Mamie's Blog

– notes of my thought and experience

Pernahkah merasa sangat benci dengan kata-kata tertentu? Mungkin iya, misalnya kata yang bersifat umpatan atau makian. Walaupun saya dibesarkan dalam lingkungan pergaulan yang tidak terbatas, tidak berarti saya menerima semua perkataan orang lain atau bahkan mengadaptasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti ibu saya, beliau sangat suka mengumpat, mungkin itu dirasakan sebagai kesenangan bukan untuk umpatan yang mengutuk orang lain. Tetapi apapun maksudnya, kata yang diucapkan bagi saya sangat tidak menyenangkan. Saya bahkan mengatakan langsung ke ibu saya, cenderung bersifat mengingatkan bahwa itu kurang pantas.

Tapi bukan kata umpatan yang ingin saya bahas di sini, tetapi kata yang sering sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Awalnya saya pun tidak menyadari kata-kata ini tidak baik saat digunakan. Tetapi lama kelamaan, saya makin menyadari kerugian menggunakan kata-kata ini.

Saya kira….

Satu momen baru terjadi tidak lama ini. Saya memberitahukan kepada rekan kantor untuk menyampaikan kepada seorang driver agar menjemput saya jam 10 pagi. Saya tahu kendaraan tidak digunakan saat itu karena jadwal jemputan ke bandara adalah pukul 12 siang. Kekeliruan saya adalah tidak menyampaikan langsung sehingga tidak terjadi komunikasi yang efektif antara saya dan sang driver.

Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Saya bergegas karena merasa yakin akan segera dijemput. Namun ternyata setelah lewat 20 menit saya jadi ragu. Akhirnya saya menelpon langsung ke driver yang dimaksud.

“Pak I, sudah disampaikan bahwa jemput saya jam 10 ini pagi?,” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Sudah bu, tapi saya kira ibu mau ikut ke Bantaeng, jadinya sekalian saja setelah dari bandara baru saya ke rumah ibu.”

Satu kata yang membuat darah saya mendidih, Saya kira…

Bagi saya, penggunaan kata kira ini saat menjalankan tugas adalah bentuk kemalasan dan ketidak pedulian. Mengapa demikian?

Jika benar ada perkiraan, berarti sesuatu yang tak pasti berkecamuk dalam pikiran kita. Jika kita peduli dan mau berusaha pastilah kita akan mencari informasi untuk mengubah perkiraan menjadi kepastian. Apalagi dengan waktu yang masih panjang yang dimiliki oleh driver yang tidak berkegiatan apa-apa

Briefing online berlanjut, dengan kejadian ini saya sudah menyatakan tidak akan mendengar kata kira dari teman-teman yang satu tim dengan saya. Dengan demikian saya berharap semua dapat berlatih untuk peduli dan tanggap terhadap sesuatu yang masih meragukan

Seandainya…

Kata kedua adalah seandainya, atau kalau dalam bahasa Makassar sehari-hari kita biasa dengar dengan istilah “cobanya”

Kenapa saya membenci kata ini? Kata seadainya membuat kita tak berdaya dengan keadaan saat ini. Ini sama saja dengan memaksa kembali ke masa lalu dan mengubah keadaannya saat itu, yang mana bagi saya adalah mustahil.

Sudah berapa orang yang saya langsung koreksi begitu mendengar kata seandainya.

“Bu, boleh bantu untuk bagaimana caranya supaya saya dapat membeli paket Indihome tanpa harus ke Plaza? Soalnya ini atas nama suami dan dia lagi di luar daerah. Saya kuatir saya datang pun akan disuruh pulang karena bukan saya yang mendaftarkan pemasangannya. Atau minimal saya tahu persyaratan supaya saya bisa persiapkan sebelum saya ke Plaza.”

Panjang sudah pertanyaan dan pernyataan yang saya buat demi si ibu bisa menangkap kebutuhan saya.

“Aduh dek, cobanya kita hubungi tadi siang, saya bisa bantu.”

Glek!

Saya lebih senang jika si ibu bilang, “aduh maaf dek, saya sepertinya tidak bisa bantu.” Kalimat ini terasa lebih melegakan dibanding menggunakan “cobanya”

Ini seperti mengiming-imingkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Memberi harapan palsu yang kenyataannya sudah pasti tidak akan terwujud.

Mungkin memang cuma kata-kata, tapi bagi saya diksi, atau pilihan kata sangat penting untuk membentuk sikap mental dari masing-masing penutur.

Jadi kesimpulannya, sebisa mungkin saya hindarkan penggunaan kata ini. Dan jika ada diantara teman yang mengucapkannya, saya dengan senang hati akan menjelaskan dan memberikan alasan kenapa saya tidak ingin kata itu digunakan

18 thoughts on “Dua Kata yang Paling Saya Benci

  1. Benar sekali Kak, -saya kira- ini adalah kata yang membangun sikap sok tahu, sememtata -seandainya- lebih cenderung membangun ketidakpuasan atau penudingan. Terima kasih sharing-sharingnya Kak.

  2. Duh, saya juga masih sering menggunakan dua kata itu, terutama saya kira. Kalau kata seandainya memang berusaha saya hindari karena dalam Islam pun kita dilarang berandai-andai.

    Btw thanks for sharingnya bunda. Walau idenya hanya membahas tentang dua kata yang dibenci tapi tulisan ini mencerahkan sekali 😊

  3. Saya juga ndak suka mendengar kata seandainya ini terutama di ucapkan oleh orang-orang ketika kita dalam situasi sulit. Kesannya seperti saya mau bantu tapi saya enggan. Apa susahnya sih bilang ndak bisa.

    Kalau saya kira sering juga dengar tapi endak sesenewen dengan kata seandainya

  4. Saya kira kita sama sepakat Mamie, seandainya dan cobanya semua orang bersedia menghargai orang lain, atau disebut juga empati, maka betapa wolesnya dunia ini.

    Sayang memang kadang2 kits bertemu orang2 yg tidak sepikiran dgn kita, pdhl mencoba bersikap profesional atau bertanggung jawab itu mestinya nda susah. Tp ya itu, mesti dilatih dan menjadi sikap keseharian.

    Klo saya dapati orang begitu, biasanya sy sdh ngga begitu trust. Ya gmana lagi, udah mengecewakan.

  5. Sependapat ka’ Mamie. Untuk kata “saya kira”, saya kadang-kadang masih toleran padahal gemas karena jadinya begitu banyak yang terbuang dan Saya jadi sibuk menyalahkan diri sendiri.

    Untuk kata “cobanya” …. Menggemaskan ya memdengarnya. Tapi saya harus koreksi diri sih karena masih suka pakai, apalagi ke anak-anak 🙈😢

  6. Sekarang ini, saya juga lagi belajar untuk tidak menggunakan kata “seandainya” karna kata itu sama dengan angan-angan dan php

    *lelah hayati dengan php #eh*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *