Mamie's Blog

– notes of my thought and experience

“Gimana nih pak, orang-orang sudah pada lapar, gak ada makanan. Mana janjinya sesuai aturan yang ada?”

“Giliran kita yang telat tiket hangus, kalau mereka yang telat malah makan pun tidak dapat, bagaimana ini?”

Boleh dikata  ini wujud benci tapi rindu. Banyak sekali sudah keluhan-keluhan yang saya pernah dengan mengenai maskapai penerbangan berlogo singa ini. Tetapi, tetap saja terminal 1A di Bandara Soekarno Hatta tidak pernah kosong. Malam itu, tepat 1 Hijriah 1431 H sudah tidak ada lagi suasana saling memaafkan. Counter  penuh dengan orang yang kesal dan marah. Wajar, mereka sudah rela menunggu tidak pulang sebelum hari H untuk merayakan lebaran, malah harus dibiarkan menunggu dengan ketidak pastian.

Tiket saya tertera 17.30, saya meninggalkan kosan pukul 14.00, menuju ke stasiun Gambir untuk  ke bandara Soekarno Hatta. Jakarta memang lengang di hari itu. Sepertinya sopirnya malah jarang menginjak rem. Langit awalnya kelihatan cerah, tetapi sesampai di bandara malah mulai gelap. “Dikarenakan cuaca buruk, bandara ditutup untuk sementara”, pengumuman buruk yang disusul berita keterlambatan yang akan terjadi di semua jadwal penerbangan, bikin perut juga jadi gak enak. Mungkin lapar, tapi lebih kepikiran kapan bisa tiba di Makassar yah?

Cuaca buruknya sudah berakhir, tetapi tidak ada tanda tanda penumpang akan diberangkatkan.  Semakin panaslah suasana di gate 12 ini. “Mana makananya? itukan ada aturannya? ini sudah terlambat kasihan orang sudah pada lapar”, begitu kata-kata seorang bapak yang saya dengar meneriaki petugas maskapai tersebut. Sekilas, rasa kasihan saya timbul kepada petugas ini, dia juga cuma menjalankan tugas, terbatas kapasitas dan harus menghadapi orang yang marah.

Awalnya saya berniat untuk menuliskan unek-unek juga, soalnya masih belum punya nyali untuk marah-marah sama orang, apalagi sama petugasnya yang sudah berpeluh dingin karena tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan panas dari penumpang. Tetapi setelah saya mencari tahu undang-undangnya saya jadi malu sendiri.  kita pahamnya cuma istilah “delay” saja, pokoknya terlambat! padahal setelah saya mengecek ternyata keterlambatan yang dimaksud di undang-undang penerbangan itu ada kriteriannya juga. Dari situs hukum online saya malah membaca beberapa hal berkenaan dengan peraturan menteri perhubungan tentang ganti rugi sering kita tuntut dari maskapai penerbangan jika terlambat. Rupanya pengangkut dibebaskan dari tanggung jawab atas ganti kerugian akibat keterlambatan penerbangan sebagaimana dimaksud faktor cuaca dan/atau teknis operasional.

Nah, untuk kasus yang kemarin itu untungnya saya tidak ikut-ikutan marah atau menuntut sementara saya tidak paham. Hanya karena ketidak tahuan saya hampir saja membuat diri saya malu. Yah, sebaiknya memang kita harus paham dulu  sebelum kita berbicara. Dan sebenarnya saya pun agak ragu dengan petugas yang standby, apakah mereka paham? jika iyah harusnya mereka bisa menjelaskan bahwa cuaca buruk itu di luar tanggung jawab mereka. Tetapi apapun itu alhamdulillah saya akhirnya tiba dengan selamat di Makassar tepat pukul 01.00 di hari berikutnya. Lebih mending daripada harus tidur di bandara 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *