Uncategorized

Musim Gugur, Fuji dan Matsuyama Chiharu

Setidaknya ada yang saya yakini saat berada di gunung fuji, hidup pun merupakan perjalanan, naik dan kemudian akan turun, kembali ke awal

——–
Biasanya saya cuma menyukai musik enka, kata orang Jepang lagu-lagu ini cuma milik generasi tua saja. Seorang penyanyi enka sudah pasti mengenakan kimono saat melantunkannya. Beda pastinya dengan jaman J-PoP yang dibalut dengan fashion yang gak jelas bentuknya.

Walaupun terkesan mencemooh, tapi saya bangga bisa menyanyikan jenis musik ini. Sudah pasti tidak seperti penyanyi profesional Jepang dengan cengkok yang sangat kental. Apresiasinya mungkin seperti mendengar orang asing menyanyikan lagu keroncong. Begitu pula  mereka terhadap saya.

“Jangan naik mobil ojiichan yah, lagu-lagunya pasti enka”.
Kata teman yang sudah lama tinggal di negeri Sakura. Untunglah dari awal saya tidak ‘membenci’ enka, saya tetap berharap bisa menikmatinya walaupun yang lain mungkin bakal sakit kepala.

Mendaki gunung Fuji bukanlah dengan membawa ransel dan peralatan mendaki. Yang kami lakukan dulu adalah dengan mengendarai mobil. Saat itu bersama Yoshiharu Akashi, pimpinan yang sudah seperti orang tua bagi saya.
Pagi sekitar jam 8 berangkat dari kota Shizuoka, tiba tingkat yang bisa dicapai dengan mobil itu sekitar jam 12 siang. Kami memang tidak diperbolehkan naik lebih ke atas lagi karena sudah mendekati musim dingin, salju mulai tebal.

Sepanjang perjalanan album best of the best milik Matsuyama Chiharu mengalun. Saat itu adalah perkenalan pertama dengan lagu jepang jenis folk song dan saya langsung jatuh cinta.

Musim gugur adalah musim tercantik bagiku. Dahan-dahan dengan ikhlas merelakan daun-daunnya berjatuhan. Warna merah kecoklatan menunjukkan penyerahan diri mereka kembali ke alam.

Lagu-lagu ini menajamkan rasa dari keadaan yang ada di sekitar saya saat itu.
Berkesan sedih sebenarnya, tetapi menyimpan harapan yang besar pula.

Yakin bahwa setiap kehilangan itu merupakan awal penemuan kembali. Setiap kematian adalah bekal untuk hidup kembali. Dan setiap kesedihan adalah awal dari kebahagiaan.

Seperti menapak tilas setiap kejadian dalam hidup. Lahir, berkembang, mencapai puncak dan setelah itu akan turun kembali. That’s life, jinsei no tabidachi.

社長様、CDをもらってありがとうございました。
その旅立ちは何時までも心に止まっている

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *