Mamie's Blog

– notes of my thought and experience

Ini kali kedua saya ke Pulau Pinang, atau lebih dikenal dengan Penang. Dengan penerbangan AirAsia, kita bisa langsung dari Jakarta. Tujuannya sama, berobat. Setelah jantung mama dipasang stent (ring) dua bulan lalu, waktu untuk check-up tiba juga. Karena semua saudara sedang punya tugas, saya yang paling memungkinkan menemani mama.

Kali kedua ini, alhamdulillah semua proses lancar. Yang lebih menyenangkan lagi mendengar kabar dari dokter bahwa mama agak mendingan dari sebelumnya. Kali ini juga kunjungan lebih singkat. Cuma semalam saja, kami bahkan tinggal di motel kurang dari 12 jam.

Waktu kepulangan sore hari, saya dan mama menyempatkan berkeliling dulu. Keinginan sebelumnya yang tidak tercapai adalah mengunjungi Georgetown. Area yang sudah diklaim oleh UNESCO sebagai world heritage. Supir taxi yang keturunan China mengantar kami sambil bercerita tentang kota kelahirannya.

Sayangnya saya tidak satu selera dengan mama. Mama tidak tertarik dengan bangunan tua dan museum, jadinya saya cuma berhasil mengambil gambar dari mobil saja. Lagipula panasnya sangat menyengat, walaupun bagi saya tidak masalah, tapi mama sudah mengeluh ingin cepat-cepat dapat tempat ber-AC.

Sekitar 70% penduduk di sini keturunan Chinese, sisanya Melayu dan India, kata bapak yang rambutnya sudah memutih semua walaupun dia masih berusia 55tahun.

Terlihat dari bangunan-bangunan tuanya. Katanya bangunan ruko model lama ini memang dibangun sebelum Perang Dunia Kedua. Dan mereka tidak dibiarkan untuk merenovasi di bagian luarnya.

“Mungkin mama kamu tahu, bahwa setiap rumah itu tidak punya toilet?”, katanya sambil menyetir

“He? terus gimana caranya?” tanyaku penasaran, Mama cuma mengangguk-angguk saja

“Mereka menampung kotoran dan membawanya keluar jika sudah penuh di tempat penampungan”

Duh, membayangkan saja bikin saya sembelit. Tak akan bisa buang air jika begini. Tetapi itulah apa yang kita anggap aneh di zaman sekarang, adalah hal yang biasa di saat itu.

Begitupun bagunan-bagunan yang tua ini. semua seperti menyimpan banyak kisah yang membuat penasaran. Harmoni tergambar dengan berdirinya bangunan megah berupa hotel-hotel dan mall, tetapi mereka berada di area yang terpisah namun berhadap-hadapan. Ditambah dengan bangunan peninggalan kolonial Inggris yang juga dijaga sehingga membuat Penang seperti kaya rasa.

“Ini kota yang menyenangkan untuk ditinggali, tidak bising tetapi juga tidak sunyi”, bapak itu berusaha meyakinkan kami tentang alasan dia tetap tinggal menjadi warga Penang.

Seandainya kota-kota yang ada di Indonesia juga bisa seperti Penang, betapa kayanya khasanah arsitektur yang ada. Sayangnya tidak banyak yang tersisa karena keinginan untuk bisa dikatakan modern atau kota dunia. Padahal, akan lebih mendunia jika sejarah yang kaya itu dijaga dan dilestarikan oleh kita sendiri.

 

Harmony :3
Harmoni :3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *