Mamie's Blog

– notes of my thought and experience

Ternyata kalau apes memang tidak lihat-lihat tempat lagi yah, Tapi saya tetap percaya semua pasti ada hikmahnya

Setelah lama gak ke Makassar, akhirnya tanggal 10 Juli 2012 kemarin saya dengan alasan tugas akhirnya bisa pulang kampung kembali. Sebenarnya kerjaannya hari Kamis, tetapi kebetulan tanggal 11 Juli 2012 berlangsung pilkada di Jakarta dan kantor libur akhirnya saya sekaliankan saja waktunya biar bisa banyak waktu di Makassar.

Urusan pribadi ke Makassar memang banyak juga. Selain menengok Ji-Dan yang sekarang sudah di pesantren saya harus membersihkan barang-barang di rumah berhubung akan di kontrak oleh tetangga.

Agak ribet sebenarnya jika tidak memiliki kendaraan, apalagi dengan banyak tempat yang harus dikunjungi dalam sehari. Belum lagi tempat tinggal yang sekarang untuk akses angkutan kotanya masih belum terlalu memadai.

Hari itu, Sabtu, hari ke dua saya mengunjungi anak-anak di pondok yang beralamat di Moh. Tahir. Tetapi sebelumnya saya singgah ke rumah kakak dulu untuk silaturahmi. Setelah dari sana saya ke tempat Cindy di sekitar Jl. Gunung Latimojong. Nah setelah dari sana saya seharusnya naik taksi ke Moh. Tahir. Tepat di pinggir jalan, seorang tukang becak terlihat tergesa-gesa dan menyapa saya menawarkan jasanya. Saya bilang ke dia, tidak saya mau naik taksi saja karena jauh. “Jangan maki’, kebetulan saya mau ke sana paling setengah harga taksi yang kita bayar“.

Saya mungkin terlalu gampang percaya sama orang, karena berpikir biar sekalian akhirnya saya menerima tawarannya, tujuh setengah katanya. Dari Jalan G. Latimojong itu dia sudah mulai mengoceh. Ngomong tentang orang yang tidak akan berubah meski sudah di penjara. Wah .. dalam hati saya sudah mulai curiga. Sudah ada keraguan dalam hati sebenarnya tetapi saya tetap berusaha untuk berpikir positif. Mungkin saja dia memang dulunya jahat tapi sudah mau berubah.ย Dia menceritakan bagaimana dia masuk lapas karena membunuh orang. Sudah tidak nyaman buatku tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan selain berharap cepat sampai di tujuan.

Begitu tiba di Jalan Anuang, jalan yang mulai sepi kekawatiranku bertambah. Ini sepertinya ada apa-apanya, saya tahu saya seharusnya ke arah jalan Andi Tonro untuk bisa menuju ke jalan Moh Tahir. Tiba-tiba di jalan yang sepi itu, jalan Anuang dia berhenti kemudian dia bilang “Bu, turun maki’ disini saja, saya tidak mau ketemu dengan keluarga orang yang saya bunuh, nanti saya tidak bisa tahan emosi”

Lokasi Kejadian

Duh diturunkan di tempat yang sepi itu mengerikan, belum lagi si tukang becak ini sudah menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Akhirnya saya turun, dengan sabarnya saya bilang tidak apa apa. Begitu saya memberi uang Rp. 20.000,- dengan maksud agar dia berpikir saya memberikan lebih, dia malah marah. “Tidak cukup ini, jauh sekali harus 75.000“. Berarti maksudnya tujuh setengah adalah tujuh puluh lima ribu, tetapi itu pun harusnya tidak demikian, toh taksi tidak ada yang semahal itu dalam kota.

Saya sudah berpikir, ini orang memang jahat yah sudahlah daripada panjang persoalan saya akhirnya memberikan uang lagi. Dan itu pun dia tidak puas. “Ini masih kurang, ย lagi 100.000“, Oh my God.. ini sudah perampokan yang disertai ancaman. Dia bilang jangan membuat saya marah saya bisa melakukan hal yang sama seperti kemarin. Sudahlah berpikir saya membawa beberapa gadget di tas, beberapa ratus ribu rupiah di dompet akhirnya saya menyerahkan uang lagi sebesar seratus ribu rupiah. Dan saya bergegas meninggalkannya karena kuatir dia akan bertindak lebih lagi.

Miris memang, selama saya di Jakarta yang terkesan kota yang penuh dengan kriminalitas, Alhamdulillah saya sampai saat ini masih bisa merasakan keamanan kenyamanan, sementara di kampung sendiri justru malah mendapat musibah. Ternyata benar bukan tempat yang menentukan, kalau lagi apes yah dimana saja memungkinkan.

Tidak ada kejadian tanpa pelajaran penting di dalamnya. Saya mulai belajar untuk berhati-hati, tidak mudah percaya kepada orang walaupun soal kebaikan tetap berusaha baik kepada sesama. Yah.. mungkin memang rejekinya ada pada saya tetapi saya makin menyadari bahwa sendiri itu memang lebih berbahaya di mana pun itu. Semoga kejadian ini yang terakhir buatku dan tidak menimpa orang-orang lain. Aminnn

10 thoughts on “Dirampok di kampung sendiri itu menyedihkan!

  1. Haddeh ๐Ÿ˜ , untung Mamie ndak kenapa2.

    Btw, hampir sama kayak kejadian temanku, cara menawarkannya sama. Sampai ditempat yang sepi, dia diancam, diperlihatkan pisau. Alhasil hpnya melayang ke tangan tukang becak itu.

    1. iyah khie, alhamdulillah gak apa apa
      tapi sempat kaget juga masalahnya berpikir makassar itu seperti rumah sendiri, eh dapat apesnya malah di situ ๐Ÿ™‚

  2. Haddeh ๐Ÿ˜ , untung Mamie ndak kenapa2.

    Btw, hampir sama kayak kejadian temanku, cara menawarkannya sama. Sampai ditempat yang sepi, dia diancam, diperlihatkan pisau. Alhasil hpnya melayang ke tangan tukang becak itu.

    1. iyah khie, alhamdulillah gak apa apa
      tapi sempat kaget juga masalahnya berpikir makassar itu seperti rumah sendiri, eh dapat apesnya malah di situ ๐Ÿ™‚

    1. Alhamdulillah tidak sampai apa-apa daeng… yah berharap tidak terjadi sama orang lain. dan semoga yang jahat itu disadarkan.. aminnn

    1. Alhamdulillah tidak sampai apa-apa daeng… yah berharap tidak terjadi sama orang lain. dan semoga yang jahat itu disadarkan.. aminnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *