Uncategorized

Jakarta Banjir (lagi)

Perpindahan tahun dari 2019 ke 2020 seharusnya memberikan kesan yang dapat memberikan harapan yang lebih baik. Sayangnya, ibu kota Jakarta yang seharusnya menjadi contoh bagi kota-kota besar di Indonesia ternyata harus melalui suasana mencekam, hanya karena hujan di saat dini hari tanggal 1 Januari 2020.

Saya kebetulan berada di Jakarta, bukan niat mau berpesta untuk mengikuti kemeriahan acara perpindahan tahun, tetapi karena tugas yang tidak dapat ditunda. Lagian selain keluarga di Makassar, ibu dan kakak saya juga bertempat tinggal di Jakarta sehingga saya tetap bisa melalui momen tahun baru bersama mereka.

‘Dimana sekarang? kena banjir gak?’, tanya Daeng yang tetap tinggal di Makassar. Rupanya berita tentang banjir Jakarta sudah menyebar dengan sangat cepat. Namun karena saya tidak lagi sering membaca berita dan kebetulan tidak membuka twitter, saya ketinggalan kabar.

Sejak perusahaan telah memiliki mess, saya sedikit terbantu di akomodasi. Biasanya saya harus ke Bekasi pulang pergi untuk bekerja. Namun mess yang terletak di Pondok Pinang membuat saya betah. Rumah yang nyaman dan suasana yang menenangkan sangat membuat saya betah. Alhamdulillah Pondok Pinang bukan merupakan tempat kunjungan air bah yang datang mengepung Jakarta. Bukan juga cekungan tempat air yang seharusnya tertampung jika curah hujannya tinggi.

Sedihnya adalah pada saat musibah seperti ini, para pejabat kelihatannya cuma menampilkan argumen-argumen tentang usaha-usaha yang telah dilakukang. Saling menyalahkan dan membela diri. Sementara masyarakat yang terkena dampak hanya bisa meratapi nasibnya.

Fenomena masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah cekungan ini mungkin masalah sosial yang memang pelik. Tidak mudah mengatur masyarakat yang memang keseharian tinggal dan berusaha di Jakarta untuk bisa hidup. Beberapa kali diperbincangan mungkin sangat mudah kita memberi pendapat bahwa masyarakat harusnya tidak menempati tempat yang memang menjadi jalur air dari dataran tinggi ke laut. Bahkan memang mereka sengaja menempati tempat-tempat yang merupakan endapat dari sungai yang menjadikan ruas sungai menjadi lebih sempit.

Curah hujan yang tinggi di Jakarta dan daerah sekitarnya memang membutuhkan ruang untuk penampungan saat mengalir. Tetapi itu tidak terjadi di Jakarta. Normalisasi dan Naturalisasi mungkin cuma jadi slogan program saja dari pemerintah. Tetap saja hasilnya yang menjadi tolok ukur keberhasilan program tersebut.

Bukan waktu yang singkat pembahasan mengenai banjir di Jakarta ini. Walaupun kejadiannya hampir setiap tahun, tetapi seakan-akan itu menjadi pemakluman saja. Masyarakat pun sepertinya menerima keadaan itu. Banjir datang, mengeluh, mengungsi setelah surut balik lagi. Mungkin memang tidak ada alternatif yang lain, tetapi itu seharusnya menjadi tugas pemerintah juga memikirkan tentang bagaimana masyarakat tetap bisa hidup tanpa mengganggu alur sungai yang sudah ditempati oleh manusia.

Kalau boleh saya istilahkan, air cuma meminta kembali tempatnya yang telah diambil oleh masyarakat untuk ditempati. Alam sendiri punya rumus sendiri mengenai itu. Saya cuma berharap, setidaknya sensitifitas kita terhadap alam tidak berkurang. Jika air kali ini meminta haknya, tidak menutup kemungkinan bencana yang lain juga terjadi.

Bencana? Sepertinya saya harus meralat. Alam bukan jahat terhadap kita tetapi kita dengan rasa ego telah berjalan dengan sombong di atasnya. Mengeksploitasi sumber-sumber alam, memanfaatkannya semaunya. Tanpa memikirkan keseimbangannya. Jika alam sendiri yang mengambil langkah untuk menyeimbangkan, kita bakal cuma bisa gigit jari, jika masih dikasih kesempatan hidup.

Jakarta. 4 Januari 2020 / OldTownWhiteCoffee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *