Mamie's Blog

– notes of my thought and experience

Tersentak hati ini membaca kabar tentang Kisah Bang Maman dan Istri Simpanan di buku kelas 2 SD. Kisah kehidupan yang jadi bacaan anak-anak tentang sifat baik dan buruk. Masalahnya adalah cerita yang disajikan itu mungkin tidak sesuai dengan umurnya. Kelas 2 SD dengan kisah hidup yang ribet minta ampun itu sebenarnya bukan konsumsi yang tepat.

Masih banyak sepertinya sifat-sifat baik dan buruk yang bisa kita ambil dari keseharian di sekolah. Misalnya, meminjam tanpa mengembalikan, tidak menepati janji, atau bahkan tidak hormat kepada orang tua dan guru. Beberapa hal ini bisa menjadi sifat yang disampaikan untuk dihindari melalui kisah. Pun untuk sifat-sifat yang baik, menolong teman yang lagi kesusahan, memelihara lingkungan dan sebagainya.

Yang jadi pertanyaan, kenapa buku yang menjadi materi pendidikan di sekolah justru menyajikan kisah yang hanya layak dikonsumsi oleh orang tua saja? Apakah kita sudah terlalu termakan dengan cerita-cerita sinetron yang banyak disajikan di tivi-tivi sekarang ini?

Di tempat saya kost, ada seorang anak berusia 4 tahun. Setiap pagi dia menyaksikan sinetron yang mengisahkan tentang kehidupan konflik keluarga, bahkan sampai pernah tercetus melalui bibirnya yang mungil, ” Mamie, perempuan yang itu suka ganggu suami orang”

Oh My God, bagaimana saya harus menanggapinya?

Saya juga memiliki putra yang oleh karena keadaan harus terpisah saat ini. Memang dalam hati kecil saya merasa bersalah kepada mereka karena tidak mendampingi. Tetapi saya tetap mengusahakan untuk komunikasi dan keterbukaan sebagai hal yang utama dari kami bertiga. Hal ini untuk menyiasati keadaan yang memang harus dihadapi.

Pendidikan menurut saya adalah tanggung jawab semua pihak.

Masih teringat ketika saya datang dan mengeluh kepada  pemilik warnet yang ada di sekitar rumah. Saya minta kerjasama dari dia khusus untuk sama-sama peduli tentang anak-anak. Saya paham tentang keinginan mereka meraup untung dengan memanfaatkan kecanduan anak-anak bermain game, dan saya tidak bisa melarang itu. Makanya saat itu saya cuma meminta kerjasama untuk tetap mengingatkan dan menghentikan mereka jika adzan berkumandang.

Saya yakin kekuatan keluarga memang punya peran penting dalam pendidikan anak-anak, tetapi kita juga harus paham tentang pengaruh lingkungan yang berlomba-lomba menguasai anak-anak kita. Sekolah dan lingkungan tempat dia bermain punya peran sangat penting mungkin sebagai orang tua kita yang punya kewenangan untuk memilihkan untuk mereka.

Peran kita sebagai orang tua semakin berat, saya pribadi merasa tidak maksimal mendampingi anak-anak saya, hal ini dikarenakan tuntutan kebutuhan yang mengharuskan saya juga untuk menafkahi mereka. Konsekwensinya waktu sangat terbatas untuk mereka. Tetapi saya berharap dengan kedekatan dalam hal komunikasi yang terbuka bisa menjadi dasar bagi saya untuk menyelami dunia yang sementara mereka geluti.

Sekolah pun jadi pilihan yang sangat penting, sekolah bagi saya sebenarnya bukan yang ngetop di urutan teratas pada dinas pendidikan berdasarkan peminat dan kualitas pendidikan formilnya. Saya lebih memilih sekolah yang mengajarkan anak-anak saya tentang kehidupan, sehingga fokus dengan pengembangan pribadi dan akhlak, karena menurut saya itu yang utama.  Terus terang saya sudah tidak tertarik untuk menyekolahkan anak saya pada sekolah formil. Terlalu didikte dan lihatlah hasilnya, materi-materi pelajaran pun entah muatannya dipikirkan sampai ke manfaat ke anak-anak kita.

Akhirnya apakah kita sadar bahwa kita bekerja keras untuk memberi racun ke anak-anak kita tanpa kita sadari 🙁

 

 

4 thoughts on “Kisah Bang Maman, sebuah renungan

  1. Bukan hanya film yg perlu ada sensor. tapi buku2 pelajaran untuk anak2 sekolah apalagi yg usianya masih sangat dini maka perlu badan sensor buku pendidikan, pembesar penddikan di negeri ini wajib melakukan hal2 itu.
    Pendidikan yg palng hakiki adalah bagaimana anak2 mengenal keidupan ini secara bijak, betul kata Mamie, lalu berbuat yang terbaik demi memberi manfaat bagi sesama. Apalagi kita tahu kehidupan ini tidak patut disamakan dengan sinetron yang sering tampil di tivi2. Menurut saya, sinetron yg ada dari dulu sampai sekarang sangat tidak mendidik. semoga tayangan itu digantikan dgn yg lebih bermutu sesuai semangat pendidikan.
    Demikian. semoga terjadi perubahan kualitas. Amin

    1. kadang orang lebih milih keuntungan bisnis daripada peduli efek negatif yang bisa mempengaruhi orang lain, dan lupa bahwa hal tersebut adalah tanggung jawabnya.. yah semoga semua kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua

  2. Bukan hanya film yg perlu ada sensor. tapi buku2 pelajaran untuk anak2 sekolah apalagi yg usianya masih sangat dini maka perlu badan sensor buku pendidikan, pembesar penddikan di negeri ini wajib melakukan hal2 itu.
    Pendidikan yg palng hakiki adalah bagaimana anak2 mengenal keidupan ini secara bijak, betul kata Mamie, lalu berbuat yang terbaik demi memberi manfaat bagi sesama. Apalagi kita tahu kehidupan ini tidak patut disamakan dengan sinetron yang sering tampil di tivi2. Menurut saya, sinetron yg ada dari dulu sampai sekarang sangat tidak mendidik. semoga tayangan itu digantikan dgn yg lebih bermutu sesuai semangat pendidikan.
    Demikian. semoga terjadi perubahan kualitas. Amin

    1. kadang orang lebih milih keuntungan bisnis daripada peduli efek negatif yang bisa mempengaruhi orang lain, dan lupa bahwa hal tersebut adalah tanggung jawabnya.. yah semoga semua kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *