Mamie's Blog

– notes of my thought and experience

Sebenarnya saya kurang suka dengan cerita fantasi, cerita muluk-muluk yang kemungkinan besar tidak akan terjadi di dunia nyata. Tetapi karena pesona James Franco, yang menurutku macho, akhirnya saya menyempatkan waktu untuk menontonya di cinema XXI.

Peran James Franco sebagai Oz (Oscar Diggs) menurutku kurang pas, mungkin karena saya terlanjur menggambarkan sosoknya sebagai pria yang cool, pemberani dan jantan. Oz yang diperankan adalah seorang lelaki perayu, penakut bahkan cenderung pengecut. Tapi itu adalah karakter awal yang ditampakkannya. Dalam hatinya dia tetap punya sifat ksatria. Mungkin karena dia memiliki mimpi yang besar, ingin menjadi the great and powerful. Kalaupun dia melalui pertentangan bathin antara membela banyak orang atau mementingkan diri sendiri, namanya dongeng ending-endingnya pasti berakhir pada kebaikan yang menang, kejahatan bakal dikalahkan.

Oz the Great and Powerful
Oz the Great and Powerful

Sayangnya kita terbiasa melihat film, semuanya berupa penggalan-penggalan cerita yang akhirnya cuma bisa membuai rasa dan menenangkan kita seakan-akan berkata, “Tenanglah, jika kamu baik kamu pasti menang pada akhirnya”. Akhir? Siapa yang bisa menentukan akhir kecuali sutradaranya sendiri. Happily ever after sebenarnya menjauhkan kita dari kekuatan untuk menerima kenyataan jika tidak sesuai dengan harapan. Iyah kan?

Oz the great and powerful juga seperti itu. Saya pulang dengan senyum dalam hati. Bagaimana kebaikan itu bisa menang pada akhirnya. Bagaimana Oz berhasil mengalahkan si penyihir jahat yang bermaksud menguasai kota yang sama seperti julukannya. Tetapi setelah saya renungkan, apa yang terjadi jika saya melihat dari sisi Theodora (Mila Kunis). Gadis manis dan lugu yang “akhirnya” menjadi jahat dikarenakan harapan yang melambung terhadap janji-janji Oz. Bukanlah merupakan episode happy ending buatnya. Dia bahkan menjadi penyihir yang lebih jahat dari kakaknya, Evanora (Rachel Weizs), yang awalnya cuma memancing untuk menjadi sekutu bersamanya.

Jika Evanora akhirnya terusir dengan berwajah buruk rupa, itu memang sudah pantas. Lalu bagaimana dengan Theodora? Apakah perkataan bahwa yang baik hati akan bahagia selamanya itu berlaku untuknya?  Kebaikan hati yang ditonjolkan pada karakter Oz tiba-tiba pudar dalam pandangan saya setelah mengingat nasib Theodora. Perempuan yang tersakiti hati dan jiwanya. Oz tetap harus bertanggung jawab dan tidak boleh mengklaim dunianya bahagia karena kebaikan hatinya.

Episode hidup Theodora sungguh sangat menyedihkan. Keluguannya membuatnya sakit. Dan sakit membuatnya mendendam. Siapa yang salah?

Sepertinya akan ada lagi cerita “sambungan” dari  kisah Oz ini. Jadi jangan senang dulu, setiap episode hidup kita pasti akan ada kelanjutannya sebelum benar-benar kita menutup mata dan meninggalkan jazad. Selalu akan ada pertanyaan “Lalu apa?” setelah ini “Lalu apa?”. Oleh karena itu saya tidak akan muluk-muluk dengan istilah bahagia. Jika pun saya memilih bahagia itu saat saya menutup buku hidup saya. Selama masih berlangsung episode-episode kehidupan, saya tetap akan menikmatinya dengan berkata, lalu apa?

Yang pasti, terimakasih Oz, you are not the great tetapi sudah memberikan saya bahan renungan (lagi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *