Uncategorized

The Raid, bukan film yang asik

Berbeda? Wajar kan.

Ditengah hiruk pikuk pujian tentang film ini, saya malah merasa The Raid bukan film yang pantas untuk ditonton. Utamanya bagi  orang –orang yang berhati selembut  diriku *eheum*

Lalu kenapa nonton kalau memang gak suka?

Pertanyaan bagus, ini juga karena merasa terjebak. *maaf yah yang sudah mengajak nonton ini*

Sebenarnya niatnya untuk sekedar melewatkan waktu yang rada gak tau mau ngapain di akhir minggu. Tiba-tiba aja ada tawaran “Nonton yuk, nanti saya yang traktir!” hmmm.. good idea on a good moment.. siapa nolak diajakin nonton gratis lagi.

The Raid, judul ini sama sekali nda menampakkan ada aura-aura Indonesianya, wajar saja jika saya berpikir bahwa ini adalah film produksi luar.

Hm.. baru kali ini mau nonton film Indonesia di bioskop, katanya

Loh! Emangnya ini film Indonesia?  Terkaget-kaget tapi dalam hati saja sih, takut nanti yang ngajak merasa tersinggung, dan merasa bahwa itu joke saja untuk menggoda, tetapi begitu lihat scene awal dimana diceritakan sosok Rama yang diperankan oleh Iko Uwais ini digambarkan sebagai pria yang sempurna, sholat iya, beladiri ok, sayang istri iyah… what a perfect husband.

Rrrrr… baru deh sadar ini memang film buatan negeri sendiri.

Tetapi sebenarnya bukan menganggap enteng film dalam negeri, tetapi memang begitu adanya, saya kurang suka.

Ketidak sukaan bertambah, bukan karena ceritanya, tetapi terlalu banyak mengumbar kekerasan yang menurutku sangat tidak wajar untuk dibuat sebagai bahan tontonan. Alhasil dari sepanjang film ini diputar lebih banyak tutup mata dengan jantung yang berdebar-debar.

Walaupun mata tertutup tetapi telinga mendengar, otomatis terbayang segala aksi yang ada pada cerita, penembakan, penikaman, pukulan dan tendangan.. enough!

Saya suka film action tetapi kalau terlalu vulgar jadinya tidak nyaman. Saya memang bukan pengamat film, apalagi untuk memberikan review-review film berkualitas. Saya cuma salah seorang penikmat film yang merekam apa yang dipampangkan di layar lebar itu dan masuk kedalam pikiranku melalui panca indra mata dan telinga.

Jadi maaf saja kalau saya menilai film ini tidak layak untuk ditonton bagiku pribadi. Dan tidak akan menerima ajakan nonton film yang sama lagi, seperti saya menolak ajakan teman-teman kantor baru-baru ini.

Sorry but I think it is ok to be different ^_^

 

 

18 Comments

Leave a Reply to erwin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *