiko untuk mengambil tindakan jika tidak sesuai dengan kesimpulan yang kita dapatkan dan kita yakini.

Saya belajar untuk tidak menilai sesuatu itu baik atau buruk, saya akan memilih sesuatu yang menurut diri nyaman untuk saya jalankan dan memberikan kenyamanan dan kebahagiaan dalam diri saya. Apa yang saya pilih adalah bukan berarti yang terbaik dan yang lain adalah buruk. Selama saya bisa membuat diri saya dalam keadaan nyaman itulah saat saya berbagi dan bisa bermanfaat untuk mahlkuk ciptaan Tuhan yang lain.

Semoga saya tidak termasuk dalam kelompok yang ketakutan dalam menjalani hidup. Apa yang menjadi aturan dari alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan sudah tak dapat ditolak. Tinggal bagaimana saya saja menjalaninya dengan penuh kesyukuran. Kalau memang mau kiamat seperti yang digembar gemborkan di satu daerah di Jawa Timur itu terjadi, hijrah kemana pun juga akan sama. You can not run away from what will happen to you. Just embrace it.

Be yourself

Lady Gaga adalah bukan idola semua orang tapi apa yang telah diraihnya bisa memotivasi pribadi-pribadi yang lain dalam mengejar impian.

Saya juga bukan penggemar fanatik Lady Gaga, tetapi beberapa karyanya sudah saya nikmati dan membuat hati saya menjadi riang, dia berhasil menghibur saya. Tetapi dia memang bukan artis biasa, terkadang apa yang dilakukannya sangat kontroversial. Khususnya dari cara dia berpakaian dan bersikap. Baginya aktualisasi diri itu tidak merupakan platform dari orang kebanyakan. Dan itulah yang membuat dia unik dan mudah untuk dikenali.

Saya masih ingat ketika dia menjadi bahan olok-olokan saat berpenampilan di Sunday’s Super Bowl di Houston tahun 2017 silam. Tidak seperti artis kebanyakan, malam itu Lady Gaga tampil dengan timbunan lemak yang berada di perutnya yang menjadi perhatian netizen. 

Seperti biasa, netizen dengan kebebasan seluas-luas yang dimilikinya, dengan mudah dapat mengeluarkan pendapat yang kadang sampai tak menghiraukan bagaimana orang lain menerima pendapat tersebut. Perut yang jadi celaan, karena tidak dianggap umum seperti yang diharapkan dari penampilan selebriti wanita dengan perut rata dan berotot. Karena pembicaraan itu Lady Gaga membuat pernyataan di Instagram-nya. “Aku ingin mengatakan bahwa aku bangga dengan tubuhku, dan kalian harus bangga dengan tubuh kalian juga”.

Yang sangat sering kita alami adalah membuat diri kita tenggelam dalam ‘keinginan’ masyarakat. Baik dan buruk seakan sudah terpola. Ini yang terkadang membatasi diri kita berekspresi. 

Belum lagi bisa depresi, hanya karena orang-orang dengan pendapatnya sendiri menghakimi pribadi kita. Sangat disayangkan jika terjadi. Pribadi adalah milik diri sendiri. Apapun yang dipikirkan dan ditasakan adalah hak prerogatif. Kecuali jika sudah berinteraksi dengan orang lain, tatanan sosial memang dibutuhkan. 

Percaya atau tidak penentuan cita-cita pun diatur para orang tua kita dan lingkungan. Sedari kecil kita punya beberapa cita-cita yang umum, jadi dokter, insinyur, tentara atau polisi. Seakan-akan jika tidak memilih salah satu dari itu kita tidak dianggap sukses. Mungkin juga Lady Gaga menentukan impian menjadi artis karena platform ini. Tetapi dia punya cara tersendiri untuk meraihnya

Dan di tahun ini, Lady Gaga memenangkan Golden Globe yang menjadi dambaan setiap artis. Karyanya dalam menciptakan lagu yang menjadi sountrack dari film A Star is Born membuat penghargaan ini menjadi kali kedua setelah di tahun 2016 dengan kategori yang berbeda.

Saya selalu kagum jika seseorang mampu menjalani hidupnya dengan ‘berbeda’ dan dia menikmatinya. Semakin dia bereksplorasi semakin uniklah dia. Saya mungkin terlambat menyadari ini, tetapi saya tetap bersyukur karena ini yang bisa saya terapkan ke anak-anak saya. Satu yang tidak lelah saya ingatkan adalah jadilah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Itu saja. Selebihnya silahkan mengeksplorasi apa yang menjadi keinginan dan bisa membuat diri sendiri merasakan kebahagiaan.

ReplyForward

Dua Kata yang Paling Saya Benci

Pernahkah merasa sangat benci dengan kata-kata tertentu? Mungkin iya, misalnya kata yang bersifat umpatan atau makian. Walaupun saya dibesarkan dalam lingkungan pergaulan yang tidak terbatas, tidak berarti saya menerima semua perkataan orang lain atau bahkan mengadaptasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti ibu saya, beliau sangat suka mengumpat, mungkin itu dirasakan sebagai kesenangan bukan untuk umpatan yang mengutuk orang lain. Tetapi apapun maksudnya, kata yang diucapkan bagi saya sangat tidak menyenangkan. Saya bahkan mengatakan langsung ke ibu saya, cenderung bersifat mengingatkan bahwa itu kurang pantas.

Tapi bukan kata umpatan yang ingin saya bahas di sini, tetapi kata yang sering sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Awalnya saya pun tidak menyadari kata-kata ini tidak baik saat digunakan. Tetapi lama kelamaan, saya makin menyadari kerugian menggunakan kata-kata ini.

Saya kira….

Satu momen baru terjadi tidak lama ini. Saya memberitahukan kepada rekan kantor untuk menyampaikan kepada seorang driver agar menjemput saya jam 10 pagi. Saya tahu kendaraan tidak digunakan saat itu karena jadwal jemputan ke bandara adalah pukul 12 siang. Kekeliruan saya adalah tidak menyampaikan langsung sehingga tidak terjadi komunikasi yang efektif antara saya dan sang driver.

Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Saya bergegas karena merasa yakin akan segera dijemput. Namun ternyata setelah lewat 20 menit saya jadi ragu. Akhirnya saya menelpon langsung ke driver yang dimaksud.

“Pak I, sudah disampaikan bahwa jemput saya jam 10 ini pagi?,” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Sudah bu, tapi saya kira ibu mau ikut ke Bantaeng, jadinya sekalian saja setelah dari bandara baru saya ke rumah ibu.”

Satu kata yang membuat darah saya mendidih, Saya kira…

Bagi saya, penggunaan kata kira ini saat menjalankan tugas adalah bentuk kemalasan dan ketidak pedulian. Mengapa demikian?

Jika benar ada perkiraan, berarti sesuatu yang tak pasti berkecamuk dalam pikiran kita. Jika kita peduli dan mau berusaha pastilah kita akan mencari informasi untuk mengubah perkiraan menjadi kepastian. Apalagi dengan waktu yang masih panjang yang dimiliki oleh driver yang tidak berkegiatan apa-apa

Briefing online berlanjut, dengan kejadian ini saya sudah menyatakan tidak akan mendengar kata kira dari teman-teman yang satu tim dengan saya. Dengan demikian saya berharap semua dapat berlatih untuk peduli dan tanggap terhadap sesuatu yang masih meragukan

Seandainya…

Kata kedua adalah seandainya, atau kalau dalam bahasa Makassar sehari-hari kita biasa dengar dengan istilah “cobanya”

Kenapa saya membenci kata ini? Kata seadainya membuat kita tak berdaya dengan keadaan saat ini. Ini sama saja dengan memaksa kembali ke masa lalu dan mengubah keadaannya saat itu, yang mana bagi saya adalah mustahil.

Sudah berapa orang yang saya langsung koreksi begitu mendengar kata seandainya.

“Bu, boleh bantu untuk bagaimana caranya supaya saya dapat membeli paket Indihome tanpa harus ke Plaza? Soalnya ini atas nama suami dan dia lagi di luar daerah. Saya kuatir saya datang pun akan disuruh pulang karena bukan saya yang mendaftarkan pemasangannya. Atau minimal saya tahu persyaratan supaya saya bisa persiapkan sebelum saya ke Plaza.”

Panjang sudah pertanyaan dan pernyataan yang saya buat demi si ibu bisa menangkap kebutuhan saya.

“Aduh dek, cobanya kita hubungi tadi siang, saya bisa bantu.”

Glek!

Saya lebih senang jika si ibu bilang, “aduh maaf dek, saya sepertinya tidak bisa bantu.” Kalimat ini terasa lebih melegakan dibanding menggunakan “cobanya”

Ini seperti mengiming-imingkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Memberi harapan palsu yang kenyataannya sudah pasti tidak akan terwujud.

Mungkin memang cuma kata-kata, tapi bagi saya diksi, atau pilihan kata sangat penting untuk membentuk sikap mental dari masing-masing penutur.

Jadi kesimpulannya, sebisa mungkin saya hindarkan penggunaan kata ini. Dan jika ada diantara teman yang mengucapkannya, saya dengan senang hati akan menjelaskan dan memberikan alasan kenapa saya tidak ingin kata itu digunakan

Pipit, semut yang di seberang lautan

“Saya jengkel sekali sama Pipit ini, merapat terus ke Ahok”, isi chat seorang teman di WAG setelah salah seorang teman lainnya memasukkan foto Ahok bersama keluarganya. Di foto itu juga terlihat Pipit, yang kabarnya adalah calon istri Ahok, berdiri dengan senyum manis di sisinya.
“Bajunya tidak pantas, belahan dadanya sampai kelihatan bukannya menjaga aurat itu penting?”, timpal yang lain


Saya tersenyum dan mencoba maklum. Begitulah perasaan wanita secara umum jika mendapatkan kabar mengenai adanya pengganti atau  bahkan orang ketiga dari pasangan yang dulunya dipercaya adalah pasangan harmonis. Ahok dan ibu Veronika adalah pasangan serasi di masanya, masa semua orang terpukau dengan setiap kabar kegiatan yang dilakukan oleh mereka berdua sebagai pasangan Gubernur DKI Jakarta.

Ahok atau yang sekarang dipanggil BTP sesuai keinginannya, adalah sosok yang memang dipuja banyak orang dan sekaligus juga dibenci banyak orang. Sikapnya yang kontroversial sangat mengganggu bagi orang-orang yang mungkin tidak terbiasa dengan kata-kata kasar. Namun integritasnya terhadap tugas dan tanggung jawabnya tidak diragukan. Bagaimana dia bisa berkata tegas dan apa adanya membuat banyak yang bersimpati dan jatuh hati. Apalagi dalam perjuangannya dia harus tersandung lisan dan berakhir dengan diambilnya kebebasan pribadinya selama dua tahun. Tetapi yang dialaminya, bagi sebagian orang malah dianggap sebagai hero

Namun hidup sesungguhnya tak seperti cerita dalam dongeng.  Perceraian dengan istrinya yang bisa saja menambah simpati orang akhirnya buyar karena dia memilih mantan ajudan istrinya sebagai calon istrinya, selepas keluar dari penjara. Ini seperti film drama yang ending-nya tidak sesuai dengan keinginan penonton.

Sayangnya, bagaimana pun keadaan pasangan tersebut yang selaku disalahkan adalah perempuan. BTP tetap adalah seorang sosok yang dipuji, tetapi dirasa sayang karena jatuh dalam “godaan” mantan ajudan istrinya. Perempuan memang selalu menjadi korban, baik dalam  kasus pelecehan, prostitusi atau lainnya.Yang pasti salah adalah perempuan ini pemahaman umum masyarakat bukan berbicara soal keadilan.


Saya tidak mau menghakimi siapapun, karena saya juga bukan seorang hakim dan saya adalah hanya bagian kecil dari drama kehidupan. Saya tidak bisa dengan mudah mencemooh orang lain seperti teman-teman saya yang lain. Mungkin disebabkan kekuatiran saya terhadap diri saya sendiri, karena saya pun tidak luput dari kekurangan.


Mata ini memang diciptakan mengarah ke luar, melihat hal-hal yang sifatnya materi.  Dan ini memungkinkan kita membenarkan arti pepatah. Sekarang Pipit menjadi seekor semut di seberang lautan, segala hal yang berkenaan dengan dia sudah tidak terlihat baik. Fokus kita terhadap kesalahan orang lain sangatlah nyata, sementara kita sendiri kadang lupa akan kekurangan kita.

Saya lebih memilih diam, mengamati dan mendoakan. Kenapa demikian? Karena saya kekurangan data untuk bisa mengerti dan memahami kenapa masing-masing pribadi yang terlibat mengambil tindakan atau keputusan seperti itu. Andai kata ada sutradara yang mampu mengemas secara lengkap bagaimana kisah hidup sebuah keluarga, mungkin kita akan memilih manggut-manggut dari pada mencemooh. Tetapi tidak ada data selengkap yang dimiliki oleh Zat yang berkuasa. Jadi cukuplah kita diam, merenung dan mendoakan semoga siapa pun yang terlibat dalam drama ini bisa berbahagia, menyadari pilihannya dengan segala konsekwensinya dan bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

Pipit sekarang yang menjadi bulan-bulanan para wanita, mohon bersabar karena adalah benar tak ada pilihan tanpa konsekwensi. Selamat melanjutkan drama kehidupan


Setia dengan Jubah

Sudah menjadi kesepakatan yang tidak tertulis antara saya dan anak-anak yang sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Fatah, Temboro, setiap dua bulan sekali, adalah waktu untuk menjenguk mereka.

November 2015 ini saya berangkat via Jogja dan melanjutkan dengan Kereta Api ke kota yang terkenal dengan pecelnya, Madiun. Anak-anak dijemput di pondok, prosesnya kali ini agak lama. Harus minta izin ke semua ustadz yang kelasnya tidak bisa diikuti. Bagus juga agar anak-anak tidak keluar pondok jika tidak penting.

Karena tertarik mencoba hotel baru di kota Madiun, akhirnya kami menginap di Sun City Hotel. Walaupun hotel baru tetapi mungkin pengelolanya bukan yang spesialis chained hotel. Kurang tertata bagus dan finishing hotelnya juga kurang rapih. Tetapi para pekerja di hotel ini sangat ramah, bahkan ada yang menyapa dengan menyebutkan nama saya. Wah, sangat personal. Makanannya juga enak dan murah.

Di area yang sama terdapat Sun City Water and Theme Park, saya mengajak anak-anak berenang karena mereka memang dari kecil suka berenang. Amdan, si bungsu, sangat antusias sementara kakaknya mengikut saja.

Selama bepergian ada yang membuat saya kagum dengan Amdan, dia berbusana tidak lepas dari jubahnya. Bahkan untuk ke kolam renang. Agak berbeda dengan kakaknya, Jihad. Mungkin karena usia sudah beranjak remaja, dia sudah menggunakan kemeja dan jeans. Sepatu kets dan topi.

27894

Mengapa Harus dengan Jubah?

Di pesantren memang diwajibkan berpakaian muslim. Kebanyakan para pria menggunakan jubah. Semua merk jubah dari yang murah sampai yang mahal tersedia untuk dibeli di desa Temboro. Amdan salah satu penggemar jubah dengan merk Al Haramain, harganya Rp. 250.000,- dan untuk hari ulangtahunnya yang tepat di November ini, dia meminta jubah sebagai hadiahnya.

Mungkin Amdan juga menyukai jubah karena pakaian ini juga dicintai oleh Rasulullah SAW, semoga demikian. Alasannya bahwa jubah ini begitu praktis, atau mungkin karena dia pernah mengalami kejadian dimana jubah yang menyelamatkannya waktu dia bermain. Seandainya jubah tidak tersangkut, mungkin dia sudah jatuh terluka.

27896

Saya merasa senang jika anak-anak saya menyadari bahwa pilihannya adalah baik untuk dia. Amdan memang punya kepercayaan diri yang tinggi, sehingga dia bisa mengesampingkan pendapat orang terhadap dirinya.

Semoga apa yang mendasari pilihan mereka adalah contoh-contoh  dari orang-orang terbaik terdahulu, diyakini dan dijalankan dengan istiqomah, in shaa Allah

Jika Peduli Matikan Handphone!

Seberapa banyak sih kepedulian kita dengan keselamatan kita bersama?

Dalam perjalan menuju ke Jogja baru-baru ini, saya jadinya harus mengomel dalam hati melihat seorang ibu yang sudah di atas lima puluh tahunan tetapi mungkin baru senang senangnya menggunakan gadget. Saat penerbangan di atas pesawat, mungkin karena bosan dia mengambil telepon pintarnya. Saya tepat duduk di bagian belakang sisi kanannya. Saya mulai berpikir, menyalakan telepon genggam pada saat pesawat mengudara mungkin akan memancarkan signal. Semoga bisa langsung dia mengubah ke mode pesawat. Tapi dugaan saya salah. Saya masih saja kepo dengan memperhatikan setiap gerak geriknya, dan benar saja, notifikasi WhatsApp di baris paling atas handphone-nya mulai mengganggu saya. Saya tidak menegur karena tidak berapa lama pilot sudah mengumumkan untuk persiapan mendarat, handphone dimatikan kembali.

Di posisi tempat duduk yang sama, karena saya memang suka memilih untuk duduk di lorong, pada saat penerbangan pulang  ke Jakarta, seorang anak gadis juga mengganggu konsentrasi saya. Dia asik mengetik di handphonenya,  sepertinya dia tidak sedang menulis catatan atau semacamnya, tapi dia chating! Minta ampun gondoknya saya, saya melihat ke dia terus sampai dia mungkin menyadari bahwa dari tadi saya memperhatikannya. Pelan-pelan dia menyimpan handphonenya dan memandang ke depan dengan sesekali melirik ke arah saya. Tenang, adik masih dalam pengawasan saya

Mengapa Harus Mematikan Handphone

Seharusnya kita menyadari betapa pentingnya penggunaan handphone ini saat kita memilih pesawat terbang sebagai alat transportasi kita. Saat boarding, kita sudah mendengarkan pengumuman untuk  segera mematikan telepon genggam, begitu pun saat di pesawat. Para pramugari tidak henti-hentinya menyampaikan tentang peringatan ini. Bahkan di depan kursi duduk pun, larangan mengaktifkan telpon genggam juga sudah diancam dengan hukuman dan denda yang tidak sedikit.

Pesawat udara menggunakan peralatan elektronik. Peralatan ini menggunakan gelombang radio atau gelombang elektromagnetik pada saat dioperasikan. Untuk menjalankan berbagai tugas dan fungsi, berkomunikasi dengan menara kontrol, untuk navigasi pesawat  dan pengaturan udara didalam kabin. Jika terjadi kesalahan dalam pengoperasian akibatnya bisa sangat fatal. Fatal karena bisa terjadi kecelakaan yang mengakibatkan para penumpang dan awak kabin bisa kehilangan nyawa. Jika disederhanakan bahasanya, signal handphone kita bisa membunuh orang!

Lalu mengapa orang seakan sangat susah untuk meluangkan sedikit waktunya agar dapat mengikuti aturan yang sudah ditetapkan ini?

Ketidaksabaran

Dari pada mencari ilmu sabar di tempat-tempat terpencil, belajar bersabar untuk tidak menyalakan telpon saat akan menaiki pesawat dan turun dari pesawat sudah cukup. Bayangkan saja, belum juga pesawat berhenti sempurna, di sekeliling kita sudah terdengar opening tone dari berbagai merk handphone. Belum lagi jika ternyata harus menunggu lama untuk garbarata atau tangga merapat ke badan pesawat.

Mungkin agak lebih mudah jika seperti saya karena tidak terlalu kuatir dengan siapa yang menjemput, apakah sudah tiba di bandara atau belum. Kebanyakan memang tujuannya memberi kabar atau mengirim informasi mengenai kedatangan.

Padahal di apron, komunikasi masih di lakukan. Antara pilot pesawat lain dengan menara kontrol. Mungkin memang tidak terlalu terpengaruh jika cuma seorang saja yang teledor menyalakan handphone tetapi jika semua orang bersamaan dalam suatu waktu dijamin pasti sangat mengganggu jaringan komunikasi.

Peduli kepada orang lain

Telepon pintar memang membuat kita seakan tidak berada dalam dunia nyata. Secara tidak sengaja kita malah mengabaikan orang yang benar-benar ada di sekitar kita. Lebih mementingkan orang yang tidak sedang berada di pesawat, padahal pesawat bisa ada apa-apanya jika kita mengabaikan perintah larangan ini.

Kesadaran dan kepedulian kita memang masih sangat rendah. Jika sudah kejadian biasanya baru saling menyalahkan, dan menyesal.

Saya tidak keberatan menegur orang yang  memang bisa membahayakan keselamatan orang lain. Anggaplah kepo, tetapi yang khilaf harus disadarkan jika kita tidak saling peduli, jangan berharap kita bisa sama sama memperbaiki diri.

Gali Lubang Tutup Lubang

Walau makan sederhana (Makan nasi sambal lalap)
Walau baju sederhana
(Asal menutup aurat)
Walau makan sederhana
Walau baju sederhana
Walau serba sederhana
Asal sehat jiwa raga
Dan juga hutang tak punya
Itulah orang yang kaya (hi-hu)

Bela-belain cari di google search lirik bang Haji Rhoma nih, saya tahu ada lagu yang berjudul Gali Lobang Tutup Lobang, tapi baru kali ini menyimak liriknya.

~~~

Salah seorang teman ditimpa kemalangan, sepertinya kesulitan keuangan karena kondisi yang kemungkinannya besar pasak dari pada tiang. Yang menjadi masalah adalah kemalangan ini mulai merambah ke mana-mana.  Hampir semua orang yang dikenal dihubungi untuk dimintai pinjaman.  Awalnya saya bersimpati, tetapi rupanya perhatian yang diberikan itu tidak terbalas sesuai harapan. Janji tinggal janji dan akhirnya malah merusak kepercayaan yang ada sebelumnya. Beruntung kalau cuma saya yang merasakan tapi jika dirasakan oleh kesemua teman yang membantunya ini bukan menyelesaikan masalah, tetapi lebih mempersulit dirinya.

Sepertinya hampir semua kita pernah mengalami masalah keuangan. Jadi sepatutnya kita banyak belajar agar tidak terjerat pada keadaan yang tidak menyenangkan. Saya pun demikian, jeratan dari kartu kredit yang dulu saya miliki. Sepertinya gaya hidup dan tidak disiplin pada diri adalah penyebab utama. Salah dalam menentukan kategori “butuh” dan menempatkan keinginan sebagai suatu hal yang harus dipenuhi.

Manusia memang tidak terlepas dari kata ingin. Mungkin atas dasar itu dalam beragama kita dilatih untuk mengendalikan nafsu atau keinginan. Seseorang pernah berkata, cara paling mujarab untuk menekan keinginan adalah dimulai dari perut. Itu latihannya.

Jika berbicara tentang diri sendiri mungkin memang sedikit lebih bisa dikendalikan, yang bisa lebih memberatkan adalah jika keinginan anggota keluarga kita. Seperti seorang ibu yang ingin memenuhi segala keinginan anaknya agar mereka bisa senang dan puas. Saya pun demikian memiliki perasaan seperti itu. Tetapi saya pun belajar mengendalikannya. Tidak semua yang diminta oleh anak-anak itu baik bagi mereka. Saya malahan berpikir mereka harus tahu kondisi dimana ada permintaan atau keinginan yang tidak atau belum terpenuhi. Belajar untuk bersabar.

Yang paling utama selain hidup sesuai dengan pendapatan adalah “Jangan membayar hutang dengan berhutang”. Ini pantangan bagi orang yang benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan hutang. Lubang yang digali akibat menutup lubang yang lain akan lebih besar dan semakin besar. Disiplin dan mampu merencanakan dengan baik. Daftar prioritas tentang kebutuhan sangat penting, sehingga pengeluaran bisa dikendalikan agar tidak lebih besar dari pendapatan. Dan yang utama pula adalah menjaga kepercayaan kepada siapa pun. Jangan merasa mudah untuk meminjam, karena meminjam bukan solusi.

Semoga setiap orang yang kesulitan diberikan kemudahan dalam menyelesaikannya tidak dengan menutup lubang dengan menggali lubang yang lebih besar.

Pahlawan bagiku

Selama ini saya mengenal pahlawan yang dulu gambarnya terpampang di diding kelas saat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar. Tugas kita adalah menghapal nama dan dari daerah mana pahlawan tersebut berasal dan berjuang hingga gugur demi untuk bangsa dan negara. Seperti pelajaran biasa, menghapal dan menunggu untuk bisa menjawab soal dalam ujian.

Baru baru ini saya ke Ambon, Maluku. Seperti umumnya para pejalan kami singgah di spot-spot yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk memperkenalkan daerahnya. Salah satu spot yang sangat berkesan bagi saya adalah Monumen pejuang Christina Martha Tiahahu.

Terletak di daerah bukit Karang Panjang, di area monumen terdapat patung yang menurut saya sangat gagah untuk seorang wanita muda. Patung yang menghadap ke laut dengan posisi berdiri tegak dengan memegang tombak, sangat heroik. Saya penasaran, siapa sebenarnya wanita yang terkesan tidak kenal takut ini? itu karena dulu saya hanya mendapatkan informasi mengenai nama dan daerah asal saja tanpa tahu cerita kepahlawanannya.

Christina Martha Tiahahu dilahirkan di desa Abubu pulau Nusalaut dekat Maluku tahun 1800. Ayahnya seorang kapten, Paulus Tiahahu. Dikarenakan ibunya berpulang saat dia masih kecil, Christina dibesarkan oleh ayahnya dan mengikuti ayahnya kemana pun ayahnya pergi bahkan ke medan pertempuran.

IMG_20151014_155946

 

Diawal tahun 1871 Christina dan ayahnya bergerilya dalam perang melawan Pemerintah Kolonial Belanda, Mereka bergabung sebagai tentara Pattimura, pejuang besar dari Maluku. Perjuangan yang membuat Belanda banyak mengalami kekalahan, bahkan Christina melawan tentara Belanda dengan menggunakan batu yang dilempar. Namun di bulan Oktober perlawanan mereka terhenti karena ditangkap oleh Belanda.

Karena usianya yang masih muda, Christina tidak dihukum namun dipenara di Benteng Beverwijk sementara ayahnya dieksekusi mati. Setelah melarikan diri, Christina melanjutkan perang melawan penjajah. Tetapi akhirnya dia tertangkap kembali. Dalam perjalanan pembuangan dirinya ke Jawa, Christina jatuh sakit dan dia menolak makan dan meminum obat-obatan. Akhirnya dia gugur di usianya yang terbilang sangat muda sebagai pahlawan, 18 tahun.

 

Bagi saya kisah heroik ini benar-benar menggugah. Semangat juangnya sangat terasa, saya malah mengambil gambar dan menjadikannya sebagai wallpaper, sekadar mengingatkan saya bahwa seorang wanita pantang merasa takut, harus berjuang untuk kebenaran yang diyakininya, di mana pun dia berada.

Saya juga kagum kepada pemerintah daerah di kota Ambon yang sangat pas menempatkan monumen Christina Martha Tiahahu.  Daerah lain mungkin masih perlu menyelami arti kepahlawanan para pejuang daerahnya dan memikirkan visualisasi yang tepat untuk mewakilkan ketangguhan para pejuang terdahulu.

Semoga semangat para pahlawan bisa kita resapi dan diaplikasikan dalam setiap kegiatan kita. Yang paling pasti adalah mendapatkan contoh integritas dan keteguhan yang mereka miliki, tidak goyah oleh godaan apapun, selain apa yang menjadi tujuan utama. Merdeka.

Selamat Hari Pahlawan, para pahlawan

Pilih 21 atau 27

Tersebutlah kisah di suatu zaman, di suatu saat dua orang murid yang bertengkar hebat hanya karena mempermasalahkan 3 x 7 itu hasilnya berapa?

Si murid A mengatakan sudah pasti 3 x 7 itu 21 karena itu yang dia pahami dan dia merasa benar sebenar benarnya. Si murid B mengatakan sudah pasti  3 x 7 itu 27 karena itu yang dia pahami dan dia merasa benar sebenar benarnya.

Mereka bertengkar hebat, tidak ada yang mau mengalah karena keduanya merasa benar sebenar benarnya.

Muncullah ide dari si A, “Bagaimana kalau kita tanyakan ke guru, karena guru pasti yang lebih tau yang mana yang benar”.  “Ayo!”, kata si B dengan yakinnya. Akhirnya mereka berdua menghadap ke sang guru yang terkenal sangat bijak.

“Maaf Guru, kami sudah berdebat dari tadi, B bilang 3 x 7 adalah 27, padahal kan yang guru ajarkan tidak demikian. Saya sudah memberitahunya hasilnya adalah 21 tetapi dia masih berpikir saya salah”.

“Iya guru, masak si A bilang 3 x 7 itu 21. Saya sudah bilang itu yang paling benar bahkan saya sudah bilang potong kepala saya kalau saya salah, eh dia masih tetap ngotot.”

Sang guru terdiam, kemudian dengan pelan dia berbicara. “B, kamu benar tidak usah dipermasalahkan lagi. A kamu dihukum karena kamu salah”.

B dengan riang berjingkrak-jingkrak dan pergi meninggalkan sang Guru dan A yang kebingungan. Kenapa dia disalahkan? dia yakin benar terhadap apa yang disampaikannya jika mengajukan bukti-bukti pun bisa. A memandang gurunya dengan bingung sambil menunggu dengan patuh hukuman yang akan disampaikan oleh sang Guru.

“A, guru menghukum kamu bukan karena persoalan 3 x 7, tetapi guru menghukum kamu karena kamu tidak pandai memilah dan memilih dengan siapa kamu berdebat, bahkan kamu hampir saja membunuh orang yang mempertaruhkan kepalanya hanya karena kebodohannya.”

—————–

Semoga menjadi renungan untuk kita semua

 

 

 

 

 

Drama Cumi di pulau Samalona 

 

Drama memang sebaiknya ada biar berkesan, tetapi kebanyakan drama bikin kita tidak berkembang

 

Karena merasa sudah lama tidak menyentuh air laut dan berayun atasnya, sehabis lebaran haji kemarin,  saya mengajak keluarga untuk ke pulau kecintaan, Samalona. Pulau yang terletak di bagian barat kota Makassar yang biasanya ditempuh dengan menggunakan kapal motor kayu.

Melihat air jernih yang terang benderang memantulkan cahaya matahari rasanya melegakan perasaan sampai ke dasarnya. Air laut musim kemarau rupanya dingin, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.

Seperti biasa begitu tiba di pulau kami mencari tempat untuk bisa beristirahat atau sekadar meletakkan barang-barang sebelum berenang. Biasanya yang masyarakat banyak yang menyambut. Mereka menawarkan bale bale bambu, rumah untuk disewa, perlengkapan snokling dan bahkan menawarkan ikan yang memang dipelihara di keramba.

“Mau beli cumi bu?”, kata seorang ibu setengah umur memakai daster dengan badan yang agak kurus

Mungkin dia melihat saya menyerah mencari ikan yang tidak ada jenis lain selain baronang dan anak ikan hiu yang harusnya dilarang dikonsumsi.

“Boleh, berapa harganya?”,

“Seratus ribu, 3 ekor”, saya melihat cumi berukuran sedang dan langsung saat itu terbayang cumi bakar yang berwarna hitam karena tintanya. Saya berusaha menawar, namanya saja ibu-ibu kurang afdhol rasanya tanpa menawar.

“Minta 4 aja bu, seratus ribu” dalam bahasa makassar yang terbata-bata saya berusaha menawar.

“Minyaknya mahal, nda bisa kurang lagi”.

“Paslah saya kan mau dibakar saja jadi minta 4 ya gak usah pakai minyak”, saya tetap memakai akal untuk menawar

“Gak bisa, gak dapat harga segitu,” kata ibu yang akhirnya saya tahu bernama Daeng Te’ne

“Gitu saja bu, saya bakar sekarang dari pada tinggal cuminya”

“Oh gak bisa, nanti juga banyak yang mau beli” . Kalimat Daeng Te’ne ini betul-betul membuat saya patah arang.  Yah sudahlah, saya tidak memiliki perasaan bersalah lagi sudah menawar. Apalagi lauk cumi sebenarnya cuma sebagai pelengkap. Kakak dan ponakan semuanya bawa makanan. Saya meninggalkan daeng Te’ne dan akhirnya berenang menikmati laut yang biru terang.

Cucu keponakan yang  belum berusia setahun menjadi penyegar suasana. Apalagi ibunya mengaku ini kali pertamanya dia ke pulau Samalona. Wah.. sayang sekali 😀

Setelah memuaskan kulit ini disentuh oleh air laut saya akhirnya merasa lapar. Begitu tiba di balai-balai saya sudah langsung kepikiran makanan. Hmm.. lapar karena bermain air itu lumrah, sibuklah saya bergerilya membuka tempat makan yang ada. Ada gogos dan daging toppalada ada serundeng juga, rasanya lengkap saya pun makan dengan lahap.

“Ini sudah dibakar cuminya,” dua orang pria yang berbadan tinggi berkaos oblong datang menghampiri kami. Saya jelas terheran-heran. Perasaan saya tidak jadi memesan cumi ini, kok yah tiba-tiba ada yang datang dan bilang itu pesanan kami. Dan kalau daeng Te’ne yang berubah tiba tiba jadi laki laki ini saya pasti lebih heran lagi.

Dan memang benar ternyata, ini siasat daeng Te’ne langsung memberikan cumi tanpa berani bertemu dengan kami, langsung menodong ceritanya. Oh jangan dulu. Saya bukan orang yang cerewet tapi untuk pemperjelas sesuatu itu bagian saya. Saya akhirnya meminta para pria pembakar cumi itu untuk memanggil daeng Te’ne. Akhirnya dia datang dan tidak bisa berkata apa-apa karena saya ada. Dia sudah menyampaikan ke kakak ipar saya bahwa dia sudah berbicara dengan saya saat saya berenang. Ini tidak benar!

Saya ngotot berkata tidak dan saya marah kepada ibu ini, yang pertama dia arogan, penjual kok arogan yang kedua dia berbohong mengatas namakan saya kemudian berbicara dengan kakak ipar saya, yang ketiga dia seakan menodong untuk kita terpaksa membeli cumi itu.

Kasihan cuminya, akhirnya saya bilang sudah, biar saya bawa pulang saja toh kami kami sudah makan tetapi sebelumnya saya sudah berceramah panjang ke daeng Te’ne. Eh bukannya selesai dia malah bilang, ya sudah gak usah dibeli gak akan jadi rejeki yang baik. Astaghfirullah.. harusnya dipikir sebelum dia melakukan hal hal yang tricky itu. Ya sudah saya pun tidak mau menahan. Saya hanya berharap semoga menjadi pelajaran.

Kasihan cuminya lagi, sudah dibakar jadinya tidak bisa dinikmati