Mamie's Blog

– notes of my thought and experience

Capek sudah nonton berita. Isinya melulu tentang demo mahasiswa di penjuru daerah di Indonesia. Apalagi kalau bukan soal BBM. Bahan bakar minyak yang akan dikurangi subsidinya diganti ke anggaran yang lain. Apapun itu saya tidak mengerti tentang RAPBN. Atau istilah RAPBN-P

Saya cuma bisa bilang yang urus negara ini kurang cerdas. Mereka tidak seperti mama di rumah yang berusaha mengatur pengeluaran yang disesuaikan dengan rencana pemasukan yang diperoleh papa. Tidak secerdas, bagian keuangan di kantor yang mengatur prediksi pendapatan dan cost pengeluaran perbulan. Yang saya tahu adalah negara terusan defisit jika subsidi bbm diteruskan.
Entahlah saya awam dalam hal politik, karena itulah saya tidak mengerti kenapa ada juga yang bilang tidak setuju BBM naik tapi sumbangan untuk orang miskin disetujui. Dapat uang dari mana?

pic from google
pic from google

Semua ungkapan setengah-setengah. Siapa yang menganalisa secara serius? Tahunya cuma pas dekat waktu cadangan devisa habis baru kelabakan memutar haluan. Perencanaan jangka panjang tak lagi mantap.

Saya sempat tertegun, ketika seorang ibu diwawancarai di sebuah stasiun televisi. Ditanya bagaimana tanggapannya terhadap sumbangan yg akan diberikan sebagai pengganti kenaikan BBM. “Saya tidak setuju, itu semua membodoh-bodohi rakyat. Harusnya bangun saja sekolah yang layak, tidak usah kasih duit bikin kita jadi malas”

Pernahkah pemerintah dan wakil rakyat ini benar-benar memikirkan rakyat? Apa yang mereka butuhkan atau apa keluhan mereka? Pernahkah mereka berpikir tentang masa depan? Atau cuma berpikir, masa saya 5 tahun. Apa yang bisa saya peroleh untuk diri pribadi saya?

Mungkin juga rencana-rencana yang disajikan itu sangat indah angkanya di atas kertas, tetapi apakah pelaksanaannya dijamin sampai kepada masyarakat? tanpa korupsi? Aliran dana untuk program pun kadang terkikis-kikis hingga pada tujuannya itu pun sudah tipis.

Pertanyaannya lagi, apa yang diperjuangkan mahasiswa? Menolak BBM naik harusnya disertai solusi. Mereka harusnya masuk kuliah, membuat otaknya lebih encer, supaya dapat memikirkan bagaimana mengatur keuangan negara. Kalau cuma berpikir dangkal, ugal ugalan, mengganggu ketertiban dan kelancaran aktivitas umum,  pantas saja jika warga tidak setuju. Bukan menarik simpati malah menjadi lawan.

Negara yang saya pikir sama seperti satu perusahaan, atau lebih kecilnya sebagai satu keluarga, masih belum menampakkan pengaturan yang benar-benar membuat anggotanya tenang.

Tidak ada yang benar-benar berpikir tentang masa depan. BBM naik tidak akan lama lagi disusul dengan kenaikan-kenaikan yang lain. Lalu apa yang turun? Harusnya yang merasa diri tak mampu turunlah saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *